Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Juli 2014

MENDULANG PAHALA DAN KEUTAMAAN RAMADHAN


Mengingat betapa besarnya pelipatgandaan pahala dan banyaknya peluang kebaikan di bulan Ramadhan, maka ramadhan haruslah menjadi momen mendulang kekayaan (pahala) bagi kita semua. Pundi-pundi pahala kita yang selama 11 bulan isinya tidak seberapa, maka di bulan ini harus segera dipenuhkan hingga sesak. Untuk itu kita harus pandai-pandai mendulangnya. Tentu kita tahu bahwa Ramadhan adalah bulan di mana pahala setiap amal dilipatgandakan. Pahala amalan sunnah seperti amalan wajib di luar Ramadhan, dan pahala amalan wajib dilipatgandakan menjadi 70 kali lipat. Subhaanallah.

Dalam kondisi normal (bulan biasa), pahala membaca al-Quran itu seperti hadits berikut:

Ibnu Mas’ud berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Alquran ), ia akan mendapatkan satu kebaikan yang nilainya sama dengan 10 kali ganjaran (pahala). Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR Tirmidzi).

Jadi tiap satu huruf yang kita baca memiliki 10 pahala. Dalam kalimat basmalah saja ada 19 huruf, berarti membaca basmalah ketika membaca al-Quran sama dengan 190 pahala. Bayangkan kalau kita membaca satu ayat, satu halaman, satu lembar, satu juz, atau satu al-quran (30 juz). Sungguh tidak terbayang betapa banyaknya pahala yang kita dapatkan. Itu pun baru di luar ramadhan, lalu bagaimana dengan membacanya di dalam bulan Ramadhan dimana dilipat gandakan berlipat-lipat ?

Sepertiga malam biasa doa kita diijabah dalam shalat tahajud, dalam bulan ramadhan lebih utama lagi dua kali lipat. Karena perpaduan dua waktu mustajabah, bila kalbu yakin dan jernih terjaga ibadah insya Allah. Kemudian dengan hari jumat yang merupakan hari barokah, akan bertambah dibulan Ramadhan.

Nabi Saw menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya, beliau bersabda, "Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan atas kalian untuk berpuasa padanya. Di bulan itu, dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang terhalangi dari kebaikan yang ada padanya, berarti ia benar-benar terhalangi dari kebaikan." (Hadits shahih, riwayat Ahmad dan An-Nasai, dari Abi Hurairah).

Setiap perbuatan baik yang dilakukan seorang Muslim akan diberi balasan pahala dari sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, kecuali ibadah puasa. Ibadah puasa itu untuk Allah, dan Allah yang akan membalasnya. Orang yang berpuasa itu telah meninggalkan makan, minum dan syahwat-rya demi Allah semata. Dan bagi orang yang berpuasa akan diberkan dua kegembiraan, yaitu kegembiraan pada saat berbuka, dan kegembiraan ketika kelak ia berjumpa dengan Tuhannya. Juga bau mulut orang yang berpuasa, di sisi Allah, lebih harum dari minyak wangi kasturi. (Berdasarkan hadits riwayat Imam Bukhari- Muslim).

Yaa Robb, jagalah kami agar istiqomah dalam ketaatan, terimalah amal ibadah kami dibulan suci Ramadhan ini, Aamiin Yaa Robbal 'alamiin


sumber: https://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

SEORANG OB YANG BERBAGI MAKAN SAHUR


Kali ini saya seolah mendapat peringatan dari-Nya. Sebuah pelajaran yang diberikan oleh seorang petugas kebersihan (office boy) di kantor tempat saya bekerja. Lebaran tahun ini saya kebagian bertugas. Artinya, saya tidak bisa mudik ke Pekalongan, rumah mertua. Istri saya sudah mudik lebih awal, seminggu sebelum Lebaran, dengan menumpang kereta api. Menghindari lonjakan penumpang yang biasanya terjadi pada hari-hari mendekati Lebaran. Itu juga berarti saya sendirian di rumah.

Rupanya, ada kawan office boy yang mengetahui itu. Saya mengenalnya karena sering mengikuti salat wajib berjamaah di masjid dekat kantor kami. Suatu malam, saya tidak kebagian jatah sahur. Di kantor kami, setiap malam sebelum pulang, ada jatah sahur bagi karyawan, baik bagian redaksi maupun office boy.

Petugas sekuriti yang biasa membagikan jatah sahur tersebut meminta maaf seraya bilang bahwa makanan sahur sudah habis. ”Nggak papa, Pak,” tegas saya kepada petugas itu. ”Saya bisa beli di luar”.

Rupanya, kawan office boy saya tersebut melihat adegan itu. Setiba di tempat parkir, saya dipanggil olehnya. Dengan tergopoh, dia menghampiri saya yang sudah siap tancap gas motor untuk keluar parkir.

”Napa, Mas?” tanya saya.
”Ini buat sampeyan,” ucapnya sambil memberikan bungkusan nasi jatah sahur.
”Lha, sampeyan?” Saya menanyakan jatahnya sendiri.
”Wis, Mas. Bawa saja,” ujarnya meyakinkan. ”Saya nanti bisa masak sendiri (sembari menyebutkan salah satu merek mi instan),” lanjutnya.
Saya tak kuasa menolak. Bukan karena kemaruk, tapi saya tak mau menghalanginya mencari pahala kebaikan. Apalagi di bulan suci Ramadan.

Setelah berterima kasih, saya bergegas pulang. Saya malu sekali. Saya tahu penghasilan office boy itu tak seberapa. Namun, kali ini dia mengajarkan saya banyak hal. Bahwa kadang saya masih berlebih-lebihan dalam beberapa hal.

Di sebuah kedai makanan, saya membelokkan kendaraan ke sana. Berhenti, membeli makanan. Jatah dia dan beberapa nasi yang saya beli saya berikan ke petugas keamanan di lingkungan perumahan saya.

Ramadan segera berpamit. Saya tentu tak mau melewatkan momen obral pahala dari Allah pada bulan suci ini. Dalam hati saya mendoakan keberkahan buat kawan tadi. Kompor di dapur menyala, saya siap merebus mi instan. Bersiap sahur. Bersiap puasa untuk mereduksi segala ”penyakit hati.” Bersiap perang melawan hawa nafsu, yang ternyata sulitnya bukan main. Ampunilah segala dosa-dosa kami ya Rabb… By Rekan Eko Prasetyo


sumber: https://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

DIBALIK TIPE MANUSIA BERMAKAN SAHUR DALAM RAMADHAN


Mas Joko, sudah dua hari ini piket malam. Pak Danang dan keluarganya sudah bangun sejak pukul 2.00, langsung sahur dan tak sampai 1 jam mereka sudah tidur lagi. Sementara mbak Tari sebenarnya pukul 3.15 sudah bangaun, tapi hanya matikan alarm dan tiduran lagi hingga akhirnya benar-benar tertidur pulas. Lain lagi dengan Om Yanto, bujangan satu ini memang sengaja tidak bangun sahur. Menurutnya dia kuat puasa tanpa harus sahur. Hampir sama dengan Om Yanto, Om Nana yang suka begadang, menukar sahurnya dengan cara makan dulu sebelum tidur, agar tak perlu ‘repot-repot’ bangun untuk sahur.

Puasa tanpa sahur, bisa jadi puasanya tetap sah apabila sudah niat sejak malamnya, sebab berbeda dengan niat, sahur memang tidak menjadi syarat sahnya puasa. Tapi tidak mungkin Rosululloh menjadikan makan sahur itu sebuah sunnah apabila tidak ada ‘rahasia’ dibaliknya.

Sahur sebenarnya bukanlah sekedar urusan makan dan minum. Ada banyak hal yang bernilai ibadah yang bisa kita lakukan di waktu sahur. Ketika terbangun, tidak mungkin kita langsung menyantap hidangan. Biasanya kita masih merasa ngantuk hingga tak berselera untuk makan. Sambil menunggu selera makan kita muncul, atau menunggu makanan dan minuman selesai disiapkan , kita bisa sholat tahajud terlebih dahulu. Sebenarnya bangun sahur ini kesempatan yang bagus sekali untuk melatih kita bangun malam. Jika diluar Ramadhan kita merasa berat, maka di bulan Ramadhan ini kita bisa jadikan sebagai latihan. Dengan latihan selama sebulan penuh, semestinya kita akan menjadi terbiasa untuk bangun dan sholat malam di bulan-bulan berikutnya. Bukankah pola hidup kita terbentuk dari sebuah kebiasaan yang kita lakukan.

Bagi yang belum bisa melepaskan diri dari menonton televisi, acara santap sahur bisa kita gunakan sambil menambah ilmu dan wawasan keagamaan kita. Ada saluran televisi yang membuat acara khusus yang bisa menambah ilmu agama kita, yang tidak ada di luar Ramadhan. Tayangan seperti apa, itu tergantung pada pilihan kita, apakah tayangan yang bersifat tontonan ataukah tuntunan.

