Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Agustus 2014

Cerpen Air Mata Gaza


Ketika dinding-dinding membungkammu dan peluru perkasa berlarian menghujatmu
Darah segar merintih membuatmu tersungkur pada lekuk jemari yang berduri
Langit mengutuk pada jemari yang berduri
Sumpah serapah bernyanyi lihai di cakrawala

Palestina,
Dedaunan itu mencoba tersenyum menghiburmu, tapi di bibirmu yang tajam hanya tersungkur pedih yang mengiris sayap-sayap senyummu.

Langit berduka memayungi luka yang bersiramkan bom
Laungan dan isakanmu terdengar jelas di gendang telingaku
Ketika darah segar menghujanimu, namun kamu tetap berdiri tegak dengan melantangkan suara yang menggelagar hingga pelosok semesta alam.

"Allahuakbar!! Allahuakbar!!"

_ikaNur_

Kontributor:
Nitha Ayesha, Asma Abdilah, Astina Riatut, Budiyanti Anggit, Choirunnisa Ulfa Azmi, Daisy Wu, Dinu Chan, Elnina Zee, Embun Tsauqi, Farah Febriani, Hafizhah Hanifiah, Hastira Soekardi, Hijrah Billalogica, Ika Nurmawati, Joko Ade, Michaelmas, Muhammad Ridha Al-Maula, Mulyono Ardiansyah, Najma Al-Firdausy, Nazri Z. Syah, Neny Suswati, Nurbagus S, Oryzha ofa, Puput Andalusi, Rahayu Hestiningsih, Rere Zivago, Reza Ibnu Muslim, Sas, Yoira Nala, Zizi Aisyah, Zulfa, Zulfach Al Ghifary, dan Zulham Anugrah.

Dengan membeli buku ini, sahabat telah ikut berpartisipasi meringankan beban saudara-saudara kita di bumi Palestina. Sahabat juga bisa menyalurkan donasinya untuk saudara-saudara kita di Gaza melalui program Pena Indis Peduli Gaza melalui rekening BNI an Anita Kurniawati no Rek: 0339809744, seluruh donasi akan disalurkan melalui KNRP (Komite Nasional untuk Rakyat Palestina). Harap konfirmasi ke 082113883062, setelah melakukan transfer. Yuk, tunjukkan kepedulianmu!!

Judul Buku : Air Mata Gaza
Penerbit : Pena Indis
Editor : Nitha Ayesha
Layout dan Desain Cover : Fandy Said
Ukuran Buku : 14 x 20 cm
Tebal : 176 halaman
Harga Buku : Rp 40.000,00 (diluar ongkir)

Royalti disumbangkan untuk peduli kemanusiaan di Gaza, Palestina
(Pre Order = 6 Agustus 2014 s/d 20 Agustus 2014)

Cara pemesanan ketik : 


Ketik: Judul Buku_Nama Pemesan_Alamat Lengkap_No.Hp_jumlah pesanan
Kirim ke: inbox fb Pena Indis atau Pena Indis II atau ke 082113883062 (Fandy Said)

