Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 April 2014

KHALIFAH UMAR BIN ABDULAZIZ, SEORANG ULAMA SEJATI YANG MENJADI PEMIMPIN


Hari itu cuaca teramat panas, matahari memancar terik sejak pagi, anak Khalifah Umar bin Abdul Azis yang paling bungsu sehabis bermain sejak pagi berasa sangat lapar lalu meminta makanan daripada ibunya. Tetapi ketika itu isteri Khalifa, Fatimah belum memasak sesuatu apapun.

“Pergilah berjumpa dengan ayahmu di baitulmal, mungkin dia dapat memberikan kamu sesuatu yang dapat dimakan,” kata Fatimah.

Anak itupun berlari lari riang dan lucu mencari ayahnya. Ketika itu ia melihat ayahnya Khalifah Umar bin Abdul Azis masih bersama beberapa orang pegawainya untuk menimbang sejumlah buah apel untuk dibagikan kepada mereka yang layak menerimanya.

Tiba tiba masuk seorang buah hati Khalifah yang kecil itu menuju tumpukan buah apel, lalu mengambil sebuah apel dari tumpukkan dan lalu hendak memakannya. Khalifah Umar bin Abdul Azis melihat anak kesayangannya mengambil dan khalifah segera merebut paksa buah apel itu dari mulut anaknya hingga buah hatinya menangis lalu berlari pulang ke rumahnya.

“Wahai Amirul Mukminin, anakmu itu sedang lapar, toh kita masih mempunyai stok banyak buah apel untuk diberikan kepada orang banyak, sekiranya hilang satu buah, tentu tidaklah menjadi kerugian,” kata Sahal, adik Khalifah Umar bin Abdul Azis yang turut berada dan menyaksikan kejadian tersebut.

Sahal, tidak sampai hati melihat keponakannya yang sedang lapar itu menangis ketika sebuah apel yang hendak dimasukkan kedalam mulut yang direbut oleh ayahnya.

Khalifah Umar Abdul Azis hanya berdiam diri mendengar kata kata adiknya ini. Hatinya sendiri ketika itu sedang gelisah. Dia terpaksa memilih antara keridhaan Allah dengan keinginan anak kesayangannya. Dia memilih mengutamakan keridhaan Allah.

Selesai kerjanya di baitulmal, Khalifah Umar pulang segera ke rumah. Ditemui anak bungsunya yang sedang lucu lucunya, dan dia memeluk dan mencium buah hatinya, tapi dia mencium harumnya buah apel pada mulut si bungsu anaknya, Khalifah Umar segera memanggil Isterinya , Fatimah.

“Wahai Fatimah, darimana kamu dapatkan buah apel untuk anak kita?” Tanya Khalifah Umar bin Abdul Azis.

“Anak itu sedang kelaparan tadi siang , dan ia ingin sekali memakan buah apel, lalu akhirnya saya belikan sebuah di pasar, apel itulah yang dimakannya untuk menahan rasa laparnya.” Jawab Fatimah.

Dengan wajah lapang dan sambil menangis Khalifah Umar bin Abdul Azis pun bercerita kejadian tadi siang terkait dengan anak bungsunya dan ia berkata,”Wahai isteriku Fatimah, ketika saya merebut buah apel itu dari mulut anak kita, sungguh, saya merasakan seperti merengut jantung saya sendiri. Tetapi apa daya karena saya sangat takut akan api neraka yang akan membakar anak kita, jadinya saya rebut buah apel itu dari mulutnya.

Begitulah seorang hamba Allah, seorang Khalifah , mu’min ,muttaqin, yang mencontohkan kehati hatiannya , yang mengharapkan seluruh keluarga bahkan rakyatnya untuk mencapai surga Allah, beliau sangat khawatir barang barang haram memasuki aliran darah di keluarganya.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (Fathir: 28)


sumber: https://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

Selasa, 15 April 2014

( KELUARGA ) ANAK YANG KUTU BUKU DAN LUAS WAWASAN


Cinta buku dibangun tidak dalam satu hari. Gemar membaca dibudayakan tidak dalam sekejap mata. Ada fase atau tahapan tertentu yang harus dilewati oleh orang tua sebelum main perintah sepihak saja. Ingatlah, bahwa anak-anak itu adalah peniru ulung. Mereka tak butuh banyak kata-kata, tapi contoh teladan yang sering dilihat menjadi panutan untuk ditiru.

Ada langkah tertentu yang harus diambil bila memang orang tua peduli terhadap perkembangan minat baca anak. Pertama, jangan terlalu banyak perintah. Lakukan kebiasaan membaca itu pada diri orang tua sendiri. Berat? Tentu. Itu juga yang dirasakan oleh anak-anak anda ketika orang tua main perintah untuk membaca. Sesuatu yang awalnya tidak suka dilakukan oleh anak-anak.