Rosululloh menyunahkan untuk mengakhirkan waktu sahur kita. Kenapa? Salah satu hikmah dibaliknya adalah, dengan mengakhirkan waktu sahur kita, maka kita tidak akan tertinggal untuk sholat subuh berjamaah di masjid maupun mushola. Ketika waktu imsak datang, meski masih bisa kita gunakan untuk makan maupun minum, namun setidaknya ini adalah rambu bahwa waktu subuh , batas dimulainya puasa sudah dekat. Jeda antara sahur dan subuh yang pendek, bisa kita gunakan untuk membaca Al Qur’an sambil menunggu datangnya waktu shubuh. Dan jika azan sudah dikumandangkan, jangan sampai lupa untuk melaksanakan sholat sunah fajar, sholat sunah yang lebih baik dibanding dunia dan seisinya. Hal ini menjadi susah apabila kita tidak mengakhirkan sahur. Jarak yang panjang antara sahur dengan waktu shubuh, membuat kita menunggu dengan bersantai-santai atau tiduran yang seringnya malah menjadi tidur beneran, hingga akhirnya sholat subuhpun kesiangan.

Jadi, apakah anda akan bangun sahur malam nanti? Kita bisa saja kuat menjalankan puasa tanpa harus makan sahur. Tapi bagiamanapun sahur adalah hak badan kita. Ibadah puasa tidaklah sama seperti sholat yang tidak boleh melakukan gerakan-gerakan atau aktifitas lain kecuali sholat itu sendiri. Akan berlipat ganda pahala puasa bagi orang yang berpuasa dan tetap melakukan pekerjaan-pekerjaan rutinnya dibanding mereka yang melewati puasa hanya dengan tidur dan berdiam diri. Kegiatan dan ibadah kita akan lebih khusyuk jika kondisi badan kita sehat dan fit. Dan salah satu cara menjaga kondisi badan tetap sehat adalah dengan makan sahur.

Dan bagi yang sudah rutin bangun sahur, apakah sahur kita hanya sekedar makan dan minum? Seharusnya tidak. Jangan lewatkan kesempatan baik ini dengan sia-sia. Gunakan waktu sahur ini untuk mencari keberkahan, sekaligus menambah amalan-amalan. Bukankah setiap amal di bulan Ramdhan akan dilipat gandakan pahalanya? By Rekan Abisabila


sumber: https://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

BERBUKA PUASA DENGAN KURMA


Banyak manfaat kurma yang baru terkuak di zaman ini, khususnya buat kesehatan. Dari Salman ibn ‘Aamir, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian akan berbuka puasa, maka berbukalah dengan kurma sebab kurma itu berkah, kalau tidak ada, maka dengan air karena air itu bersih dan suci.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Kenapa mesti kurma? Jika kita berbuka puasa, organ pencernaan kita (khususnya lambung) butuh sesuatu yang lembut biar bisa bekerja lagi dengan baik. Jadi makanannya harus yang mudah dicerna dan juga mengandung gula dan air dalam satu makanan. Tidak ada makanan yang mengandung gula dan air yang lebih baik daripada yang disebutkan oleh hadits Rasul. Nutrisi makanan yang paling cepat bisa dicerna dan sampai ke darah itu adalah zat gula, terlebih makanan yang mengandung satu atawa dua zat gula (kalau tidak glukosa, ya sukrosa).

Nah, untuk hal ini kurma adalah makanan yang paling baik. Kurma mengandung zat gula yang tinggi yaitu antara 75-87% dan glukosanya sebanyak 55%, fructose (fraktosa) 45% lebih tinggi dari jumlah protein, minyak dan beberapa vitamin (seperti vitamin A, B2, B12), dan sejumlah zat penting laen kayak kalsium, phosphor, potassium, sulfur, sodium, magnesium, cobalt, seng (zinc), florin, nuhas (tembaga), salyolosa, dan sebagainya. Fraktosa bakal diubah jadi glukosa dengan cepat dan langsung diserap oleh organ pencernaan, lantas dikirim ke seluruh tubuh, khususnya ke organ-organ inti seperti otak, syaraf, sel darah merah, dan sel pembersih tulang.

Seperti yang kita ketahui, di ujung puasa kita setiap harinya, glukosa dan insulin dalam darah yang datang ke katup hati akan bergetar. Artinya proses buka puasa kita bakal meminimalisir pemakaian glukosa yang diambil dari organ hati dan sel-sel ujung (seperti otot-otot en sel syaraf) jadi sesuatu yang bisa menghilangkan setiap zat yang terkandung dalam gelokogen hati. Saat-saat seperti ini, organ-organ sangat bergantung untuk mendapatkan energi dari CO2 (karbondioksida) kimiawi dan oksida glukosa yang terbentuk dalam hati dari asam amino dan gleserol.

Jadi, melentur dan memanjangnya organ penyerap makanan jadi sangat berarti. Maksudnya, penyerapan glukosa yang cepat di dalam katup pembuluh darah vena di hati akan masuk ke dalam organ hati untuk pertama kalinya, kemudian masuk ke sel otak, organ pencernaan, otot-otot, dan seluruh jaringan tubuh yang laen. Makanya, zat gula itu makanan terbaik buat tubuh karena bisa menghentikan oksidasi karbon kimiawi, memangkas zat-zat berbahaya dalam tubuh, dan bisa meminimalisir lemahnya serta gemetarnya organ pencernaan. Cukup rumit ya?

Dr. Hissam Syamsi Basya dalam tulisannya menjelaskan berdasarkan penelitian biokimia, satu kurma yang kita makan itu mengandung air 20-24%, gula 70-75%, 2-3% protein, 8,5% serat, dab sedikit sekali kandungan lemak jenuhnya (lecithine). Lain lagi dengan kurma mengkel (atau Ruthab) yang mengandung 65-70% air, 24-58% zatgula, 1,2-2% protein, 2,5% serat, dan sedikit mengandung lemak jenuh. Dr. Ahmad Abdul Ra’ouf en Dr. Ali Ahmad Syahhat pernah melakukan penelitian kimiawi dan fisiologi terhadap kurma, hasilnya? Menakjubkan! Coba lihat:

Jika kita buka puasa dengan kurma ruthab atawa tamar, persentase kandungan zat gula kita akan naik, artinya bisa membantu mengilangkan penyakit anemia (kurang darah). Oya, ruthab itu artinya kurma yang mengkel, yang masih segar, dan juga matang di pohon. Nah, kalo tamar itu kurma matang kering yang banyak terdapat di Indonesia (misalnya yang banyak dijual di Pasar Tanah Abang, Jakarta).

Waktu lambung kosong karena tidak makan seharian, pas buka, lambung, akan lebih gampang mencerna dan menyerap makanan kecil yang mengandung gula, malah lebih cepat dan maksimal lagi.
Kandungan zat gula dalam ruthab dan tamar (tentunya dalam bentuk kimia sederhana) menjadikan proses pencernaan di lambung jadi sangat mudah, soalnya 2/3 zat gula yang ada dalam tamar dan ruthab bisa meningkatkan kadar gula dalam darah dalam waktu yang singkat.

Selain itu, kita juga tidak perlu minum banyak-banyak lagi sewaktu buka jika kita makan ruthab atau tamar, karena sudah mengandung air 65-70%?! Tetapi sangat tidak dilarang untuk minum pun.

Subhanallah. Tidak heran jika Rasulullah menganjurkan kurma sebagai salah satu makanan pembuka puasa kita yang utama.


sumber: https://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

Sabtu, 24 Mei 2014

MAJELIS ILMU, DAN PENGAJIAN ADALAH TAMAN-TAMAN SYURGA


Cara untuk mendapat hidayah dan mensyukuri nikmat Allah adalah dengan menuntut ilmu syar’i. Menuntut ilmu adalah jalan yang lurus untuk dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil, Tauhid dan syirik, yang ma’ruf dan yang munkar, dan antara yang bermanfaat dan yang membahayakan. Menuntut ilmu akan menambah hidayah serta membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Seorang Muslim tidak akan bisa melaksanakan agamanya dengan benar, kecuali dengan belajar Islam yang benar berdasarkan Al-Qur-an dan As-Sunnah. Agama Islam adalah agama ilmu dan amal karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam diutus dengan membawa ilmu dan amal shalih.

Manusia diberikan dua kenikmatan, namun banyak di antara mereka yang tertipu. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ.

“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengan keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.”[ Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6412), at-Tirmidzi (no. 2304), Ibnu Majah (no. 4170), Ahmad (I/258,344), ad-Darimi (II/297), al-Hakim (IV/306), dan selainnya dari Shahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma. ]

Banyak di antara manusia yang tidak mengguna-kan waktu sehat dan waktu luangnya dengan sebaik-baiknya. Ia tidak gunakan untuk belajar tentang Islam, tidak ia gunakan untuk menimba ilmu syar’i. Padahal dengan menghadiri majelis taklim yang mengajarkan Al-Quran dan As-Sunnah menurut pemahaman para Shahabat, akan bertambah ilmu, keimanan, dan ketakwaannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Juga dapat menambah amal kebaikannya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” [Al-Fat-h: 28]

Yang dimaksud dengan al-hudaa (petunjuk) dalam ayat ini adalah ilmu yang bermanfaat. Dan yang dimaksud dengan diinul haqq (agama yang benar) adalah amal shalih. Allah Ta’ala mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjelaskan kebenaran dari kebatilan, menjelaskan Nama-Nama Allah, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, hukum-hukum dan berita yang datang dari-Nya, serta memerintahkan untuk melakukan segala apa yang bermanfaat bagi hati, ruh, dan jasad.

