Tampilkan postingan dengan label sedekah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sedekah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 September 2014

LOGIKA GAJIAN DAN BALASAN ALLAH BAGI YG BERSEDEKAH


Kami bertemu dalam satu forum pelatihan profesi keguruan yang diprogram sebuah LSM. Tapi, saya justru mendapat banyak pelajaran bernilai bukan dari pelatihan itu. Melainkan dari pria ini. Saya menduga ia berasal dari kelas sosial terpandang dan mapan. Karena penampilannya rapih, menarik dan wajah yang tampan. Namun tidak seperti yang saya duga, Mas Ajy berasal dari keluarga yang pas-pasan. Jauh dari mapan. Sungguh kontras kenyataan hidup yang dialaminya dengan sikap hidup yang dijalaninya. Sangat jelas saya lihat dan saya pahami dari beberapa kali perbincangan yang kami bangun.

Satu kali kami bicara tentang penghasilan sebagai guru. Bertukar informasi dan memperbandingkan nasib kami satu dengan yang lain, satu sekolah dengan sekolah lainnya. Kami bercerita tentang dapur kami masing-masing. Hampir tidak ada perbedaan mencolok. Kami sama-sama bernasib "guru" yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa. Yang membedakan sangat mencolok antara saya dan Mas Ajy adalah sikap hidupnya yang amat berbudi. Darinya saya tahu hakikat nilai di balik materi.

Penghasilannya sebulan sebagai guru kontrak tidak logis untuk membiayai seorang isteri dan dua orang putra-putrinya. Dia juga masih memiliki tanggungan seorang adik yang harus dihantarkannya hingga selesai SMA. Sering pula Mas Ajy menggenapi belanja kedua ibu bapaknya yang tak lagi berpenghasilan. Menurutnya, hitungan matematika gajinya barulah bisa mencukupi untuk hidup sederhana apabila gajinya dikalikan 3 kali dari jumlah yang diterimanya.

"Tapi, hidup kita tidak seluruhnya matematika dan angka-angka. Ada dimensi non matematis dan di luar angka-angka logis."

"Maksud Mas Ajy gimana, aku nggak ngerti?"

"Ya, kalau kita hanya tertuju pada gaji, kita akan menjadi orang pelit. Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena berapapun sebenarnya nilai gaji setiap orang, dia tidak akan pernah merasa cukup. Lalu dia akan berkata, bagaimana mau sedekah, untuk kita saja kurang."

"Kenyataannya memang begitu kan Mas?", kata saya mengiayakan. "Mana mungkin dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup tenang, bisa sedekah. Bisa berbagi." Saya mencoba menegaskan pernyataan awalnya.

"Ya, karena kita masih menggunakan pola pikir matematis. Cobalah keluar dari medium itu. Oke, sakarang jawab pertanyaan saya. Kita punya uang sepuluh ribu. Makan bakso enam ribu. Es campur tiga ribu. Yang seribu kita berikan pada pengemis, berapa sisa uang kita?"

"Tidak ada. Habis." jawab saya spontan.

"Tapi saya jawab masih ada. Kita masih memiliki sisa seribu rupiah. Dan seribu rupiah itu abadi. Bahkan memancing rezeki yang tidak terduga."

Saya mencoba mencerna lebih dalam penjelasannya. Saya agak tercenung pada jawaban pasti yang dilontarkannya. Bagaimana mungkin masih tersisa uang seribu rupiah? Dari mana sisanya?

"Mas, bagaimana bisa. Uang yang terakhir seribu rupiah itu, kan sudah diberikan pada pengemis ", saya tak sabar untuk mendapat jawabannya.

"Ya memang habis, karena kita masih memakai logika matematis. Tapi cobalah tinggalkan pola pikir itu dan beralihlah pada logika sedekah. Uang yang seribu itu dinikmati pengemis. Jangan salah, bisa jadi puluhan lontaran doa’ keberkahan untuk kita keluar dari mulut pengemis itu atas pemberian kita. Itu baru satu pengemis. Bagaimana jika kita memberikannya lebih. Itu dicatat malaikat dan didengar Allah. Itu menjadi sedekah kita pada Allah dan menjadi penolong di akhirat. Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang abadi. Sementara nilai bakso dan es campur itu, ujung-ujungnya masuk WC."

