Tampilkan postingan dengan label sahur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sahur. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Juli 2014

SEORANG OB YANG BERBAGI MAKAN SAHUR


Kali ini saya seolah mendapat peringatan dari-Nya. Sebuah pelajaran yang diberikan oleh seorang petugas kebersihan (office boy) di kantor tempat saya bekerja. Lebaran tahun ini saya kebagian bertugas. Artinya, saya tidak bisa mudik ke Pekalongan, rumah mertua. Istri saya sudah mudik lebih awal, seminggu sebelum Lebaran, dengan menumpang kereta api. Menghindari lonjakan penumpang yang biasanya terjadi pada hari-hari mendekati Lebaran. Itu juga berarti saya sendirian di rumah.

Rupanya, ada kawan office boy yang mengetahui itu. Saya mengenalnya karena sering mengikuti salat wajib berjamaah di masjid dekat kantor kami. Suatu malam, saya tidak kebagian jatah sahur. Di kantor kami, setiap malam sebelum pulang, ada jatah sahur bagi karyawan, baik bagian redaksi maupun office boy.

Petugas sekuriti yang biasa membagikan jatah sahur tersebut meminta maaf seraya bilang bahwa makanan sahur sudah habis. ”Nggak papa, Pak,” tegas saya kepada petugas itu. ”Saya bisa beli di luar”.

Rupanya, kawan office boy saya tersebut melihat adegan itu. Setiba di tempat parkir, saya dipanggil olehnya. Dengan tergopoh, dia menghampiri saya yang sudah siap tancap gas motor untuk keluar parkir.

”Napa, Mas?” tanya saya.
”Ini buat sampeyan,” ucapnya sambil memberikan bungkusan nasi jatah sahur.
”Lha, sampeyan?” Saya menanyakan jatahnya sendiri.
”Wis, Mas. Bawa saja,” ujarnya meyakinkan. ”Saya nanti bisa masak sendiri (sembari menyebutkan salah satu merek mi instan),” lanjutnya.
Saya tak kuasa menolak. Bukan karena kemaruk, tapi saya tak mau menghalanginya mencari pahala kebaikan. Apalagi di bulan suci Ramadan.

Setelah berterima kasih, saya bergegas pulang. Saya malu sekali. Saya tahu penghasilan office boy itu tak seberapa. Namun, kali ini dia mengajarkan saya banyak hal. Bahwa kadang saya masih berlebih-lebihan dalam beberapa hal.

Di sebuah kedai makanan, saya membelokkan kendaraan ke sana. Berhenti, membeli makanan. Jatah dia dan beberapa nasi yang saya beli saya berikan ke petugas keamanan di lingkungan perumahan saya.

Ramadan segera berpamit. Saya tentu tak mau melewatkan momen obral pahala dari Allah pada bulan suci ini. Dalam hati saya mendoakan keberkahan buat kawan tadi. Kompor di dapur menyala, saya siap merebus mi instan. Bersiap sahur. Bersiap puasa untuk mereduksi segala ”penyakit hati.” Bersiap perang melawan hawa nafsu, yang ternyata sulitnya bukan main. Ampunilah segala dosa-dosa kami ya Rabb… By Rekan Eko Prasetyo


sumber: https://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

DIBALIK TIPE MANUSIA BERMAKAN SAHUR DALAM RAMADHAN


Mas Joko, sudah dua hari ini piket malam. Pak Danang dan keluarganya sudah bangun sejak pukul 2.00, langsung sahur dan tak sampai 1 jam mereka sudah tidur lagi. Sementara mbak Tari sebenarnya pukul 3.15 sudah bangaun, tapi hanya matikan alarm dan tiduran lagi hingga akhirnya benar-benar tertidur pulas. Lain lagi dengan Om Yanto, bujangan satu ini memang sengaja tidak bangun sahur. Menurutnya dia kuat puasa tanpa harus sahur. Hampir sama dengan Om Yanto, Om Nana yang suka begadang, menukar sahurnya dengan cara makan dulu sebelum tidur, agar tak perlu ‘repot-repot’ bangun untuk sahur.