( Ilmu Agama Warisan para Nabi )

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَطْلُبُ فِيْهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْـجَنَّةِ وَإِنَّ الْـمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّهُ لَيَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِـمِ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ حَتَّى الْـحِيْتَانُ فِى الْـمَاءِ وَفَضْلُ الْعَالِـمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ. إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ لَـمْ يَرِثُوا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ.

“Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi hingga ikan yang berada di air.
Sesungguhnya keutamaan orang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar tidak juga dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Dan barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka sungguh, ia telah mendapatkan bagian yang paling banyak.”[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (V/196), Abu Dawud (no. 3641), at-Tirmidzi (no. 2682), Ibnu Majah (no. 223), dan Ibnu Hibban (no. 80 al-Mawaarid), lafazh ini milik Ahmad, dari Shahabat Abu Darda’ radhiyallaahu ‘anhu.]

Sesungguhnya para ulama itu pika kita melihat para Shahabat radhiyallaahu anhum ajma’in, mereka bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu syar’i. Bahkan para Shahabat wanita juga bersemangat menuntut ilmu. Mereka berkumpul di suatu tempat, lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mendatangi mereka untuk menjelaskan tentang Al-Qur-an, menelaskan pula tentang Sunnah-Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala juga memerintahkan kepada wanita untuk belajar Al-Qur-an dan As-Sunnah di rumah mereka.

Sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا

"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang Jahiliyyah dahulu, dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu dengan sebersih-bersihnya. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan al-Hikmah (Sunnah Nabimu). Sungguh, Allah Mahalembut, Maha Mengetahui.” [Al-Ahzaab: 33-34]

Laki-laki dan wanita diwajibkan menuntut ilmu, yaitu ilmu yang bersumber dari Al-Qur-an dan As-Sunnah karena dengan ilmu yang dipelajari, ia akan dapat mengerjakan amal-amal shalih, yang dengan itu akan mengantarkan mereka ke Surga.

Kewajiban menuntut ilmu ini mencakup seluruh individu Muslim dan Muslimah, baik dia sebagai orang tua, anak, karyawan, dosen, Doktor, Profesor, dan yang lainnya. Yaitu mereka wajib mengetahui ilmu yang berkaitan dengan muamalah mereka dengan Rabb-nya, baik tentang Tauhid, rukun Islam, rukun Iman, akhlak, adab, dan mu’amalah dengan makhluk.

( Taman Syurga )

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْـجَنَّةِ فَارْتَعُوْا، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا رِيَاضُ الْـجَنَّةِ؟ قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ.

“Apabila kalian berjalan melewati taman-taman Surga, perbanyaklah berdzikir.” Para Shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud taman-taman Surga itu?” Beliau menjawab, “Yaitu halaqah-halaqah dzikir (majelis ilmu).” [Hadits hasan: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 3510), Ahmad (III/150) dan lainnya, dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu. At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan.”]


sumber: https://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

BERSEDEKAH YANG TERBAIK AKHIRNYA PUNYA RUMAH SENDIRI DENGAN IZIN ALLAH SWT


Sedekah, memang sudah jadi kebutuhan hidup keluarga Hj Fida. Saya pernah jatuh bangkrut habis-habisan. Sedekahlah yang membuat kami bangkit, katanya, saat berbagi pengalaman di Ponpes Daarul Quran Bulaksantri, Tangerang, beberapa waktu lalu. Waktu itu, beberapa tahun silam, usaha Hj Fida dan suami masih menjadi tumpuan nafkah sekeluarga sepenuhnya. Putra-putri mereka, Zascia A Mecca dan Haikal, baru coba-coba masuk ke dunia seni peran. Apa hendak dikata, bisnis milyaran rupiah yang dijalankan Hj Fida bersama suami, bangkrut. Mobil dan rumah sampai dilego untuk menutupi sebagian utang itu. Keluarga ini pun hijrah ke rumah orangtua Hj Fida. Sabar ya Mah, insya Allah nanti kami akan bangkit lagi, Hj Fida menghibur ibunda yang cemas dengan kehidupan putrinya. Laku spiritual pun mulai dijalani Hj Fida dan suami.

Sejak saat itu, setiap hari meski ibaratnya barang sebungkus nasi, Hj Fida sekeluarga mewajibkan diri bersedekah. Anak-anak misalnya, bederma kepada tukang kebon sekolah, sampai mereka hafal dengan kebiasaan putra-putri Hj Fida ini. Jalan terang mulai nampak. Ayahanda Hj Fida, ter-nyata masih memiliki tanah luas yang telantar di bilangan Cinere. Padahal, lokasinya sangat potensial untuk dikembangkan. Dengan modal tanah warisan itulah, Hj Fida men- coba membangun perumahan. Investor didapat. Pelan-pelan, usahanya mulai bangkit.

Ketika berkunjung ke seorang kawan di daerah Cianjur, ia terbelalak. Sedekahnya gila-gilaan. Ratusan anak yatim dia hidupi. Berapa ratus bungkus nasi tuh setiap hari dia sedekahkan. Pantesan rejekinya ngalir lancar, kenang Hj Fida, yang kemudian mengikuti jejaknya. Sedekah gila-gilaan. Ketika Hj Fida butuh uang banyak lagi untuk membangun unit-unit rumah baru, tak dinyana rejeki gurih datang sendiri. Mamang yang punya tanah menawarinya share Rp 2,5 M kontan. Tentu saja kesempatan ini tak ditolak. Bisnis property mereka pun makin moncer. Kini, keluarga Hj Fida sudah tinggal di rumah sendiri.

Anak-anak mereka pun sudah bisa menghidupi diri sen- diri, juga menabung. Kewajiban saya kepada pihak lain belum selesai sepenuhnya. Namanya juga bisnis. Tapi Alhamdulillah, usaha kami lancar, insya Allah bisa menutupnya, Hj Fida bersyukur. (Gadis Izdihar) (sumber buku DAHSYATNYA SEDEKAH1)

( Kuncinya Harta yang paling dicintai )

Allah SWT Berfirman

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (Ali Imran: 92)

Dalam sebuah riwayat berkenaan ayat tsb, Sahabat Abdullah bin Umar ketika mendengar ayat, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” Kemudian beliau teringat bahwa tidak ada harta yang paling ia cintai selain budak wanita dari Romawi. Maka beliau pun membebaskan budak wanita tersebut dalam rangka untuk mencari keridhaan Allah.
Demikianlah hendaknya seorang muslim.

Mempunyai tekad yang kuat untuk menyedekahkan harta terbaik dan yang paling dicintai. Yaitu harta yang berharga dan yang dicintai oleh hawa nafsu. Hingga terbukti kejujurannya dalam beramal karena Allah dari pada menuruti hawa nafsunya. Maka seandainya seorang hamba lebih mendahulukan kecintaan Allah dari pada kecintaan terhadap harta, tentu ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapat keridhaan-Nya.

Termasuk dengan menyedekahkan harta yang berharga dan bersedekah dengan harta yang sangat ai butuhkan serta bersedekah ketika dalam kondisi sehat. Karena yang demikian menunjukkan kejujuran iman, kejernihan hati dan kekuatan takwanya.

Sebagai penutup renungilah ayat berikut ini dengan penuh penghayatan dan keimanan.

Allah SWT memanggil mereka yang beriman, artinya, "Wahai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan darinya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.’ (Al-Baqarah: 267)


sumber: https://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

Senin, 28 April 2014

DOANYA MENJADI ANUGERAH TERINDAH BAGI SANG KONGLOMERAT SAUDI


Saat itu saya tengah berada di kota Jeddah, Saudi Arabia. Terpapar dihadapan saya sebuah koran berbahasa Arab di lobby hotel. Tergerak saya melihat berita dan artikel yang tertulis di sana, hingga saya temukan sebuah tulisan yang amat bermanfaat ini. Kisah nyata seorang kaya raya berkebangsaan Saudi bernama Ra’fat. Ia diwawancarai setelah ia berhasil sembuh dari penyakit liver akut yang ia idap. Pola hidup berlebihan dan mengkonsumsi makanan tak beraturan membuat Ra’fat mengalami penyakit di atas. Ra’fat berobat untuk mencari kesembuhan. Banyak dokter dan rumah sakit ia kunjungi di Saudi Arabia sebagai ikhtiar. Namun meski sudah menyita banyak waktu, tenaga, pikiran dan biaya, sayangnya penyakit itu tidak kunjung sembuh juga. Ra’fat mulai mengeluh. Badannya bertambah kurus. Tak ubahnya seperti seorang pesakitan.