Toko Buku Online Pena Indis: www.indhisbook.com

Sabtu, 06 Juli 2013

Lukisan Bintang Senja


Malam ini langit begitu gelap nan pekat, tak ada satu pun cahaya yang mampu membuatku diam terpesona. Ribuan bintang yang biasanya menemani malam dengan segala keindahannya, dengan segala bentuknya yang memiliki makna tersirat, kini tak menampakkan wajahnya. Udara malam berhembus cepat, menyapa rambutku yang ikal. Aku menatap hamparan langit nan luas dengan tatapan kosong.
Namaku Dewa, aku memiliki saudara kembar yang bernama Dewo. Kami sangat berbeda. Mengapa begitu? Karena sejak lahir aku terlahir cacat. Lebih tepatnya lagi cacat mental. Entahlah, mengapa hanya aku yang terlahir cacat sedangkan saudara kembarku sama sekali tidak cacat. Akan tetapi aku bahagia memiliki saudara kembar seperti Dewo, dia begitu menyayangiku dengan tulus. Ia tak pernah malu memiliki saudara kembar sepertiku.
            “Dewa, kamu ngapain di sini sendirian?” Dewo menyapaku sambil mengelus rambut ikalku.
            Percuma, aku ingin menjawab pasti Dewo tidak akan mengerti apa yang aku katakan. Walaupun aku tahu kak Dewo dan ibu adalah orang yang paling mengerti dan memahamiku.
            “Kau tahu Dewa? Aku sangat bahagia dan bangga memiliki saudara kembar sepertimu. Aku tahu kau anak yang hebat, meski mereka menilaimu sebelah mata. Aku tahu kau telah memiliki puluhan karya lukisanmu. Dewa, maafkan aku yang terkadang tidak memahami sinyal yang kau tujukan untukku.” Dewa menatapku dengan tatapan penuh kasih sayang, ia mendekapku erat.
***
            Usiaku kini sudah lima belas tahun, namun aku masih seperti anak SD. Meskipun aku tahu aku tidaklah seperti Dewo yang tumbuh sebagai remaja yang sangat gagah dan tampan, kecerdasannya yang mampu membuat semua orang yang berada di dekatnya merasa bangga padanya. Aku bangga memiliki saudara kembar seperti dia. Dia yang dengan sabar mengajariku menulis dan membaca. Kini aku pun sudah bisa membaca dan menulis dengan baik, walau tidak sempurna, tapi aku bersyukur.
            Hari ini adalah hari yang dinantikan Dewo. Ia mengikuti lomba Sains, lebih tepatnya mengikuti lomba Biologi. Ketika Dewo mulai berbicara dan menjelaskan ilmu Biologi itu, semua orang terpana melihatnya. Bukan karena ketampanannya, akan tetapi karena dia yang begitu lihai menjelaskan serta memperagakan apa yang ada di depannya. Ia pun juara satu.
            “Wah Dewo, kamu hebat! Selamat ya, aku salut sama kamu.” Sheina memuji Dewo, perempuan itu sejak SMP memang suka dengan Dewo.
            “Selamat ya Dewo, anakmu hebat sekali Rosa. Dia memang anak yang cerdas, tapi tidak seperti Dewa yang hanya seperti patung.” Ibu Desi memuji Dewo sekaligus menjatuhkanku.
            “Tutup mulut Anda! Dia jauh lebih hebat dari saya, jangan pernah Anda berkata seperti itu.” Dewo membentak bu Desi, salah satu orang tua murid temannya Dewo.
            “Sudah Dewo, kamu tidak perlu emosi. Biarkan orang lain menghina atau memandang Dewa sebelah mata, tapi aku yakin suatu hari nanti Dewa akan menjadi orang hebat. Sama sepertimu.” Ibu menasihatiku.