Subhanallah. Saya hanya terpaku mendapat jawaban yang dilontarkannya. Sebegitu dalam penghayatannya atas sedekah melalui contoh kecil yang hidup di tengah-tengah kita yang sering terlupakan. Sedekah memang berat. Sedekah menurutnya hanya sanggup dilakukan oleh orang yang telah merasa cukup, bukan orang kaya. Orang yang berlimpah harta tapi tidak mau sedekah, hakikatnya sebagai orang miskin sebab ia merasa masih kurang serta sayang untuk memberi dan berbagi.

Penekanan arti keberkahan sedekah diutarakannya lebih panjang melalui pola hubungan anak dan orang tua. Dalam obrolannya, Mas Ajy seperti ingin menggarisbawahi, bahwa berapapun nilai yang kita keluarkan untuk mencukupi kebutuhan orang tua, belum bisa membayar lunas jasa-jasanya. Air susunya, dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya dan sejagat haru biru perasaanya. Tetapi di saat bersamaan, semakin banyak nilai yang dibayar untuk itu, Allah akan menggantinya berlipat-lipat.

“Terus, gimana caranya Mas, agar bisa menyeimbangkan nilai metematis dengan dimensi sedekah itu?”.

“Pertama, ingat, sedekah tidak akan membuat orang jadi miskin, tapi sebaliknya menjadikan ia kaya. Kedua, jangan terikat dengan keterbatasan gaji, tapi percayalah pada keluasan rizki. Ketiga, lihatlah ke bawah, jangan lihat ke atas. Dan yang terakhir, padukanlah nilai qona’ah, ridha dan syukur”. Saya semakin tertegun

Dalam hati kecil, saya meraba semua garis hidup yang telah saya habiskan. Terlalu jauh jarak saya dengan Mas Ajy. Terlalu kerdil selama ini pandangan saya tentang materi. Ada keterbungkaman yang lama saya rasakan di dada. Seolah-oleh semua penjelasan yang dilontarkannya menutup rapat egoisme kecongkakan saya dan membukakan perlahan-lahan kesadaran batin yang telah lama diabaikan. Ya Allah saya mendapatkan satu untai mutiara melalui pertemuan ini. Saya ingin segera pulang dan mencari butir-butir mutiara lain yang masih berserak dan belum sempat saya kumpulkan.

Sepulang berjamaah saya membuka kembali Al-Qur’an. Telah beberapa waktu saya acuhkan. Ada getaran seolah menarik saya untuk meraih dan membukanya. Spontan saya buka sekenanya. Saya terperanjat, sedetik saya ingat Mas Ajy. Allah mengingatkan saya kembali:

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Terjemah QS. Al-Baqarah [2] 261) By Abdul Mutaqin.


sumber: https://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

Rabu, 09 Juli 2014

KEUTAMAAN BERSEDEKAH DIBULAN RAMADHAN


Shadaqah di bulan Ramadhan lebih utama dibandingkan di luar Ramadhan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya dengan bulan muwasah/saling tolong menolong. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat dermawan di bulan Ramadhan, tepatnya ketika malaikat Jibril menemuinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan terhadap hartanya daripada angin yang berhembus.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa memberi buka puasa pada orang yang berpuasa maka baginya semisal pahala mereka tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala mereka.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Darimi. Jami Shahihah )

Hadits ini menunjukkan keutamaan shadaqah di bulan Ramadhan, terlebih lagi bulan Ramadhan adalah bulan puasa. Orang-orang yang kekurangan ditimpa rasa lapar dan haus, namun di tangannya hanya ada sedikit harta. Sehingga ketika ada orang yang mendermakan hartanya kepada mereka pada bulan tersebut, mereka mendapatkan bantuan untuk menaati Allah ta’ala di bulan tersebut.