Demi mencari upaya sembuh, maka Ra’fat mengikuti saran dokter untuk berobat ke sebuah rumah sakit terkenal spesialis liver di Guangzhou, China. Ia berangkat ke sana ditemani oleh keluarga. Penyakit liver semakin bertambah parah. Maka saat Ra’fat diperiksa, dokter mengatakan bahwa harus diambil tindakan operasi segera. Ketika Ra’fat menanyakan berapa besar kemungkinan berhasilnya. Dokter menyatakan kemungkinannya adalah fifty-fifty.

“50% kalau operasi berhasil maka Anda akan sembuh, 50% bila tidak berhasil mungkin nyawa Anda adalah taruhannya!” jelas sang dokter.

Mendapati bahwa boleh jadi ia bakal mati, maka Ra’fat berkata, “Dokter, kalau operasi ini gagal dan saya bisa mati, maka izinkan saya untuk kembali ke negara saya untuk berpamitan dengan keluarga, sahabat, kerabat dan orang yang saya kenal. Saya khawatir bila mati menghadap Allah Swt namun saya masih punya banyak kesalahan terhadap orang yang saya kenal.” Ra’fat berkata sedemikian sebab ia takut sekali atas dosa dan kesalahan yang ia perbuat.

Dengan enteng dokter membalas, “Terlalu riskan bagi saya untuk membiarkan Anda tidak segera mendapatkan penanganan. Penyakit liver ini sudah begitu akut. Saya tidak berani menjamin keselamatan diri Anda untuk kembali ke tanah air kecuali dalam 2 hari. Bila Anda lebih dari itu datang kembali ke sini, mungkin Anda akan mendapati dokter lain yang akan menangani operasi liver Anda.”

Bagi Ra’fat 2 hari itu cukup berarti. Ia pun berjanji akan kembali dalam tempo itu. Serta-merta ia mencari pesawat jet yang bisa disewa dan ia pun pergi berangkat menuju tanah airnya.

Kesempatan itu betul-betul digunakan oleh Ra’fat untuk mendatangi semua orang yang pernah ia kenal. Satu per satu dari keluarga dan kerabat ia sambangi untuk meminta maaf dan berpamitan. Kepada mereka Ra’fat berkata, “Maafkan aku, Ra’fat yang kalian kenal ini sungguh banyak kesalahan dan dosa… Boleh jadi setelah dua hari dari sekarang saya sudah tidak lagi panjang umur…”

Itulah yang disampaikan Ra’fat kepada orang-orang. Dan setiap dari mereka menangis sedih atas kabar berita yang mereka dengar dari orang yang mereka cintai dan kagumi ini.

Ra’fat menyambangi satu per satu dari mereka. Meski dengan tubuh yang kurus tak berdaya, ia berniat mendatangi mereka untuk meminta doa dan berpamitan. Dan kondisi itu membuat Ra’fat menjadi sedih. Ia merasa menjadi manusia yang paling merana. Ia merasa tak berdaya dan tak berguna. Sering dalam kesedihannya ia membatin, “Ya Allah…. rupanya keluarga yang mencintai aku…. harta banyak yang aku miliki… perusahaan besar yang aku punya…. semuanya itu tidak ada yang mampu membantuku untuk kembali sembuh dari penyakit ini! Semuanya tak ada guna… semuanya sia-sia!”

Rasa emosi batin itu membuat tubuh Ra’fat bertambah lemah. Ia hanya mampu perbanyak istighfar memohon ampunan Tuhannya. Memutar tasbih sambil berdzikir kini menjadi kegiatan utamanya. Ia masih merasa bahwa dirinya adalah manusia yang paling merana di dunia.

Hingga saat ia sedang berada di mobilnya. duduk di kursi belakang dengan tangan memutar tasbih seraya berdzikir. Hanya Ra’fat dan supirnya yang berada di mobil itu. Mereka melaju berkendara menuju sebuah rumah kerabat dengan tujuan berpamitan dan minta restu.

Saat itulah menjadi moment spesial yang tak akan terlupakan untuk Ra’fat.

Beberapa ratus meter di depan, mata Ra’fat melihat ada seorang wanita berpakaian abaya (pakaian panjang wanita Arab yang serba berwarna hitam) tengah berdiri di depan sebuah toko daging. di sisi wanita tadi ada sebuah karung plastik putih yang biasa menjadi tempat limbah toko tersebut. Wanita tadi mengangkat dengan tangan kirinya sebilah tulang sapi dari karung. Sementara tangan kanannya mengumpil dan mencuil daging-daging sapi yang masih tersisa di pinggiran tulang.

Ra’fat memandang tajam ke arah wanita tersebut dengan pandangan seksama. Rasa ingin tahu membuncah di hati Ra’fat tentang apa yang sedang dilakukan wanita itu. Begitu mobilnya melintasi sang wanita, sekilas Ra’fat memperhatikan. Maka ia pun menepuk pundak sang sopir dan memintanya untuk menepi.

Saat mobil sudah berhenti, Ra’fat mengamati apa yang dilakukan oleh sang wanita. Entah apa yang membuat Ra’fat menjadi penasaran. Keingintahuannya membuncah. Ia turun dari mobil. lemah ia membuka pintu, dan ia berjalan tertatih-tatih menuju tempat wanita itu berada.

Dalam jarak beberapa hasta Ra’fat mengucapkan salam kepada wanita tersebut namun salamnya tiada terjawab. Ra’fat pun bertanya kepada wanita tersebut dengan suara lemah, “Ibu…, apa yang sedang kau lakukan?”

Rupanya wanita ini sudah terlalu sering diacuhkan orang, hingga ia pun tidak peduli lagi dengan manusia. Meski ada yang bertanya kepadanya, wanita tadi hanya menjawab tanpa menoleh sedikitpun ke arah si penanya. Sambil mengumpil daging wanita itu berkata, “Aku memuji Allah Swt yang telah menuntun langkahku ke tempat ini. Sudah berhari-hari aku dan 3 orang putriku tidak makan. Namun hari ini, Dia Swt membawaku ke tempat ini sehingga aku dapati daging limbah yang masih bertengger di sisi tulang sisa. Aku berencana akan membuat kejutan untuk ketiga putriku malam ini. Insya Allah, aku akan memasakkan sup daging yang lezat buat mereka….”

Subhanallah. …! bergetar hebat relung batin Ra’fat saat mendengar penuturan kisah kemiskinan yang ada di hadapannya. Tidak pernah ia menyangka ada manusia yang melarat seperti ini. Maka serta-merta Ra’fat melangkah ke arah toko daging. Ia panggil salah seorang petugasnya. Lalu ia berkata kepada petugas toko, “Pak…, tolong siapkan untuk ibu itu dan keluarganya 1 kg daging dalam seminggu dan aku akan membayarnya selama setahun!”

Kalimat yang meluncur dari mulut Ra’fat membuat wanita tadi menghentikan kegiatannya. Seolah tak percaya, ia angkat wajah dan menoleh ke arah Ra’fat. Kini mata wanita itu menatap dalam mata Ra’fat seolah ia berterima kasih lewat sorot pandang.

Merasa malu ditatap seperti itu, Ra’fat menoleh ke arah petugas toko. Ia pun berkata, “Pak…, tolong jangan buat 1 kg dalam seminggu, aku rasa itu tidak cukup. Siapkan 2 kg dalam seminggu dan aku akan membayarnya untuk setahun penuh!” Serta-merta Ra’fat mengeluarkan beberapa lembar uang 500-an riyal Saudi lalu ia serahkan kepada petugas tadi.

Usai Ra’fat membayar dan hendak meninggalkan toko daging, maka terhentilah langkahnya saat ia menatap wanita tadi tengah menengadah ke langit sambil mengangkat kedua belah tangannya seraya berdoa dengan penuh kesungguhan:

“Allahumma ya Allah… berikanlah kepada tuan ini keberkahan rezeki. Limpahkan karunia-Mu yang banyak kepadanya. Jadikan ia manusia mulia di dunia dan akhirat. Beri ia kenikmatan seperti yang Engkau berikan kepada para hamba-Mu yang shalihin. Kabulkan setiap hajatnya dan berilah ia kesehatan lahir dan batin…..dst”

Panjang sekali doa yang dibaca oleh wanita tersebut. Kalimat-kalimat doa itu terjalin indah naik ke langit menuju Allah Swt. Bergetar arsy Allah Swt atas doa yang dibacakan sehingga getaran itu terasa di hati Ra’fat. Ia mulai merasakan ketentraman dan kehangatan. Kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Hampir saja Ra’fat menitikkan air mata saat mendengar jalinan indah kalimat doa wanita tersebut. Andai saja ia tidak merasa malu, pastilah buliran air mata hangat sudah membasahi pipinya. Namun bagi Ra’fat pantang menangis…, apalagi dihadapan seorang wanita yang belum ia kenal.

Ra’fat lalu memutuskan untuk meninggalkan wanita tersebut. Ia berjalan tegap dan cepat menuju mobilnya. Dan ia belum juga merasakan keajaiban itu! Ya, keajaiban yang ditambah saat Ra’fat membuka dan menutup pintu mobil dengan gagah seperti manusia sehat sediakala!!!