            “Halah, anak kayak gitu aja diharapin banget. Anak bodoh, cacat, nggak berguna lagi, hidup lagi! Autis.” Kak Selvi berkata kasar di dekat telingaku.
            “Tutup mulut kamu Selvi!” ibu menampar Selvi.
            “Justru kakak yang jauh lebih bodoh dari Dewa! Selama ini memang kakak sudah melakukan apa untuk ibu, untuk keluarga kita? Bukankah selama ini kakak hanya bisa menghamburkan uang untuk kepuasan dan nafsu kakak? Sadar kak, kakak tuh jauh lebih hina daripada Dewa!” bentak Dewo.
            “Cukup! Kalian tidak perlu bertengkar di sini!” ibu membentak Dewo dan kak Selvi. Suasana menjadi hening.
            Aku mengerti apa yang mereka bicarakan. Aku bisa merasakan, walau mungkin mereka berfikir aku sama sekali tidak mengerti. Aku ingin berlari secepat mungkin tapi aku tak bisa, seolah ada yang menahan kakiku untuk melangkahkan kaki dan berlari cepat. Aku ingin menangis, tapi untuk apa aku menangis? Aku ingin menjerit, tapi di tenggorakkanku seperti ada yang mengganjal.
***
            Sesampai di rumah ternyata ayah sudah menunggu kami. Lebih tepatnya lagi menunggu Dewo, menunggu berita yang menggembirakan. Lalu apa yang bisa aku banggakan? Entahlah, mungkin Allah sedang mempersiapkan rencana yang jauh lebih indah.
            “Gimana Dewo, kamu berhasil Nak?” tanya ayah penasaran.
            “Alhamdulillah Yah, juara satu.” Dewo tersenyum hangat.
            “Wah, selamat ya. Ayah yakin kamu pasti menag.” Ayah menepuk bahu Dewo.
            “Hai, Dewa! Apa yang bisa kamu berikan untuk Ayah? Kamu ini sama sekali tidak berguna di rumah ini, hanya bisa menyusahkan orang lain.” Ayah menatapku tajam..
            “Kenapa Ayah dan kak Selvi nggak pernah bisa nerima Dewa dengan baik? Kenapa kalian selalu saja menghina dan memandang sebelah mata? Akan aku buktikan kepada kalian, bahwa Dewa adalah anak yang hebat. Siapa pun yang menyakiti Dewa, maka aku yang akan melindunginya. Sekalipun itu keluargaku sendiri yang melakukan. Camkan itu!” Dewo membanting buku yang sedari tadi ia pegang, lantas bergegas menuju kamarnya.
            Aku melangkahkan kaki ke taman belakang. Aku rebahkan tubuhku di atas rerumputan yang lembut. Menyaksikan burung-burung camar yang mengepakkan sayapnya sambil menari indah. Menyaksikan warna jingga yang melukiskan senja. Aku bahagia setiap aku melihat ke luar sana. Menyaksikan senja serta menatap hamparan langit yang indah penuh pesona. Itulah caraku untuk melepaskan semua rasa sesak yang aku rasakan, juga untuk tetap bersyukur dengan yang Maha mencintai.
            “Dewo, ibu boleh masuk Nak?” ibu mengetuk pintu kamar Dewo.
            “Kenapa Bu?” tanya Dewo.
            Ibu langsung menghampiri Dewo dan menggenggam erat tangan Dewo.
            “Nak, ibu percaya apa yang tadi kamu ucapkan. Suatu hari nanti pasti Dewa bisa menjadi orang hebat. Kau tahu? Beberapa minggu yang lalu ibu menemukan lukisan yang sangat indah sekali, walau ibu tidak tahu apa maknanya.” Ibu menatap Dewo dengan tatapan mata yang bercahaya.
            “Aku sudah sering melihat lukisan Dewa, Bu. Sejak aku masih SD dia memang sangat suka melukis.” Dewo tersenyum manis.
            “Iya ibu percaya Nak. Di mana Dewa sekarang? Dia nggak ada di kamarnya, ibu kira dia ada di sini.” Ibu menanyakan keberadaan Dewa.
            “Aku juga tidak tahu Bu, coba kita cari keluar. Siapa tahu dia ada di taman belakang, dia sangat suka tiduran di sana Bu.” Dewo mengajak ibu ke taman belakang.
            Sebelum ibu dan Dewo ke taman belakang ia menuju kamarku. Melihat semua lukisan yang kubuat juga tiga puisi yang kubuat. Aku sudah banyak melukiskan tentang sesuatu dan salah satu lukisan yang paling aku sukai ialah lukisan bintang senja, aku juga membuat puisi yang berjudul lukisan bintang senja. Lalu ibu membacakan puisiku yang berjudul lukisan bintang senja.
            Aku melihat warna jingga yang meghamburkan warnanya dengan segala keindahannya, jingga yang menggambarkan lembayung senja penuh kehangatan. Aku menatap hamparan langit luas penuh pesona, menyaksikan ribuan bintang bersinar terang menemani sang malam. Jika aku bisa mengambil bintang itu untuk menemani senja, maka akan kuambil bintang itu dengan tanganku sendiri. Bintang yang menemani senja dengan kehangatannya, sehingga mampu membuat yang memandangya penuh pesona, menatap penuh takjub dan bahagia. Dengan bintang senja semua akan terdiam, semua luka dan duka yang tersimpan dalam lubuk hati akan terhapus tanpa sisa.
            “De.. Dewo baca ini baik-baik.” Ibu memberikan kertas itu kepada Dewo.
            Mereka menangis setelah membaca puisi dan lukisan yang kubuat. Lalu segera menemuiku.
            “Dewo, ternyata kamu di sini.” Ibu dan Dewo mendekapku penuh kehangatan dan kasih sayang.
            “Sayang, kamu hebat. Semua lukisanmu sangatlah indah. Terutama lukisan ini.” Ibu menyodorkan lukisan yang kubuat.
            “Puisimu juga bagus Dewa, sungguh pandai kau dalam bermain kata.” Dewo memelukku erat.
***
            Keesokan harinya ibu dan Dewo mengirimkan lukisan dan puisi yang kubuat melalui media. Semua lukisanku diperlihatkan, dipajang dengan rapi. Semua mata memandang penuh takjub. Dan sehari setelah berlalu, media pun ramai. Bukan ramai karena berita selebritis, tapi karena lukisan yang kubuat. Mereka yang melihat memuji karyaku, dan ada turis yang melihat lukisan bintang senja. Ia tertarik dan ingin membelinya dengan harga yang sangat dahsyat. Juga dengan puisiku, mereka terharu membaca puisiku. Semua saluran televisi menayangkan berita itu. Dunia seolah menjadi milikku. Tapi dunia menjadi milikku seutuhnya ketika aku masih bisa berada di dekat ibu dan Dewo.
            “Kalian lihat kan Yah, Kak. Dewo itu hebat, dan hari ini aku bisa buktikan itu!” Dewa tersenyum bahagia.
            Begitulah kuasa-Nya. Aku tersenyum manis pada lembayung senja yang melukis sore. Aku tersenyum bahagia melihat dedaunan yang melambai-lambai. Aku menatap penuh pesona ketika sang malam ditemani ribuan bintang yang melambangkan senyum kepadaku. Aku merasakan hembusan udara yang begitu lembut dan segar lagi. Aku menyaksikan bunga-bunga indah merekah indah penuh warna lagi wangi semerbak. Aku melihat lukisan bintang senja di langit sana, di temani dengan burung-burung yang mengepakkan sayapnya dengan indah dan begitu lihainya.
***
The End

