Dari Abu Mas’ud Al Badri ra. Bahwa Nabi saw. Bersabda, “Barangsiapa membaca dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah pada suatu malam, niscaya dua ayat itu akan mencukupinya.” (HR. Bukhari-Muslim). Maksud dari sabda beliau, “Niscaya dua ayat itu akan mencukupinya” adalah mencukupinya dari shalat malam di malam tersebut. Pendapat ulama lain mengatakan: niscaya dua ayat itu menjadi penangkal dari syetan di malam itu. Ada juga pendapat ulama lain yang mengatakan: dijaga dari segala bencana. Pendapat ulama yang lainnya: dicukupkan dengan keutamaan dan pahala.
Senin, 28 Juli 2014
AKHIR KEHIDUPAN BAGI MANUSIA DAN DIMULAINYA HARI AKHIRAT
Rasulullah SAW Bersabda, "Dajjal datang kepada umatku dan hidup selama 40 tahun, lalu Allah mengutus Isa bin Maryam, kemudian ia mencari Dajjal dan membinasakannya. Kemudian selama 70 tahun manusia hidup aman dan damai, tak ada permusuhan antara siapapun. Sesudah itu Allah meniupkan angin yang dingin dari arah negeri Syam (kini Suriah). Maka setiap orang yang dalam hatinya masih ada Iman meskipun sebesar atom, pasti menemui ajalnya. Bahkan jika seandainya seseorang dari kamu masuk ke dalam gunung, pasti angin itu mengejarnya dan mematikannya. Maka sisanya tinggal orang-orang jahat seperti binatang buas (fii khiffatit thoiri wa ahlaamis sibaa'), mereka tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran. Dan syetan menjelma pada mereka manusia lalu berkata: Maukah kamu mengabulkan? Manusia berkata: Apa yang akan kamu perintahkan kepada kami? Syetan lalu memerintahkan kepada mereka ( Menukar Iman) agar menyembah berhala (Hingga Imannya batal), sedang mereka hidup dalam kesenangan. Kemudian ditiuplah sangkakala. Tapi seorangpun tak akan mendengarnya kecuali orang yang tajam pendengarannya. Dan orang yang pertama kali mendengarnya yaitu seorang laki-laki yang mengurusi untanya. Nabi bersabda: Maka matilah semua manusia. Kemudian turunlah hujan seperti hujan gerimis. Maka keluarlah dari situ jasad manusia (dari kubur-kuburnya). Kemudian ditiup lagi sangkakala, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu. Lalu dikatakan kepada mereka: Wahai manusia, marilah menghadap kepada Tuhanmu dan merekapun berada di Mahsyar karena mereka akan diminta tanggung jawabnya. Kemudian dikatakan kepada mereka, pergilah kamu karena neraka telah dinyalakan, lalu dikatakan lagi: Dari berapakah? Lalu dikatakan lagi: Dari setiap seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang. Begitulah keadaannya pada hari anak dijadikan beruban dan pada hari betis disingkap (hari Qiyamat yang menggambarkan orang sangat ketakutan yang hendak lari karena huru-hara Qiyamat)." (Hadits Riwayat Muslim).
ZAKAT FITRAH SEBAGAI PEMBERSIH AMAL PUASA
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, ia berkata:
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ ، وَالرَّفَثِ ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ ، فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ
"Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perkataan buruk, dan sebagai makanan untuk orang-orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat 'Ied, maka terhitung sebagai zakat yang diterima; dan barangsiapa menunaikannya sesudah shalat, maka terhitung sebagai sedekah sebagaimana sedekah lainnya." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, dishahihkan Imam al-hakim. Namun yang lebih kuat statusnya adalah hasan)
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ ، وَالرَّفَثِ ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ ، فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ
"Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perkataan buruk, dan sebagai makanan untuk orang-orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat 'Ied, maka terhitung sebagai zakat yang diterima; dan barangsiapa menunaikannya sesudah shalat, maka terhitung sebagai sedekah sebagaimana sedekah lainnya." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, dishahihkan Imam al-hakim. Namun yang lebih kuat statusnya adalah hasan)
KETUPAT LEBARAN DAN MERAJUT TALI PERSAUDARAAN
Tanpa ketupat, lebaran terasa kurang afdhol. Mungkin itu yang dirasakan oleh sebagian orang di kampung saya. Ketupat memang sudah menjadi salah satu ciri khas lebaran. Satu atau dua hari menjelang lebaran, para keluarga sudah banyak yang mulai mempersiapkan masakan yang satu ini. Mulai dari membeli atau menganyam kulit ketupat sendiri, memasukan beras ke dalamnya, tak ketinggalan sayur dan semur daging sebagai lauk yang menemani ketupat tat kala disantap. Hari puasa terakhir, kami berbuka dengan ketupat buatan ibu di rumah.