Kedua, jadikan diri anda sebagai pihak yang membaca dengan keras. Biarkan anak-anak menyimaknya.

Kalau bisa, antarkan anak anda ke peraduan dengan membacakannya cerita sahabat-sahabat nabi, keutamaan berperilaku baik, atau cerita fabel dengan sisipan kisah-kisah hikmah.

Tak ada anak yang tak suka didongengi oleh orang tuanya. Selain menanamkan kecintaan membaca pada diri anak, aktivitas ini juga membangun kedekatan emosi antara orang tua dan anak. Langkah awal ini bila dilakukan secara kontinyu, insya Allah akan memberi dampak positif pada anak untuk mulai gemar membaca tanpa tekanan. Kapan pun si anak melihat buku, maka ia akan berusaha untuk membaca dan mencerna isinya.

Ketiga, seringlah mengajak anak ke toko buku. Bila keuangan sedang menipis, perpustakaan kota bisa menjadi salah satu alternatif tempat untuk dikunjungi. Biasakan anak-anak berada di lingkungan dengan banyak buku dan orang-orang yang sedang membaca di sana. Usahakan sedini mungkin melakukan kegiatan positif ini agar tidak terlalu susah untuk menanamkan cinta membaca pada diri anak.

Ingat, teladan itu jauh lebih efektif daripada sejuta perintah tanpa ada contoh yang bisa ditiru si anak. Jangan berharap anak cinta membaca ketika orang tua memilih sibuk di depan TV. Di titik inilah sikap dewasa orang tua dibutuhkan untuk bisa berbuat sesuai dengan apa yang dikatakannya. Semoga anak-anak kita menjadi generasi yang cinta membaca, insya Allah.

Arahkan gemar dengan membaca buku Agama Islam, agar kuat keimanannya ketika ia tumbuh dewasa, tanamkan kebanggaan atas agamanya keunggulan Islam sebagai the way of life.


sumber: https://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

( KELUARGA ) KEAJAIBAN SENTUHAN KASIH SAYANG TERHADAP ANAK KECIL


Bagi anak, pelukan yang penuh kelembutan merupakan sesuatu yang menenangkan dan dapat membantu mengoptimalkan proses tumbuh kembangnya. Sayangnya, menurut pemerhati anak, Roostien Ilyas, orang tua masa kini sudah mulai jarang memberikan pelukan untuk anak, terutama seiring dengan pertambahan usia anak. “Mereka lebih memilih mengungkapkan kasih sayang dengan cara memenuhi kebutuhan anak, seperti membelikan mainan, menyekolahkan ke sekolah terbaik, serta ucapan lewat kata-kata,” katanya.

Beberapa penelitian klinis dan psikologis yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pelukan antara orang tua dan anak dapat meningkatkan kecerdasan otak anak, merangsang produksi hormon oksitosin yang memberikan perasaan tenang dan bahagia, serta membantu mengeluarkan racun dan zat berbahaya dari otak. Dan manfaat pelukan ini tidak mengenal usia, karena dapat dirasakan sejak seseorang dilahirkan hingga beranjak dewasa.

Melly Puspita Sari, Psi, psikolog yang juga penulis buku The Miracle of Hug, menyarankan untuk memberikan pelukan pada anak minimal 8 kali sehari untuk memberikan energi sehingga anak bisa beraktivitas dan mengoptimalkan potensinya. “Pelukan yang penuh kelembutan juga merupakan salah satu cara untuk membantu menyelesaikan masalah, terutama pada anak yang berperilaku unik,” kata Melly. Jadi, jangan segan-segan untuk memulai kebiasaan berpelukan sejak dini.

Bahkan menurut Edward R.Christopherson.Ph.D, psikolog klinis dari Children’s Mercy Hospital and Clinics di Kansas City, AS, “Pelukan lebih efektif dari pujian atau ucapan sayang karena membuat anak merasa dicintai dan dihargai, bukan karena mereka telah melakukan sesuatu tapi karena dirinya apa adanya.”

Lalu, adakah cara khusus untuk memeluk anak? Ya, ternyata ada!

Andrea Weiner, Ed.D., penulis buku More Than Saying I Love You: 4 Powerful Steps That Help Children Love Themselves, memberikan tip memeluk anak, “Berlututlah atau menunduk hingga Anda dan si kecil sama tinggi. Kemudian dekap ia dengan kedua tangan Anda menyelimuti seluruh tubuhnya hingga dadanya menyentuh dada Anda dan lakukan setidaknya selama 3 detik. Ini akan menyimbolkan kedekatan atau bentuk ungkapan heart-to-heart yang tak terlupakan.”