Selasa, 30 Maret 2010

Pengantin Surga

Pengantin Surga

oleh: Yuni Astuti

Saat itu kudengar namamu disebut oleh malaikat dalam mimpi,
Kau adalah pengantin abadiku.
Kuterbangun dari mimpi,
Kutemukan dirimu menantiku di ujung jalan,
Dengan sekeranjang batu dari surga….

“Maa syaa Allah! Sepagi ini sudah dimulai? Keterlaluan!” Asma’ tergopoh menuju ruang tengah, melihat situasi di jalanan depan rumahnya. Ia menggigit bibir, menahan perih dalam hatinya. Memikirkan anak-anak didiknya di masjid samping rumahnya. Bagaimana hafalan mereka, sudah sampai juz berapa.


Asma’ terkejut saat pundaknya ditepuk oleh adik lelakinya. Usia mereka terpaut dua tahun. Asma’ adalah gadis tujuh belas tahun.

“Hai Asma’! Apa yang kaulakukan di sini. Sudah lewat waktu dluha tetapi kau masih diam saja. Bagaimana murid-muridmu!”

Asma’ tersentak. Ia merasa diingatkan, seharusnya ia mengurusi murid-muridnya, bukannya malah terbengong saja melihat pemandangan biasa di luar rumah. Ya, hari ini, Israel kembali menyerang Gaza untuk ke sekian kalinya. Nampaknya pemboikotan sudah tak begitu mempan bagi warga Gaza, mereka tetap bertahan. Mempertahankan bumi yang di dalamnya terletak masjid yang disebut dalam al-Qur’an surat al-Isra.

“Kau benar wahai Firaz! Baiklah aku akan segera menemui murid-muridku!” tak lama kemudian, Asma’ masuk ke kamarnya, mengenakan cadar lantas melangkah keluar rumah dengan lapang. Sesekali terdengar dentuman senjata-senjata Israel, namun itu tak menyurutkan langkahnya menemui murid-muridnya di masjid seperti biasanya.

Anak-anak kecil usia lima sampai sepuluh tahun berbaris menantinya di teras masjid—yang bangunannya sudah tak utuh lagi—menanti Asma’ sang guru. Di wajah mereka tampak semburat sinar keperkasaan tanpa sedikitpun rasa takut. Asma’ telah menanamkan benih-benih keberanian dalam jiwa-jiwa mereka, sehingga tatkala Asma’ menghampiri mereka, berebut satu persatu dari anak-anak kecil itu berteriak, “Ummi kapan kita berperang!”
“Ummi, kita harus mempertahankan tanah kaum Muslimin ini…” “Tak adakah Ummi, saudara kita dari negeri-negeri kaum Muslimin lainnya yang mendengar teriakan kita meminta bantuan?”

Asma’ menitikkan airmata di balik cadarnya, ia begitu terharu mendengar permintaan murid-muridnya untuk berjihad melawan kafir penjajah. Mereka masih sangat muda, namun pemikirannya sudah sangat jauh melesat melebihi anak-anak lain seusia mereka. Perang dan kematian bukan lagi menjadi sesuatu yang menakutkan. Asma’ sering menceritakan, bahwa jiwa para syuhada itu akan terus hidup dan masuk surga atas izin Allah. Jika kita menolong agama Allah maka Allah akan menolong kita dan meneguhkan kedudukan kita.

“Ummi….Ummi…….!!!” teriak mereka. Asma’ lalu mengajak mereka masuk ke masjid, menenangkan mereka semuanya yang jumlahnya selalu tak pernah berkurang justru semakin bertambah. Sepuluh orang kini.

“Dengarkan Ummi. Meski jumlah kalian sepuluh orang, Allah akan melipatgandakannya menjadi ratusan bahkan ribuan sehingga kafir penjajah itu akan kewalahan menghadapi kalian.”

Kata-kata itu semakin mengobarkan semangat jihad mereka. Asma’ kemudian mengecek hafalan mereka. Yang paling besar, Umar, paling pendiam di antara semuanya sudah hafal 30 juz. Dua hari yang lalu ia membacakan seluruh isi Al-Qur’an dan kini ia hanya ingin segera keluar masjid untuk melawan Israel. Usianya, sembilan tahun.

***
Di tengah kesunyian sepertiga malam, Asma’ menemui Allah. Airmata tak henti-henti mengucur dari sumbernya, ribuan kali ia berdoa agar kaum Muslimin dapat memenangkan peperangan dengan kafir penjajah itu. Tubuhnya semakin kurus sebab makanan pokok sudah sangat susah didapatkan. Harus sembunyi-sembunyi melewati lorong-lorong ke Mesir yang kini perbatasan Jalur Gaza-Mesir diblokade oleh pemerintah Mesir. Ya Allah, di manakah saudara-saudara kami? Di manakah bagian tubuh kami, apakah mereka tak merasakan sakit seperti yang kami rasakan? Ya Allah, sudah matikah hati mereka sehingga tak dapat lagi merasakan perih pada salah satu anggota tubuhnya? Atau mata mereka telah buta sehingga tak dapat melihat pembantaian ini? Ataukah telinga mereka tuli sehingga tak dapat mendengar jerit tangis kami? Apakah tangan mereka telah lumpuh sehingga tak dapat mengulurkan tangan menolong kami? Ya Allah….apakah kaki mereka telah patah sehingga tak dapat berlari menyongsong kami? Di mana mereka? Kelak hanya kepada-Mulah kami kan mengadu di Hari Pembalasan, di sana keadilan kan ditegakkan. Ya Allah…Engkaulah pemilik masjid al-Aqsha maka Engkau pulalah yang akan menjaganya….