Puasa tanpa sahur, bisa jadi puasanya tetap sah apabila sudah niat sejak malamnya, sebab berbeda dengan niat, sahur memang tidak menjadi syarat sahnya puasa. Tapi tidak mungkin Rosululloh menjadikan makan sahur itu sebuah sunnah apabila tidak ada ‘rahasia’ dibaliknya.

Sahur sebenarnya bukanlah sekedar urusan makan dan minum. Ada banyak hal yang bernilai ibadah yang bisa kita lakukan di waktu sahur. Ketika terbangun, tidak mungkin kita langsung menyantap hidangan. Biasanya kita masih merasa ngantuk hingga tak berselera untuk makan. Sambil menunggu selera makan kita muncul, atau menunggu makanan dan minuman selesai disiapkan , kita bisa sholat tahajud terlebih dahulu. Sebenarnya bangun sahur ini kesempatan yang bagus sekali untuk melatih kita bangun malam. Jika diluar Ramadhan kita merasa berat, maka di bulan Ramadhan ini kita bisa jadikan sebagai latihan. Dengan latihan selama sebulan penuh, semestinya kita akan menjadi terbiasa untuk bangun dan sholat malam di bulan-bulan berikutnya. Bukankah pola hidup kita terbentuk dari sebuah kebiasaan yang kita lakukan.

Bagi yang belum bisa melepaskan diri dari menonton televisi, acara santap sahur bisa kita gunakan sambil menambah ilmu dan wawasan keagamaan kita. Ada saluran televisi yang membuat acara khusus yang bisa menambah ilmu agama kita, yang tidak ada di luar Ramadhan. Tayangan seperti apa, itu tergantung pada pilihan kita, apakah tayangan yang bersifat tontonan ataukah tuntunan.

Rosululloh menyunahkan untuk mengakhirkan waktu sahur kita. Kenapa? Salah satu hikmah dibaliknya adalah, dengan mengakhirkan waktu sahur kita, maka kita tidak akan tertinggal untuk sholat subuh berjamaah di masjid maupun mushola. Ketika waktu imsak datang, meski masih bisa kita gunakan untuk makan maupun minum, namun setidaknya ini adalah rambu bahwa waktu subuh , batas dimulainya puasa sudah dekat. Jeda antara sahur dan subuh yang pendek, bisa kita gunakan untuk membaca Al Qur’an sambil menunggu datangnya waktu shubuh. Dan jika azan sudah dikumandangkan, jangan sampai lupa untuk melaksanakan sholat sunah fajar, sholat sunah yang lebih baik dibanding dunia dan seisinya. Hal ini menjadi susah apabila kita tidak mengakhirkan sahur. Jarak yang panjang antara sahur dengan waktu shubuh, membuat kita menunggu dengan bersantai-santai atau tiduran yang seringnya malah menjadi tidur beneran, hingga akhirnya sholat subuhpun kesiangan.

Jadi, apakah anda akan bangun sahur malam nanti? Kita bisa saja kuat menjalankan puasa tanpa harus makan sahur. Tapi bagiamanapun sahur adalah hak badan kita. Ibadah puasa tidaklah sama seperti sholat yang tidak boleh melakukan gerakan-gerakan atau aktifitas lain kecuali sholat itu sendiri. Akan berlipat ganda pahala puasa bagi orang yang berpuasa dan tetap melakukan pekerjaan-pekerjaan rutinnya dibanding mereka yang melewati puasa hanya dengan tidur dan berdiam diri. Kegiatan dan ibadah kita akan lebih khusyuk jika kondisi badan kita sehat dan fit. Dan salah satu cara menjaga kondisi badan tetap sehat adalah dengan makan sahur.

Dan bagi yang sudah rutin bangun sahur, apakah sahur kita hanya sekedar makan dan minum? Seharusnya tidak. Jangan lewatkan kesempatan baik ini dengan sia-sia. Gunakan waktu sahur ini untuk mencari keberkahan, sekaligus menambah amalan-amalan. Bukankah setiap amal di bulan Ramdhan akan dilipat gandakan pahalanya? By Rekan Abisabila


sumber: https://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839