Begitu juga saat anak melakukan kesalahan, contohnya saja yang seringkali anak lakukan di rumah adalah mencorat-coret tembok. Hal pertama yang dilakukan orang tua adalah menanyakan alasan anak mencorat-coret tembok dengan intonasi yang lembut. Kemudian baru menegaskan bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang tidak baik dilakukan. Terakhir, sebelum diberikan media untuk bercorat-coret di atas kertas, Anda bisa memeluknya terlebih dahulu. Hal ini dilakukan sebagai tanda bahwa Anda tetap mencintainya meskipun tadi intonasi berbicara Anda meninggi. Ayah-Ibu, mari peluk anak Anda sekarang

Mengusap-usap dan membelai rambut kepalanya atau menciuminya, seperti kata Sayyidatina Aisyah r.anha, bahawa Nabi s.a.w. menciumi Al-Hassan dan Al-Husin, di hadapan Al'aqra bin Habis yang hairan lalu berkata :

"Ya Rasulullah , saya mempunyai sepuluh anak, tak seorangpun yang pernah ku cium seperti engkau ini," maka Rasulullah s.a.w. dengan tajam memandangnya, seraya bersabda "sesiapa yang tidak memiliki rasa rahmat dalam hatinya, tidak akan dirahmati oleh Allah s.w.t."

Sayyidatina Aisyah r.anha juga meriwayatkan : bahawa datang seorang Badwi kepada Rasulullah s.a.w. :Kalian suka benar menciumi anak, sedang kami tidak pernah melakukan yang demikian itu. Maka Rasulullah s.a.w. segera membalas "Apakah yang hendak kukatakan bila rahmat sudah hilang tercabut dari seseorang."

Baginda s.a.w. selalu menggembirakan hati anak-anak, dan bila datang seorang membawa bingkisan, berupa buah-buahan misalnya, maka yang pertama diberinya, ialah anak-anak kecil yang kebetulan ada di majlis itu, sebagai yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Sunniy dan Al-Imam At-Thabrani ra.


sumber: https://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

Senin, 31 Maret 2014

MEMBANGUN KELUARGA SEBAGAI TEMPAT HATI BERLABUH


Sebuah keluarga yang menentramkan menjadi impian bahkan bagi seburuk- buruk manusia. Disanalah dia tercetak menjadi pribadi seperti apa, dan tergambar dengan bagaimana cara dia menghadapi hidup dan kehidupannya selanjutnya. Dan hanya keluarga yang memiliki dan melandaskan segalanya hanya kepada Allah SWT sajalah, yang akhirnya akan menemukan arti sejati dari apa yang disebut dengan kerukunan dan kebahagiaan.

Jauhkanlah kemarahan dan cuaca neraka ketika kita ada di dalamnya. Sejuknya sebuah pengertian dan kestabilan diri dalam mengontrol emosi, menjadikan keluarga terasa bagai oase kecil yang mewujud nyata dari sebuah kasih sayang Sang maha kuasa.

Maka terbiasakanlah kelembutan dan kasih sayang hadir disana. Karena bagai sebuah oase hidup, keluarga akan menjadi tempat yang sangat dirindukan untuk kembali, ketika dimanapun jasad kita berada.

Komunikasi yang sehat dalam rangka berikhtiyar menjaga keutuhan dan kebersamaan antar keluarga adalah juga mutlak diperlukan. Maka jangan suguhkan kata- kata sampah ataupun raut muka yang tidak menyejukkan disana. Perbanyaklah dzikir pada amalannya walaupun diremehkan kehadirannya mengucap Bismillah ketika makan, minum bersama.

Undanglah Rahmat Allah dengan membaca serta mengkaji Kitabullaah, bershalawat, membaca sirah Nabi dan orang-orang shaleh terdahulu bersama-sama.

Undanglah barokah, beristighfar berjamaah, berdoa bersama secara rutin dalam keseharian bervisikan membina kebersamaan dalam Iman dan Islam.

Hawa negatif sama sekali tidak akan memperbaiki keadaan kecuali hanya semakin memperburuknya. Tidak ada orang yang bisa mengerti dan mau dimengerti dengan bahasa yang negatif, dan sekasar apapun manusia, namun diapun pasti berharap untuk ditegur dan diperlakukan dengan sangat santun.

Hindarilah tayangan tidak mendidik, tidak perlu televisi yang mengajarkan bagaimana berkeluarga yang baik dengan menghabiskan waktu bercengkrama di depan televisi dalam waktu yang lama.

Sekali lagi, jika pengertian dan kasih sayang telah kita niatkan kepada keluarga kita atas nama Allah, maka tidak akan ada yang sulit untuk melakukanya. Disinilah akhirnya kualitas kita sebagai manusia dan anggota keluargapun teruji. Dan bagaimana akhirnya kualitas tersebut, kita bisa menjadi saksi atas diri kita sendiri.


sumber: https://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839