“Wahai Asma’!” Firaz telah berdiri di sampingnya. “Mengapa engkau menangis?” “Hai Firaz! Tidak bolehkah aku menangis di hadapan kekasihku?” Firaz yang masih sangat belia itu lalu menceritakan pengalaman ia sehari ini melempari tentara Israel dengan batu-batu tajam. Seorang tentara yang lengah terkena dahinya sehingga darah mengucur deras dan paniklah ia. Itu mengacaukan laju tank mereka, membuat Firaz dan teman-temannya semakin semangat melempari mereka dengan batu.

“Asma’, sudah siapkah engkau menikah?”

Asma’ tentu saja kaget mendengar pertanyaan itu. Ia belum sempat memikirkan masalah itu. Ia hanya memikirkan bagaimana caranya murid-muridnya bisa menjadi mujahid-mujahidah pemberani tanpa rasa takut sedikitpun. Menikah baginya adalah suatu gambaran mimpi yang sulit untuk diwujudkan. Dengan siapakah ia akan menikah, ia tak tahu.

“Menikahlah Asma’! Aku akan menjadi walimu.”

Asma’ teringat Ayahnya yang tewas dibantai tentara Israel sepuluh tahun lalu ketika ia masih kecil. Sedangkan ibunya sudah syahidah ketika melahirkan Firaz. Mereka kini hidup sebatangkara.

Sinar mata Firaz begitu tajam, menghujamkan keyakinan di hati Asma’. Menikah? Dengan siapa?

“Kau akan kunikahkan dengan sahabatku, Abdurrahman namanya. Dia penembak jitu. Setiap batu yang ia lemparkan, nyaris selalu tepat mengenai tentara Israel. Dia kuridhoi agama dan akhlaknya. Insya Allah dia akan menjadi ayah bagi para mujahidmu. Bersamanya, kau akan ke surga, Insya Allah. Menikahlah Asma’, sesungguhnya aku ingin sekali melihatmu bahagia. Kita harus mempersiapkan banyak mujahid agar bisa melanjutkan perjuangan kita…” kini Firaz menepuk pundak Asma’.

Asma’ hanya diam. Seakan-akan ia pernah mendengar nama yang tadi Firaz sebutkan, namun entah di mana. Hanya sayup-sayup…

Firaz tersenyum, “Diammu adalah persetujuanmu.”
***

Tiga hari lagi pernikahan akan dilangsungkan. Asma’ telah membuat sebuah baju pengantin dengan tangannya sendiri. Sejauh ini ia belum pernah bertemu dengan Abdurrahman. Lelaki itu, bersama adiknya selalu berangkat pagi untuk melawan tentara Israel dan pulang tengah malam dengan hasil yang luar biasa. Banyak tentara Israel yang terluka oleh batu-batu yang dilemparkan mereka.

Menanti mujahidnya itu datang, Asma’ senantiasa bersabar mendengar kabar yang menyedihkan sekaligus membahagiakan. Satu persatu murid-muridnya berkurang karena mereka menjadi syuhada perang. Termasuk Umar, pagi tadi ia ditemukan dalam kondisi tubuh terkoyak karena jenazah yang sudah ditembak tentara Israel dimakan oleh anjing-anjing mereka. Airmata Asma’ menetes haru. Kini, semakin sedikitlah muridnya, mereka yang sudah menghafal al-Qur’an dalam usia dini, gugur sebagai syuhada. Maka hari bahagia itu pun datanglah. Asma’ duduk di dalam kamarnya sementara di masjid sedang dilangsungkan akad nikah. Berarti, pagi ini Abdurrahman tidak melempari tentara Israel dengan batu. Berdebar hati Asma’ menanti kedatangannya, yang belum pernah dilihatnya tetapi jika ia sudah mengetuk pintu, artinya dia adalah seorang lelaki yang harus ia cium tangannya. Harus ia patuhi sepenuh hati. Dan dialah Khalifah rumah tangganya.