Sungguh doa wanita itu memberi kedamaian pada hati Ra’fat. Sepanjang jalan di atas kendaraan Ra’fat terus tersenyum membayangkan doa yang dibacakan oleh sang wanita tadi. Perjalanan menuju rumah seorang kerabat itu menjadi indah.

Sesampainya di tujuan lalu Ra’fat mengutarakan maksudnya. Ia berpamitan dan meminta restu. Ia katakan boleh jadi ia tidak lagi berumur panjang sebab sakit liver akut yang diderita.

Anehnya saat mendengar berita itu dari Ra’fat, sang kerabat berkata, “Ra’fat…, janganlah engkau bergurau. Kamu terlihat begitu sehat. Wajahmu ceria. Sedikit pun tidak ada tanda-tanda bahwa engkau sedang sakit.”

Awalnya Ra’fat menganggap bahwa kalimat yang diucapkan kerabat tadi hanya untuk menghibur dirinya yang sedang sedih. Namun setelah ia mendatangi saudara dan kerabat yang lain, anehnya semuanya berpendapat serupa.

Dua hari yang dimaksud pun tiba. Ia didampingi oleh istri dan beberapa anaknya kembali datang ke China. Hari yang dimaksud untuk menjalani operasi sudah disiapkan. Sebelum masuk ruang tindakan, beberapa pemeriksaan pun dilakukan. Setelah hasil pemeriksaan itu dipelajari maka ketua tim dokter pun bertanya keheranan kepada Ra’fat dan keluarga:

“Aneh….! dua hari yang lalu kami dapati liver tuan Ra’fat rusak parah dan harus dilakukan tindakan operasi. Tapi setelah kami teliti, mengapa liver ini menjadi sempurna lagi?!”

Kalimat dokter itu membuat Ra’fat dan keluarga menjadi bahagia. Berulangkali terdengar kalimat takbir dan tahmid di ruangan meluncur dari mulut mereka. Mereka memuji Allah Swt yang telah menyembuhkan Ra’fat dari penyakit dengan begitu cepat. Siapa yang percaya bahwa Allah yang memberi penyakit, maka ia pun akan yakin bahwa hanya Dia Swt yang mampu menyembuhkan. Jangan bersedih dan merasa hidup merana. Sadari bahwa dalam kegetiran ada hikmah bak mutiara!

Doa si Miskin menjadi kekuatan bagi mereka yang menderma, apalagi si Miskin yang shaleh bertanggung jawab kepada keluarganya, jauh-jauh hari Rosulullah SAW sudah mengabarkan hal ini.

Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ، قَالَ: رَأَى سَعْدٌ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-، أَنَّ لَهُ فَضْلاً عَلَى مَنْ دُوْنَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: ((هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ؟)).

Dari Mush'ab bin Sa'ad, beliau berkata bahwa Sa'ad Radhiyallahu 'anhu memandang dirinya memiliki keutamaan di atas yang lainnya. Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Bukankah kalian ditolong dimenangkan dan diberi rezeki melainkan dengan SEBAB orang-orang yang lemah di antara kalian?" ( HR. Bukhari )

BAGAIMANA SEDEKAH SEBAGAI WASILAH DAN DOA UNTUK PENGOBATAN


“Obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan bersedekah” (Hadits ini dihasankan di dalam Shahih al-Jami’).
Dengan demikian, bersedekah, selain akan membuat harta kita berkah dan bermanfaat, jika bisa menjadi wasilah datangnya kesembuhan dari Allah Swt atas penyakit yang diderita. Ulama Syaikh Sulaiman Bin Abdul Karim Al-Mufarrij sebagaimana dikutip Al-Sofwah berkata: “Wahai saudaraku yang sedang sakit, sedekah yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah sedekah yang diniatkan untuk memperoleh kesembuhan. Boleh jadi, Anda telah banyak melakukan sedekah, tetapi hal itu tidak Anda lakukan dengan niat untuk mendapatkan kesembuhan dari Allah Swt.

Oleh karena itu, coba Anda lakukan sekarang dan tumbuhkanlah kepercayaan dan keyakinan bahwa Allah Swt akan menyembuhkan diri Anda. Isilah perut para fakir miskin hingga kenyang, atau santunilah anak yatim, atau wakafkanlah harta Anda, atau melakukan sedekah jariah, karena sesungguhnya sedekah itu dapat mengangkat dan menghilangkan berbagai macam penyakit dan berbagai macam musibah dan cobaan…

Wahai saudaraku yang sedang sakit, janganlah Anda bakhil terhadap diri Anda sendiri. Sekaranglah waktunya untuk sedekah” (Shifatun ‘Ilaajiyyah Tuzilu Al-Amraadh bi Al-Kulliyyah).

Ada seseorang bertanya kepada Abdullah Bin Mubarak rahimahullah, tentang penyakit lututnya yang telah diderita sejak tujuh tahun. Dia telah melakukan bermacam usaha untuk mengobatinya dan telah bertanya kepada para dokter, tetapi belum merasakan hasil. Maka Abdullah Bin Mubarak rahimahullah, berkata kepadanya:

“Pergilah Anda mencari sumber air dan galilah sumur di situ karena orang-orang membutuh-kan air! Aku berharap ada air yang memancar di situ”.

Maka orang itu pun melakukan apa yang disarankan oleh beliau, lalu dia pun sembuh” (Shahih At-Targhib).*


sumber: 

KUALITAS SHALAT KUALITAS KEHIDUPAN


Coba perhatikan shalat kita. Tidak terhitung berapa kali kita lupa rakaat dalam shalat. Alih-alih bersedih dengan lupa rakaat shalat, seringkali kita justru menunda shalat karena urusan dunia. Atau bahkan meninggalkan shalat. Astaghfirullahal adzim. Kita merasa terlalu sibuk sehingga shalat kita terabaikan. Padahal shalatlah yang pertama kali akan dihitung pada hari kiamat.

Suatu ketika Abu Thalhah ra shalat di kebunnya. Tiba-tiba seekor burung terbang di antara pepohonan. Burung itu terbang kesana kemari. Lalu masuk ke dalam rerimbunan daun yang lebat dan terjebak disana.

Melihat hal ini perhatian Abu Thalhah ra terarah pada tingkah laku burung tersebut sehingga ia lupa jumlah rakaat yang telah ia lakukan. Ia sangat kesal atas hal ini. Ia sadar karena kebunnyalah ia menjadi lalai dalam shalatnya. Dan bagi Abu Thalhah itu merupakan musibah baginya.

Seusai shalat, ia langsung menjumpai Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan semua kejadian tersebut. Lalu ia berkata, Ya Rasulullah, kebunku ini telah menyebabkan saya lalai dalam shalat. Oleh karena itu saya sedekahkan kebun ini fi sabilillah. Gunakanlah sekehendakmu.

Sungguh luar biasa para sahabat menjaga kualitas shalat mereka. Hal ini dikarenakan kesadaran yang sempurna akan hakikat shalat. Begitu pentingnya shalat sehingga shalat disebutkan pada urutan kedua setelah iman.

Mari kita mengingat hadis Nabi saw dari Abu Hurairah ra, Sesungguhnya amal seorang hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika baik shalatnya maka ia akan beruntung dan selamat. Dan jika buruk shalatnya maka ia akan merugi. Jika ditemui ada kekurangan pada shalat fardhunya maka Rabb (Allah SWT) akan berkata (kepada malaikat), Lihatlah apakah hambaKu memiliki amalan shalat sunah? Maka kekurangan shalat fardhu akan disempurnakan dengan shalat-shalat sunah. Kemudian amal-amal lainnya akan dihisab seperti itu. (Tirmidzi)

Bagi yang sudah menjalankan shalat lima waktu, mari kita perbaiki lagi dengan menjaga shalat di awal waktu. Kemudian kita tingkatkan lagi dengan shalat sunah dan amalan ibadah lain.

Dengan demikian peran shalat dalam mencegah kemunkaran dapat menjadi nyata dalam kehidupan kita. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan munkar. (QS. Al-Ankabut : 45) Dalam skala yang lebih luas, Shalat dapat memperbaiki moral bangsa yang kian terpuruk. Wallahualam


sumber: https://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

Sabtu, 19 April 2014

( HIKMAH ) BERSYUKUR SEMUA TELAH TERUKUR UNTUK KITA

Foto: ( HIKMAH ) BERSYUKUR SEMUA TELAH TERUKUR UNTUK KITA

Allah Maha Adil dan Bijaksana, Dia membalas kejahatan dan kebaikan dengan balasan yang setimpal dan sempurna. Syukur sebaiknya dilakukan sepanjang waktu. Bersyukur di kala mendapat kenikmatan adalah hal biasa dan memang seharusnya demikian adanya. Tetapi bersyukur di kala mendapat musibah, adalah hal yang luar biasa. Hanya orang yang ridha terhadap qadha dan takdir Allah-lah yang bisa demikian. Dengan ridha kepada Allah, di balik musibah yang menimpa, tersingkap rahasia hikmah kebaikan yang bisa disyukuri. 

Andaikan hikmah kebaikan itu belum bisa tersingkap, hendaknya seorang hamba beriman menyakini bahwa apa yang menimpa dirinya adalah murni kebaikan dari Allah dan boleh jadi hikmah kebaikan itu akan terungkap tatkala bertemu dengan Allah di akhirat kelak. 

Allah Maha Adil dan Bijaksana, Dia membalas kejahatan dan kebaikan dengan balasan yang setimpal dan sempurna.

Syukur dikala ditimpa kepahitan akan nampak jika hamba mampu membayangkan kondisi yang lebih buruk ‘seharusnya’ terjadi pada dirinya. Syukurlah masih sehat, syukurlah nyawanya selamat, dst.

Katakan dalam hati sekali lagi bahwa, Allah Maha Adil dan Bijaksana, Dia membalas kejahatan dan kebaikan dengan balasan yang setimpal dan sempurna.


Allah Maha Adil dan Bijaksana, Dia membalas kejahatan dan kebaikan dengan balasan yang setimpal dan sempurna. Syukur sebaiknya dilakukan sepanjang waktu. Bersyukur di kala mendapat kenikmatan adalah hal biasa dan memang seharusnya demikian adanya. Tetapi bersyukur di kala mendapat musibah, adalah hal yang luar biasa. Hanya orang yang ridha terhadap qadha dan takdir Allah-lah yang bisa demikian. Dengan ridha kepada Allah, di balik musibah yang menimpa, tersingkap rahasia hikmah kebaikan yang bisa disyukuri.

Andaikan hikmah kebaikan itu belum bisa tersingkap, hendaknya seorang hamba beriman menyakini bahwa apa yang menimpa dirinya adalah murni kebaikan dari Allah dan boleh jadi hikmah kebaikan itu akan terungkap tatkala bertemu dengan Allah di akhirat kelak.

Allah Maha Adil dan Bijaksana, Dia membalas kejahatan dan kebaikan dengan balasan yang setimpal dan sempurna.

Syukur dikala ditimpa kepahitan akan nampak jika hamba mampu membayangkan kondisi yang lebih buruk ‘seharusnya’ terjadi pada dirinya. Syukurlah masih sehat, syukurlah nyawanya selamat, dst.

Katakan dalam hati sekali lagi bahwa, Allah Maha Adil dan Bijaksana, Dia membalas kejahatan dan kebaikan dengan balasan yang setimpal dan sempurna.


sumber: https://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

Selasa, 15 April 2014

( HIKMAH ) SKENARIO ALLAH YANG INDAH BAGI KEHIDUPAN KITA


Dalam Hadits Qudsi Rasulullah Saw bersabda artinya : "“Barang siapa yang tidak ridha terhadap ketentuan-Ku, dan tidak sabar atas musibah dari-Ku, maka carilah Tuhan selain Aku.” (HR. Bukhari dan Muslim) Berbahagialah menjadi seorang Muslim. Di saat cobaan datang bertubi-tubi, seorang Muslim diajarkan bagaimana mengelola hati sehingga hatinya tetap sabar dan yakin akan hadirnya sentuhan hangat tangan Sang Khalik. Di saat nikmat turun dari langit, seorang Muslim diajarkan bagaimana menata hati sehingga hatinya senantiasa bersyukur dan menepis jauh kemungkinan munculnya dengki.

Terkadang kita selalu berpikir, mengapa seringkali terjadi hal-hal yang tak sesuai dengan harapan kita. Plot cerita yang telah dirancang sebelumnya seringkali tidak berjalan mulus dikarenakan hadirnya hal-hal di luar kendali kita. Tak jarang diri ini tak kuasa menahan emosi yang muncul. Tapi di situlah letak nikmat dari ujiannya.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui ,” (Qs. Al-Baqarah : 216)

Jika kita yakin bahwa semua skenario ini telah dirancang dengan rapi oleh Sang Sutradara Alam Semesta, maka tak perlu takut, tersenyumlah. Jika kita tahu bahwa Sang Khalik tak akan pernah menzhalimi hamba-hamba-Nya, maka tak usah gelisah, tersenyumlah.

Jika kita faham bahwa hanya Sang Allah yang mengetahui apa yang baik untuk kita, maka tak perlu risau, tersenyumlah. Jika kita mengerti bahwa skenario Allah itu adalah skenario yang paling indah, maka tak usah gundah, tersenyumlah..

Ketika Allah sedang menyulam kehidupan hamba-Nya, tak perlu Allah mengungkap rencana-Nya, karena Allah ingin semua terasa indah pada waktunya. Allah ingin melihat hamba-Nya gigih dalam menjalani prosesnya. Allah ingin melihat hamba-Nya bercucuran air mata, bersimpuh di malam hari menghadap-Nya.

Allah ingin melihat tegarnya dada hamba-Nya, bersabar dalam menerima cobaanya. Allah ingin melihat senyum dan ucapan syukur keluar dari mulut hamba-Nya tatkala Allah merealisasikan doa hamba-Nya dan rencana terbaik-Nya.

Ruang lingkup penglihatan Allah sangat sangat jauh bila dibandingkan dengan ruang lingkup penglihatan hamba-Nya. Ibarat seseorang yang melihat dari dalam lubang, dan seorang yang lain melihat dari atas menara. Maka, seseorang yang melihat dari atas menara jangkauan pandangannya akan lebih luas dari jangkauan pandangan seseorang yang melihat dari lubang. Oleh karena itu, wajar jika banyak keputusan Allah yang berbeda dari keinginan kita. Karena Allah melihat dari sudut pandang yang luas. Mempertimbangkan berbagai macam pertimbangan, merencanakan sesuatu dari data yang lebih lengkap. Tak pantas bila kita menyalahkan skenario yang Allah buat.

Allah telah merancang skenario yang sempurna. Terkadang Allah menyembunyikan mutiara yang indah di balik sebuah kotak yang terlihat kusam. Kita tak bisa dengan mudahnya menyalahkan setiap kejadian buruk di hadapan, karena siapa tau kejadian yang indah sedang menunggu selangkah dua langkah di depan kejadian buruk yang menimpa kita itu. Semua akan indah pada waktunya.

Marilah berdoa penuh khusyu mudah-mudahan Allah berkenan memberikan hikmah yang terbaik untuk kita semua, melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya dalam meniti setiap jengkal ujian kesabaran pada kehidupan. Aamiin Yaa Rabb..


sumber: https://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

( HIKMAH ) MERAIH KESEIMBANGAN HIDUP, NIKMAT LAHIR DAN BATHIN


Dalam berbagai ayat-ayatNya Allah SWT sudah Memaklumatkan bahwa setiap manusia akan diuji, hanya saja mungkin tidak semua manusia mensikapi musibah dan nikmat dengan sikap yang sama. Ada orang yang optimis yang cenderung menghadapi kesulitan hidup dengan optimisme, sehingga ia senantiasa berusaha mencari jalan keluar, bahkan menganggap kesulitan sebagai tantangan. Ada pula manusia pesimis yang cenderung bersikap negatif terhadap apa saja, selalu mengeluh dan merasa susah.

Allah SWT sudah Menyatakan dalam Al Qur’an bahwa seseorang tak akan dibebani lebih dari kadar kesanggupannya (2:286)

Allah SWT memberi gambaran orang-orang yang salah persepsi terhadap musibah dan nikmat sebagai berikut:

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”.

Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. (QS Al Fajr 15-16).

Secara implisit ayat-ayat tsb memberikan semacam sindiran bagi manusia-manusia yang telah menempatkan perhiasan dunia berupa rezki, kedudukan dan kesenangan sebagai tolok ukur ”baik” atau ”buruk”. Yaitu orang-orang yang mengukur keberuntungan atau kemalangan manusia hanya berdasarkan hal-hal duniawi ataumatter oriented.

Padahal dalam kehidupan Allah memerintahkan kita fokus berlomba-lomba meraih ampunan.

Allah SWT Berfirman : "Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar." ( QS. Al-Hadid: 21)

Shalat, sedekah, dzikir, dakwah dan ibadah lainnya yang ikhlas karena Allah sesuai tuntunan NabiNya, akan dapat menghapus dosa dan menaikan derajat.

Allah Menghendaki kita sebagai manusia mensikapi semua itu dengan sikap tenang, stabil, tetap imbang dan tidak kehilangan orientasi hidup yang sesungguhnya yaitu orientasi menuju akhirat. Ini tercermin di ayat 23 Surah Al Hadid, yaitu: (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.

Jangan berduka cita dan jangan terlalu gembira di dunia ini, baik dalam menghadapi susah maupun senang. Bersikaplah tetap stabil dan imbang (balance) karena pada hakekatnya dunia ini hanya fatamorgana. Segala kesulitan dunia hanyalah kesulitan yang menipu, karena jika disikapi dengan sabar maka kesulitan tersebut merupakan karunia Allah yang memberikan kita kesempatan untuk banyak-banyak bersabar dan bertaubat, yang mana itu baik bagi kita, baik bagi akhirat kita.