Ketaatan yang dilakukan pada waktu atau tempat yang memiliki keutamaan menyebabkan amalan tersebut berlipat-lipat. Oleh sebab itu pahala amalan menjadi berlipat-lipat disebabkan kemuliaan suatu waktu sebagaimana juga berlipat-lipat karena kemuliaan suatu tempat.

Seperti shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Shalat di masjidil haram senilai dengan 100.000 shalat di masjid lainnya dan shalat di Masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah senilai dengan 1000 kali shalat di masjid yang lainnya. Hal ini disebabkan karena kemuliaan suatu tempat. Maka demikian juga, kemuliaan suatu waktu menyebabkan amalan-amalan kebaikan yang dikerjakan di dalamnya menjadi berlipat-lipat. Sedangkan waktu yang paling besar kemuliaannya adalah bulan Ramadhan.

Mudah-mudahan Allah menjadikan kita berhasil menjalani Ramadhan sebagai ajang melakukan kebaikan, ketaatan serta untuk menaikkan derajat. Aamiin Yaa Robbal 'alamiin.


sumber: https://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

Sabtu, 24 Mei 2014

BERSEDEKAH YANG TERBAIK AKHIRNYA PUNYA RUMAH SENDIRI DENGAN IZIN ALLAH SWT


Sedekah, memang sudah jadi kebutuhan hidup keluarga Hj Fida. Saya pernah jatuh bangkrut habis-habisan. Sedekahlah yang membuat kami bangkit, katanya, saat berbagi pengalaman di Ponpes Daarul Quran Bulaksantri, Tangerang, beberapa waktu lalu. Waktu itu, beberapa tahun silam, usaha Hj Fida dan suami masih menjadi tumpuan nafkah sekeluarga sepenuhnya. Putra-putri mereka, Zascia A Mecca dan Haikal, baru coba-coba masuk ke dunia seni peran. Apa hendak dikata, bisnis milyaran rupiah yang dijalankan Hj Fida bersama suami, bangkrut. Mobil dan rumah sampai dilego untuk menutupi sebagian utang itu. Keluarga ini pun hijrah ke rumah orangtua Hj Fida. Sabar ya Mah, insya Allah nanti kami akan bangkit lagi, Hj Fida menghibur ibunda yang cemas dengan kehidupan putrinya. Laku spiritual pun mulai dijalani Hj Fida dan suami.

Sejak saat itu, setiap hari meski ibaratnya barang sebungkus nasi, Hj Fida sekeluarga mewajibkan diri bersedekah. Anak-anak misalnya, bederma kepada tukang kebon sekolah, sampai mereka hafal dengan kebiasaan putra-putri Hj Fida ini. Jalan terang mulai nampak. Ayahanda Hj Fida, ter-nyata masih memiliki tanah luas yang telantar di bilangan Cinere. Padahal, lokasinya sangat potensial untuk dikembangkan. Dengan modal tanah warisan itulah, Hj Fida men- coba membangun perumahan. Investor didapat. Pelan-pelan, usahanya mulai bangkit.

Ketika berkunjung ke seorang kawan di daerah Cianjur, ia terbelalak. Sedekahnya gila-gilaan. Ratusan anak yatim dia hidupi. Berapa ratus bungkus nasi tuh setiap hari dia sedekahkan. Pantesan rejekinya ngalir lancar, kenang Hj Fida, yang kemudian mengikuti jejaknya. Sedekah gila-gilaan. Ketika Hj Fida butuh uang banyak lagi untuk membangun unit-unit rumah baru, tak dinyana rejeki gurih datang sendiri. Mamang yang punya tanah menawarinya share Rp 2,5 M kontan. Tentu saja kesempatan ini tak ditolak. Bisnis property mereka pun makin moncer. Kini, keluarga Hj Fida sudah tinggal di rumah sendiri.