Waktu terus merayap, hingga waktu dluha telah habis namun pengantinnya tak kunjung mengetuk pintu kamarnya. Lama sekali….

Hingga ahirnya pintu diketuk, Asma’ membukanya ternyata Firaz datang dengan kepala menunduk. Tangan kanannya memegangi perut bagian kirinya “Hai Asma…” suaranya lirih.

Asma’ menahan nafas, menanti kalimat Firaz selanjutnya. “Katakan wahai Firaz!”

“Abdurrahman sudah menjadi suamimu…”

Asma’ mengucap hamdalah.

“Akan tetapi….Allah telah memintanya darimu. Apakah engkau ridho? Selepas akad nikah tadi, dengan ganas tentara Israel masuk dan menembaki siapapun yang ada di masjid. Aku pun…. ah….” ia roboh ke lantai. Tangan kanannya terlepas dari perutnya yang mengucurkan darah segar.

“Masya Allah!” Asma’ merangkul saudaranya, sehingga penuh darahlah baju pengantinnya yang putih dan bersih itu. Rupanya Firaz masih mampu berlari menuju Asma’ untuk memberitahukan kabar gembira bahwa Abdurrahman telah menjadi suami Asma’.

“Laa ilaaha illallah…Muhammad Rasulullah….Allahu Akbar…..” tak lama kemudian, mata Firaz terpejam dengan tenang.

Belum sempat bagi Asma’ untuk menangis, ia melihat dua tentara Israel mendobrak paksa pintu rumahnya. Melihat Asma’ begitu anggun tanpa cadar, membuat dua tentara bengis itu terbakar nafsu hendak menodai pengantin itu. Asma’ begitu marah, hingga rasanya ia ingin balas menyiksa tentara Israel tersebut. Mereka telah membunuh seluruh keluarganya, termasuk suami yang belum pernah dilihat sekalipun wajahnya. Beberapa bongkah batu di dekat Asma’ seakan berbicara padanya, “ambil aku! Lemparkan aku pada mereka, biarkan aku yang menerkamnya atas izin Allah!”.

Asma’ pun meraihnya dan melemparlan tepat di kening seorang tentara. Ia panik. Darah mengucur di wajahnya. Lalu seorang lagi ia lempar dengan batu yang lain hingga keadaannya sama seperti temannya. Mereka meraung. Asma’ segera keluar rumah dengan berlari, ia ingin ke masjid menemui jasad suaminya. Ia ingin mencium tangannya untuk pertama dan terakhir meski dalam keadaan tak bernyawa. Ia terus berlari… Namun, sebelum Asma’ bertemu dengan suaminya di masjid itu, seorang tentara Israel yang sedang berkeliaran di jalan menembaknya dari belakang.

Benda tajam rasanya memotong-motong seluruh tubuhnya. Lama kelamaan ia lemas dan pengantin itu pun roboh ke tanah, sedikit lagi saja untuk sampai ke masjid.

Sebelum nafas terakhirnya terhembus, sebelum dua kalimat syahadat ia senandungkan, ia melihat Abdurrahman untuk pertama kalinya sedang tersenyum padanya dan mengajaknya berjalan berdua. Hanya berdua.[yN]


Serang, 8 Maret 2009
^ketika Allah telah membeli jiwa dan harta kita dengan surga-Nya^

sumber : http://www.islamuda.com/?imud=rubrik&menu=baca&kategori=2&id=537