Sedangkan segala kesenangan dan nikmat dunia juga hanya tipuan belaka, sebab boleh jadi mengandung fitnah atau bahaya besar bagi kita karena boleh jadi kita menjadi sombong atau berlebihan sehingga kita terjatuh ke dalam dosa dan kemurkaan Allah di akhirat kelak. Na’udzubiLlahi min dzalik.


sumber: https://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

( HIKMAH ) TANGISAN NABI BAGI UMATNYA YANG BERPALING DARI AL-QUR'AN


Siapakah yang rasa cinta kasihnya kepada ummatnya melebihi Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang berdo’a untuk ummatnya sampai menangis. Bersabda Rasulullah SAW, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini suatu yang tidak diperhatikan.” (QS. Al-Furqon : 30)

Allah mengutus Malaikat Jibril agar menanyakan kenapa Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam menangis? Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam-lah yang sangat mencintai ummatnya. Dalam hadits Shahih Muslim diriwayatkan:

Dari Abdullah bin Amru bin Ash bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam membaca Firman Allah ‘Azza Wa Jalla dalam (hal perkataan) Nabi Ibrahim, “Ya Tuhanku sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ibrahim [14] : 36).

Dan seterusnya. Dan berkata Isa a.s: “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Maaidah [5] : 118).

Lalu Nabi Muhammad saw mengangkat kedua tangannya dan berkata, “Ya Alllah, ummatku ummatku” dan beliau menangis. Maka Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman, ‘Hai Jibril, temuilah muhammad, sedang Tuhanmu lebih mengetahui, lalu tanyalah dia, apa yang menjadikan kamu menangis?’ Lalu Jibril mendatangi Nabi saw dan menanyainya.

Maka Rasulullah saw memberi khabar pada-Nya dengan apa yang telah Nabi katakan, sedang Dia mengetahui. Lalu Allah berfirman, ‘Hai Jibril, temuilah muhammad, lalu katakanlah padanya: Sesungguhnya Aku akan meridhoimu dalam ummatmu dan Aku tidak menjadikanmu sedih’.” (HR. Muslim dengan Syarah An-Nawawi No. 346—202452)

Kaum yang membelakangi Al-Quran itulah yang tak tahu diri. Terbukti, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak dipersalahkan mengaduh seperti itu. Bahkan Allah sendiri mengecam keras terhadap orang-orang yang membelakangi Al-Quran atau berpaling dari Al-Quran, dengan firmanNya,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآَيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ [الكهف/57]

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya?” (QS. Al-Kahfi : 57)

Lima macam orang yang membelakangi Al-Quran itu, menurut Tafsir Mahaasinut Ta’wil 12/575 :

1. Berpaling dari mendengarkan dan mengimani Al-Quran

2. Berpaling dari mengamalkan Al-Quran walaupun membaca dan mengimaninya.

3. Berpaling dari menegakkan dan menggunakan hukum-nya.

4. Berpaling dari mengkaji dan memahami artinya.

5. Berpaling dari berobat dan mengobati orang lain dengan Al-Quran dalam seluruh penyakit hati.

Mudah-mudahan kita, keluarga kita, dan ummat Islam pada umumnya terhindar dari golongan orang-orang dzalim yang berpaling dari Al-Quran itu. Aamiin


sumber: https://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

( HIKMAH ) KISAH DUA INSAN YANG BERYUKUR DAN YANG TIDAK


Ada orang bernampilan perlente, necis dan glamour. Hidup seperti mesin waktu penghasil uang. Pergi gelap pulangnya juga gelap. Rumahnya adalah prestise dan harga diri. Rancang bangun, arsitektur, interior dan perabot adalah ukuran kelasnya. Pagar halamannya, cukuplah untuk membeli lima rumah sederhana orang biasa. Begitu indah rumahnya, begitu empuk dipan dan hangat selimutnya, tetapi matanya sukar dipenjamkan wala sekejap. Terpaksalah ia menenggak pil tidur dan penenang hanya untuk kenikmatan pulas.

Betapa mahal harga tidurnya setiap malam. Sampai tak menghiraukan lagi panggilan Shubuh dan mengucek mata di kala matahari telah tinggi.

Belum lagi baju dengan harga yang tidak rasional menurut ukuran orang kere. Tapi banyak pula dari baju-baju yang mahal itu, tidak sesuai fungsinya. Banyak bagian dari bajunya terbelah. Serba terbelah, Hingga sukarlah dibedakan antara baju dan bahan baju yang belum selesai ditautkan dengan jahitan.

Menunya asing di telinga dan sukar menyebutnya. Disajikan bak taman pengantin. Dihias rupa-rupa. Kadang dimakan tak habis. Hanya sekedar dicicip lalu berganti menu baru yang sama-sama asing dan sukar dilafalkan. Lapar bukanlah dorongan utama untuk makan. Tetapi sebagai bagian dari protokoler highclass; beginilah sesungguhnya makan dengan harga diri yang amat tinggi.

Ada orang berpenampilan sangat sederhana. Hidup serba bersahaja. Rumahnya benar-benar hanya sebatas fungsi primer; sebagai penghalang terik matahari, dari derasnya hujan dan dari derunya terpaan angin. Tetapi ia nyenyak tidurnya walau di atas kasur yang sudah menipis, lapuk dan dingin. Dan pagi-pagi buta sebelum ayam berkokok, ia sudah beraktivitas dengan kecipak air wudunya lalu berdiri mengucap syukur.

Makanannya juga bersahaja; hanya sebatas fungsi primernya dari mengganja lrasa lapar dan sekedar membuat tulang punggungnya tegak.

Namun di balik itu, kekayaan batinnya tak terkira. Investasi ruhaninya tak pernah merugi. Tabungan kebajikannya selalu berbunga karena rizkinya halal dan saham akhiratnya tak pernah anjlok karena keikhlasan. Ia berkawan baik dengan syukur dan qona’aah. Juga tidak pernah ketinggalan dengan infaq dan sedekah.

Seperti riwayat Abu Ya’la yang sampai kepada kita : Yang dinamakan kekayaan bukanlah banyaknyaharta-benda tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan jiwa (hati). (HR. Abu Ya’la).

Penyakit cinta dunia bisa menimpa siapa saja, termasuk kepada si miskin yang akan menghalalkan segala cara.

Ada begitu banyak yang kaya dengan kasat mata, tetapi sebenarnya miskin dan selalu kekurangan. Akibat terlalu takut dengan yang namanya kepastian masa depan

Karena kekurangannya ia enggan memberi. Tangannya tertutup rapat dari sedekah. Hatinya selalu menimbang rugi jika berderma.

Padahal tiap menjelang pagi malaikat turun. Yang satu berdoa: "Ya Allah, karuniakanlah bagi orang yang menginfakkan hartanya tambahan peninggalan." Malaikat yang satu lagi berdoa: "Ya Allah, musnahkan pemilik harta yg ditahannya."(Mutafaq’alaih).

Harta yang dizakati tidak akan susut (berkurang). (HR. Muslim)


sumber: https://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

( KISAH ) HIKMAH SEGELAS AIR


Khalifah Harun Al-Rasyid disaat gelisah ia sempat mengundang ulama terkemuka pada masanya, Abu As-Sammak. Nasihatilah aku! pinta Khalifah. Pada saat yang sama, pelayan membawa segelas air untuk Khalifah. Sebelum minum, sang Ulama Abu As-Sammak berkata, Tunggu sebentar. Seandainya dalam keadaan sangat haus, sedangkan segelas air ini tidak kau peroleh, berapakah harga yang kau siap bayar? Jawablah dengan penghayatan dan jujur!

Aku akan bayar Setengah dari kekayaanku, jawab Khalifah.

Sang ulama pun mempersilakan khalifah minum. Selesai minum, Abu As-Sammak bertanya lagi, Seandainya air tadi mendesak untuk dikeluarkan, tapi kau tak mampu mengeluarkannya, berapakah yang akan engkau bayarkan agar ia keluar?

Khalifah menjawab, Setengah dari kekayaanku.

Kalau demikian, maka sadarilah bahwa seluruh kekayaan dan kekuasaan yang ada di sisimu, nilainya hanya segelas air. Tidak wajar diperebutkan dan dipertahankan tanpa hak. Ketahuilah, betapa banyak nikmat Allah selain segelas air itu yang telah engkau nikmati sehingga tidak wajar jika engkau tidak mensyukurinya, nasihat sang Ulama Abu As-Sammak kepada Harun Al-Rasyid.

Dialog singkat di atas memberikan pelajaran berharga. Pertama, hendaklah para penguasa negeri (umara) dalam seluruh tingkat untuk senantiasa meminta dan mendengar nasihat para ulama, dan menerapkan Syariat Allah karena ini amanah Allah yang sangat besar kepada para Umara.

Selagi para umara masih mendengar nasihat ulama yang jujur dan ikhlas karena Allah dalam menyampaikan Risalah-Nya, maka Insya Allah negeri ini akan selamat dari murka Allah.

Kedua, nilai segelas air. Air sangat berharga dalam kehidupan manusia. Manusia akan mati jika kekurangan cairan (dehidrasi). Air adalah awal dan sumber kehidupan alam semesta. Allah turunkan air yang tidak asin dengan kadar tertentu agar mendatangkan kebaikan kepada manusia dan alam semesta. (QS Al-Waqiah [56]: 68-70).

Hikmah lainnya ialah Jangan sampai logika nafsu, pendapat dari fikiran manusia yang sempit serta egoisme, dan ilmu manusia yang serba terbatas, kecil dan relatif lemah menghalangi mereka dalam mentaati Allah dan Rosul-Nya.


sumber: https://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

( HIKMAH ) BERSYUKUR MAKA HIDUP ITU INDAH, JANGAN KALAH SAMA YAHUDI


Orang yang bersyukur selalu melihat nikmat-nikmat yang banyak itu. Kita masih mempunyai diri nikmat yang tak ternilai harganya. Pokoknya banyak sekali kenikmatan yang kita miliki dibandingkan yang hilang dari diri kita. Al Fudhail bin Iyadh berkata, “Tetaplah mensyukuri nikmat, sebab jarang sekali nikmat yang telah hilang akan datang kembali. Sesungguhnya yang sangat mengetahui nikmat air itu hanya orang-orang yang benar-benar haus”.

Sebaliknya, orang yang tidak bersyukur lebih melihat nikmat yang hilang dari dirinya. Mungkin karena ia lebih sering melihat ‘ke atas’ (orang yang lebih banyak nikmatnya dari dirinya) bukan sering melihat ‘ke bawah’ (orang yang lebih sedikit nikmatnya dari dirinya). Inilah makna syukur berikutnya.

“Life is Beautiful”. Film tersebut mengisahkan seorang Yahudi yang ditangkap bersama anaknya oleh Nazi Jerman. Berbeda dengan teman-temannya yang merasa sedih dan frustasi karena ditangkap dan sebentar lagi akan dikirim ke kamar gas Nazi Jerman, Benigno justru tetap gembira dan bahagia. Apalagi ia tak ingin agar anaknya turut sedih atas apa yang dialaminya. Ia memberi tahu anaknya bahwa apa yang terjadi hanyalah permainan belaka. Ia berupaya menghadirkan keceriaan di tengah-tengah maut yang segera menghampirinya.

Yahudi saja bisa, masa kita yang muslim tidak bisa apalagi Allah janjikan Rahmat dan kemudahan serta limpahan pahala setelah sabar dalam kesempitan, karena Allah SWT.


sumber: https://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

Senin, 31 Maret 2014

( HIKMAH ) ISLAM MENGANGKAT HARKAT DAN DERAJAT KAUM WANITA


Tiap orang baik laki-laki maupun wanita mempunyai kesempatan yg sama untuk berprestasi. An-Nisa ayat 32, Allah berfirman “Bagi orang laki-laki terdapat bagian dari apa yg mereka usahakan dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yg mereka usahakan.”

Dan ketika wanita mantab untuk tetap berjuang di wilayah mereka, berjilbab, mendidik anak, bukan berarti wanita menjadi rendah dari pada laki- laki. Dalam Al-Qur’an, “Barangsiapa yg mengerjakan amal saleh, baik laki2 maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yg baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yg lebih baik dari apa yg telah mereka kerjakan “ (QS. An-Nahl : 97)

Bandingkan bila di Yunani dahulu, wanita hanya dianggap sebagai pemuas nafsu biologis saja. Sudah menjadi kebiasaan bagi mereka memperjual belikan wanita selayaknya hewan.

Lihatlah para musuh islam kini yang katanya mengusung kebebasan dan memerdekakan wanita dengan doktrin versi mereka. Mungkin dalam pandangan manusia mereka terlihat baik- baik saja, tapi pada kenyataannya pastilah hidup mereka terlihat kacau.

Betapa tidak, hal yang mereka ucapkan sebagai pegangan dan pandangan hidup pun juga tidak jelas. Tentu sajalah, tidak akan mungkin ada seorang manusia yang mampu menandingi patennya aturan Allah yang maha dahsyat kemampuannya dalam mengatur hidup manusia.

Maka kasihanilah mereka. Karena sejatinya mereka seperti bersandar pada sandaran yang sangat rapuh, yang ketika roboh bahkan bisa menimpa tubuh mereka sendiri.

Laki- laki memiliki wilayah sendiri, pun demikian dengan wanita. Laki- laki memiliki fisik yang lebih kuat, akal dan logika yang lebih dari pada wanita. Karena itulah mereka dipersiapkan untuk hidup diluar rumah, menghadapi segala konflik dan masalahnya.

Sedangkan wanita lebih lembut, dan memiliki naluri sebagai seorang ibu yang telaten dan mengayomi lebih dari pada laki- laki. Untuk itu, Allah memberi ladang dakwah para wanita yang pas yaitu di rumah. Mereka bertugas menjaga anak, dan membereskan rumah suaminya. Dan ini bukan berarti mereka tidak termuliakan dibanding para laki- laki. Sungguh, Allah maha kuasa dalam pengaturan terhadap kebutuhan manusia.

Islampun juga memuliakan wanita untuk urusan pernikahan, tidak boleh siapapun memaksakan kehendak kepada mereka untuk menikah dengan laki- laki yang tidak mereka sukai. Begitulah islam melindungi wanita. Karena wanita bukan hanya sebagai obyek yang pantas dinikahkan atau dimiliki siapapun, tanpa keridoan mereka sendiri.

Pemuliaan Islam terhadap para wanita juga terlihat jelas melalui Hadist Nabi Muhammad SAW. Beliau bersabda “Sesungguhnya orang yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik ahlaknya, dan paling ramah terhadap istrinya.”

Maka lihatlah betapa agungnya islam melindungi hak- hak wanita. Saksikan pula betapa hanya dengan aturan islam, kau akan lebih dihormati. Maka kenalilah islam yang sebenar- benarnya. Pelajarilah islam dengan seutuhnya.

Pandaikan diri dengan mempelajari aturan yg telah diberikan oleh Allah. Gunakan iman dan akalmu dan jangan hanya sekedar termakan fitnah manusia yg berhati dengki dan ingin merusak kemuliaan islam


sumber: https://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

Kamis, 27 Maret 2014

( HIKMAH ) DAMPAK MEMANDANG REMEH SESEORANG

“Aku anak terakhir dari 4 bersaudara” Jawab temannya. “kakak- kakakmu sudah pada kerja donk pastinya?” tanyanya kembali. “Yo'a, yang satu jadi dokter, jadi pengusaha, dan montir”
“Haa Montir? Kenapa berbeda sekali? Apa ortumu tidak kecewa dengan saudaramu itu? Anak-anaknya yang lain jadi “orang” semua, kamupun sekolah di sekolah favorit ini.” tanya siswa yang pertama dengan kaget
“Oh nggak, justru karena kakak tertuaku jadi montir itu, kami adik- adiknya merasa bersyukur. Dia bisa membiayai sekolah kami sampai akhirnya aku bisa disini. Dan kakakku yang lain malah ada yang jadi dokter” Jawab temannya.
Begitulah, kadang tanpa disadari sengaja atau tidak, kadang kita gampang banget buat penilaian tentang seseorang dan sesuatu.
Dan selanjutnya, dari penilaian itu, kita juga gampang memutuskan seperti apa sikap yang akan kita lakukan. Padahal, kita setujui atau nggak, cara pandang itulah, yang akan membentuk karakter dan menjelaskan tentang jati diri kita yang sebenarnya.
Kalau kita adalah orang yang positif, alias selalu optimis dan jarang ngeluh atas apapun yang datang ke hidup kita, maka insyaAllah akan baiklah kehidupan kita kedepannya.
Sebaliknya, kalau kita adalah orang yang cenderung menilai dengan negatif dan instan atas apapun yang kita lihat dan alami, maka itu sama saja kita memperburuk kehidupan kita sendiri.
Bahkan dengan kata lain, kita membatalkan doa- doa kebaikan yang kita ingin Allah hadirkan dalam hidup kita, bahkan sebelum doa itu sempat kita panjatkan. Akibat buruk sangka dan kedengkian hati.
Jangan pernah underestimate alias memandang rendah seseorang hanya dari tampilan luar, atau kesan sekilas. Karena hal yang paling penting adalah bukan tentang siapa dia, tetapi adalah tentang apa yang udah dia lakukan untuk sesamanya ikhlas karena Allah SWT sebagai bentuk puncak manfaat hidup bagi manusia yaitu beribadah kepada-Nya.
Berpegang teguh kepada nilai-nilai Agama Allah, walaupun ia tidak dikenal, bisa jadi diistimewakan Allah akibat ketulusannya mengabdi kepada Allah dalam kehidupan yang diamanahkan-Nya.
"Tidaklah Kuciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku" (QS. Adz Dzariat :56)


( Informasi ) Kajian Ilmiah "Peristiwa penting yang patut diketahui pada Akhirzaman menurut Hadits"
Pembicara :
Ust. Abu Fatiah
Ust. Abdurrochim
Ust. Haris Amir Falah
Ahad, 28 Jumadil Awal 1435 H | 30 Maret 2014 Jam. 08.00 s/d selesai
Masjid Al Muhajirin. Jl. Dr. Semeru Raya No. 1 Grogol, Jak-Bar. Konfirmasi : 021-5602444

sumber: Fanspage Yusuf Mansur Network