Beberapa hari menjelang lebaran, saya melihat beberapa orang membawa satu ikat daun kelapa muda. Daun kelapa yang berwarna kuning itu kemungkinan besar akan dianyam menjadi kulit ketupat, untuk selanjutnya digunakan sendiri atau dijual kembali. Hasilnya mungkin lumayan untuk menambah pemasukan.
Dalam perjalanan ke kantor, saya melihat seorang ibu sedang asyik menganyam daun kelapa menjadi kulit ketupat ditemani anaknya yang masih balita yang juga asyik bermain dengan daun kelapa maupun dengan kulit ketupat yang sudah jadi. Di samping ibu tersebut, terlihat sang suami yang sedang menunggui usahanya, tambal ban, menanti kedatangan pelanggan. Di hadapan ibu tadi, ada sebuah meja kecil. Di atasnya terlihat beberapa puluh kulit ketupat yang sudah jadi dan siap untuk dijual.
Membuat kulit ketupat dengan menganyam daun kelapa bukanlah keahlian saya. Ketika pernah diajari membuatnya, jari-jari tangan saya terasa kaku. Di rumah, ibu juga tak pernah membuatnya sendiri. Mungkin lebih praktis bila membeli yang memang sudah jadi. Tinggal mengencangkan kulit yang masih longgar, lalu diisi beras, kemudian direbus, dan ditunggu hingga matang.
Di setiap lebaran, tali silaturahmi kembali dirajut bak anyaman daun kelapa membentuk ketupat. Bagian-bagian yang masih longgar dikuatkan agar menjadi rapat, sehingga beras yang dimasukkan tidak keluar. Hubungan antar kerabat, tetangga, atau pun sahabat yang mungkin agak longgar, di hari lebaran kembali disambung. Satu sama lain saling mengunjungi dan bertandang ke rumah secara bergantian untuk menyambung rasa. Limpahan rahmat pun berkumpul di dalamnya. Semoga.
Menebar senyuman saat berpapasan. Saling bersalam-salaman saat berjumpa. Memohon maaf atas segala kesalahan yang terjadi. Memperbaiki keadaan di masa lalu. Dan memuainya dari hari ini yang fitri.
Bagi kerabat, tetangga, atau sahabat yang rumahnya tidak berjauhan, sangat mudah untuk mengunjungi mereka. Sedangkan untuk bersilaturhami ke kampung halaman, ke kediaman kawan serta sahabat yang cukup jauh dan membutuhkan biaya yang cukup besar, tidak semua orang bisa melakukannya. Alternatif lain pun menjadi pilihan. Menggunakan teelpon, mengirim bingkisan, kartu ucapan, email, atau sms, kiranya bisa dilakukan. Yang terpenting, di balik semua itu, hati masih terjalin, meski raga berpisah jauh.
Sebuah SMS saya terima dari seorang kawan…
Jika hati sejernih air jangan biarkan ia keruh
jika hati seputih awan jangan biarkan ia mendung
jika hati seindah bulan hiasi ia dengan iman
selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir batin
Minal aidin wal faidzin
Taqobbalallaahu minnaa wa minkum.
sumber: https://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839
Syarat Menjadi Pejuang Hamas
Mau jadi anggota Izzudin Al-Qassam? Ini dia syaratnya...
SYARAT BAGI WARGA ASING YANG INGIN MENJADI ANGGOTA MUJAHIDIN ELITE AL QASSAM / HAMAS PALESTINE
Foto: MUHAMMAD ABU SULAIMAN (Hafidz Al- Quran/ Mujahidin Al Qassam/ Sayap Mujahidin HAMAS Palestine).
Izuddin Al Qassam merupakan Sayap Mujahidin HAMAS yang berada di barisan terdepan Jihad Fisabilillah di Palestina, Bagi siapa yang ingin Berjuang membela Islam bersama mereka, maka Anda harus harus mengikuti Syarat-Syarat sebagi berikut ;
1. HAFAL AL QURAN (WAJIB UNTUK SEMUA ANGGOTA MUJAHIDIN ELITE AL QASSAM / HAMAS ASLI PALESTINE)
2. WAJIB SHALAT BERJAMAAH
3. Mendapat Izin dari kedua orang tua
4. Mendapat Izin dari ketua Masjid tempat tinggalnya, serta tidak pernah Meninggalkan Shalat Subuh selama 3 Bulan Berjamaah.
5. TIDAK MELAKUKAN MAKSIAT DAN DILARANG MENGHISAP ROKOK.
6. Wajib Belajar Tafsir Al-Quran dari Guru-guru atau Ulama.
7. Wajib Membaca 1 Juz Al-Quran sehari.
8. Wajib Menghafal 40 Hadis Arba'in (Imam Nawawi).
9. Berpuasa Sunnat dan Bertahajud.
10. Tahap Kecerdasan Tinggi.
11. Senantiasa Hadir di Majelis Ilmu (Mengikuti Pengajian Agama Islam).
12. Mengamalkan Zikir Harian.
sumber: https://www.facebook.com/KumpulanSejarahIslam
Langganan:
Postingan (Atom)