Anak-anak mereka pun sudah bisa menghidupi diri sen- diri, juga menabung. Kewajiban saya kepada pihak lain belum selesai sepenuhnya. Namanya juga bisnis. Tapi Alhamdulillah, usaha kami lancar, insya Allah bisa menutupnya, Hj Fida bersyukur. (Gadis Izdihar) (sumber buku DAHSYATNYA SEDEKAH1)

( Kuncinya Harta yang paling dicintai )

Allah SWT Berfirman

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (Ali Imran: 92)

Dalam sebuah riwayat berkenaan ayat tsb, Sahabat Abdullah bin Umar ketika mendengar ayat, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” Kemudian beliau teringat bahwa tidak ada harta yang paling ia cintai selain budak wanita dari Romawi. Maka beliau pun membebaskan budak wanita tersebut dalam rangka untuk mencari keridhaan Allah.
Demikianlah hendaknya seorang muslim.

Mempunyai tekad yang kuat untuk menyedekahkan harta terbaik dan yang paling dicintai. Yaitu harta yang berharga dan yang dicintai oleh hawa nafsu. Hingga terbukti kejujurannya dalam beramal karena Allah dari pada menuruti hawa nafsunya. Maka seandainya seorang hamba lebih mendahulukan kecintaan Allah dari pada kecintaan terhadap harta, tentu ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapat keridhaan-Nya.

Termasuk dengan menyedekahkan harta yang berharga dan bersedekah dengan harta yang sangat ai butuhkan serta bersedekah ketika dalam kondisi sehat. Karena yang demikian menunjukkan kejujuran iman, kejernihan hati dan kekuatan takwanya.

Sebagai penutup renungilah ayat berikut ini dengan penuh penghayatan dan keimanan.

Allah SWT memanggil mereka yang beriman, artinya, "Wahai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan darinya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.’ (Al-Baqarah: 267)


sumber: https://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

Senin, 28 April 2014

BAGAIMANA SEDEKAH SEBAGAI WASILAH DAN DOA UNTUK PENGOBATAN


“Obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan bersedekah” (Hadits ini dihasankan di dalam Shahih al-Jami’).
Dengan demikian, bersedekah, selain akan membuat harta kita berkah dan bermanfaat, jika bisa menjadi wasilah datangnya kesembuhan dari Allah Swt atas penyakit yang diderita. Ulama Syaikh Sulaiman Bin Abdul Karim Al-Mufarrij sebagaimana dikutip Al-Sofwah berkata: “Wahai saudaraku yang sedang sakit, sedekah yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah sedekah yang diniatkan untuk memperoleh kesembuhan. Boleh jadi, Anda telah banyak melakukan sedekah, tetapi hal itu tidak Anda lakukan dengan niat untuk mendapatkan kesembuhan dari Allah Swt.

Oleh karena itu, coba Anda lakukan sekarang dan tumbuhkanlah kepercayaan dan keyakinan bahwa Allah Swt akan menyembuhkan diri Anda. Isilah perut para fakir miskin hingga kenyang, atau santunilah anak yatim, atau wakafkanlah harta Anda, atau melakukan sedekah jariah, karena sesungguhnya sedekah itu dapat mengangkat dan menghilangkan berbagai macam penyakit dan berbagai macam musibah dan cobaan…

Wahai saudaraku yang sedang sakit, janganlah Anda bakhil terhadap diri Anda sendiri. Sekaranglah waktunya untuk sedekah” (Shifatun ‘Ilaajiyyah Tuzilu Al-Amraadh bi Al-Kulliyyah).

Ada seseorang bertanya kepada Abdullah Bin Mubarak rahimahullah, tentang penyakit lututnya yang telah diderita sejak tujuh tahun. Dia telah melakukan bermacam usaha untuk mengobatinya dan telah bertanya kepada para dokter, tetapi belum merasakan hasil. Maka Abdullah Bin Mubarak rahimahullah, berkata kepadanya:

“Pergilah Anda mencari sumber air dan galilah sumur di situ karena orang-orang membutuh-kan air! Aku berharap ada air yang memancar di situ”.

Maka orang itu pun melakukan apa yang disarankan oleh beliau, lalu dia pun sembuh” (Shahih At-Targhib).*


sumber: