Senin, 28 Oktober 2013

Sumpah Pemuda - Ust Salim A. Fillah


1. Mari di Sumpah Pemuda ini kita daras kembali Quran suci; mengambil ruh #AshabulKahfi, tuk kemudaan jiwa hadapi zaman nan cepat berganti.
2. Para pemuda selalu hadirkan pesona. Lihatlah mereka; bahkan tidurnya pun membawakan perubahan, apalagi jika mereka terjaga. #AshabulKahfi
3. Muda identik dengan ‘hijau’. Masih hijau artinya terus tumbuh, berkembang, & menghasilkan. Sementara yang matang, membusuk. #AshabulKahfi
4. Muda identik dengan tak berpengalaman. Pengalaman berarti cara lama tuk hadapi masalah baru. Pemuda; menerobos rintisan. #AshabulKahfi
5. Muda identik dengan kebersamaan dalam prihatin. Kita kadang lebih sulit bersatu jika merasa telah banyak berpunya, berdaya. #AshabulKahfi
6. Muda identik dengan kejelasan sikap. Hitam-/-putih. Ya-/-tidak. Tak ada jalan ketiga. Ini idealisme perjuangan yang kokoh. #AshabulKahfi
7. Muda identik dengan gejolak. Titik temu dari ragam gejolak jadi pendobrak. Ia pintu masa depan, bukan tenang menghanyutkan. #AshabulKahfi
8. Muda identik dengan kejelitaan & ketangguhan fisik. Kedua hal ini akan membantu ide perubahan untuk tampil segar & cantik. #AshabulKahfi
9. Muda identik dengan ketergesaan, inginnya wujud sekilat. Maka disabarkan, ‘tidurkan gelora’ senyampang perangkat disiapkan. #AshabulKahfi
10. Muda identik dengan masa ketergodaan & gelimang nikmat. Maka mereka nan memilih sunyi di jalan perjuangan, pasti istimewa. #AshabulKahfi

sumber: @salimafillah

Minggu, 13 Oktober 2013

Laksana Sebuah Alif

"Jika kita lelah dalam melakukan kebaikan maka ingatlah rasa lelah itu akan segera hilang, sedang kebajikan akan kekal dalam keabadian." (Ali bin Abi Thalib).

Pernah melihat anak-anak TK/PAUD ketika belajar? Mereka sangat bersemangat untuk melakukan sesuatu. Antusias dan keaktifan mereka tercermin ketika Ibu guru bertanya atau meminta seorang anak untuk melakukan sesuatu, semua siswa menunjuk jari.
Lalu coba bandingkan dengan keadaan kaum Muslimin sekarang, mungkin karena kesibukan dunia dalam mencari nafkah dll. Mereka lebih cenderung memilih untuk diam dan menjadi penonton saja.
Lihatlah Alif, simbol huruf hijaiyah pertama dalam perbendaharaan bahasa Arab dan Al-Qur'an ini begitu kokoh berdiri, alif tidak goyah ketika diseru. Alif merupakan simbol dari ketangguhan seorang insan untuk tegak berdiri menjadi pembuka dan orang pertama. Tidak bersembunyi di belakang layar atau menjadi seorang supporter saja. Alif tampil menjadi pemain pertama dalam pertandingan.
Tak sedikit juga kita sering melihat, seorang muslim yang lebih memilih menunda-nunda kebaikan yang bisa dia lakukan hari ini, untuk dilakukan esok dan kemudia hari. Lihatlah pula seorang insan yang diseru untuk meninggalkan kemaksiatan yang ia lakukan, dia pun berkata, "Nanti, ketika saya tua, maka saya akan bertaubat!"
Miris sekali rasanya, ditengah kemerosotan kepemimpinan Islam, kita malah asyik terbuai oleh bunga-bungan dunia yang membuai dan sifatnya hanya sementara ini. Lalu siapa lagi yang akan menjaga agama Islam ini kalau bukan orang muslim sendiri. Tak dapat dibayangkan bagaimana nanti sepeninggalan kita, anak dan cucu kita akan bertambah kemerosotannya tentang Islam, jika kita generasi sekarang, cenderung pasif dan berkata "nanti."

Allah SWT dalam firman-Nya.
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali-Imran : 133).

Saya pernah mendengar seorang kawan menyampaikan tentang nasehat dari seorang ayah.
"Jika kita bisa duduk, mengapa memilih berbaring. Jika kita bisa berdiri, mengapa memilih duduk. Jika kita bisa berjalan mengapa memilih hanya berdiri. Jika kita bisa berlari, lalu mengapa kita hanya memilih berjalan?"

Ya, tidaklah patut rasanya beristirahat atau hanya memilih menjadi penonton saja, ditengah kemerosotan Islam yang sangat memerlukan orang-orang yang militan untuk berjuang. Apa yang sudah kita berikan untuk Islam, sehingga merasa layak untuk beristirahat. Jikapun kita harus beristirahat karena oayah, beristirtahatlah untuk perjuangan esok yang lebih berat. Meski sesungguhnya hari esok belum tentu ada. Sepahit apapun perjuangan, cobalah untuk mengambil bagian, di mana pun kita bisa berkorban.

"Pemburu Surga tidak akan berhenti pada tahap mimpi. Ada yang harus duwujudkan, ada pengorbanan yang harus dikeluarkan, dan ada amal dan karya nyata yang harus dipersembahkan. Jika kita rasakan beratnya  kaki menapak dan letihnya bersabar karena menunaikan urusan pribadi. Itulah indikasi jawaban dari sebuah petanyaan, "mengapa perjuangan itu pahit?" Karena sesungguhnya Surga itu manis."

hanya orang-orang pilihanlah yang berani berazam akan menjadi orang pertama dalam mengorbankan waktu, harta dan bahkan nyawa.

((Tak Berhenti pada Sebuah Alif - Rofi' Maryam)

Menempuh Perjalanan Cahaya

"Jangan tetapkan harga dirimu kecuali dengan Surga. Jiwa orang beriman itu mahal, tapi sebagian dari mereka menjualnya dengan harga murah." (Hasan Al-Bashri yang dinukil Aidh Al-Qarni dalam bukunya Laa Tahzan).

"Bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi, dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Jumu'ah : 11).

"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?" (QS. Ash-Shaff : 10).
"(Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan Jihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya." (QS. Ash-Shaff : 11).
"Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam Surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar." (QS. Ash-Shaff : 12).
"Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman." (QS. Ash-Shaff : 13).
"Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia : "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untukku menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata, "kami lah penolong agama Allah." Lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir, maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang." (QS. Ash-Shaff : 14).

Saudaraku, saat ini kita sedang berdagang dengan Allah, kita melakukan jual-beli dengan-Nya, maka dengan apa Allah akan membeli diri kita dan dengan apa kita jual diri kita?
Saudaraku, saat Allah menawarkan Surga, apa yang akan kita lakukan, maukah kalian? Tentu saja! Tak ada alasan untuk menolaknya.
Dan ingat! Berbangga dirilah kita yang telah melakukan perdagangan dengan Allah. Allah Yang Maha Memiliki Keindahan, Allah yang selalu kita rindukan untuk bertemu dengan-Nya, dan Allah yang tidak ada Tuhan melainkan Dia. Sekarang ayo tersenyum ikhlas karena kita adalah salah satu yang beruntung dapat berhubungan dengan Allah melalui perdagangan-Nya. Mari kita review lagi siapa saja yang telah berhasil melakukan perdagangan itu selain Rasul Allah?

1. Abu Bakar yang sangat berbahagia dengan adanya ayat, "Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu yang menafkahkan hartanya di jalan Allah untuk membersihkannya." (QS. Al-Lail : 17-18).

2. Umar bin Khattab yang sangat berbahagia dengan hadist Rasulullah Saw, "Aku melihat sebuah istana putih di Surga. Lalu aku bertanya, " Untuk siapa istana itu?" Dikatakan kepadaku, "Untuk Umar bin Khattab." (HR. Al-Bukhari).

3. Ali bin Abi Thalib yang sangan bahagia atas sabda Rasulullah Saw, "Dia (Ali) adalah lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dicintai Allah dan Rasul-Nya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

4. Utsman bin Affan yang sangat berbahagia karena doa Rasululla Saw, "Ya Allah ampunilah Utsman apa yang telah lalu dan yang akan datang." (HR. Ahmad dalam Al-Musnad 4/75).

5. Sa'ad bin Mu'adz yang demikian bahagia atas sabda Rasulullah Saw, "Bergoyanglah 'Arsy Yang Maha Pengasih karenanya." (HR. Al-Baihaqi dari Ibnu Umar Ra., HR. Jabir bin Abdullah Ra.).

6. Abdullah bin Amr Anshari yang sangat bahagia dengan adanya sabda Rasulullah Saw, " Dia diajak bicara Allah langsung tanpa penerjemah."

7. Hamzah bin Abdul Muthalib, bergembira atas sabda Rasulullah Saw, "Jibril datang kepadaku untuk mengabarkan bahwa Hamzah bin Abdul Muthalib dicatat oleh para malaikat penghuni langit lapis tujuh sebagai singa Allah dan singa Rasul-Nya." (HR. Ath-Thabrani).

8. Bilal bin Rabbah bergembira atas sabda Rasulullah Saw, "Aku pernah diperlihatkan Surga lalu aku melihat istri Abu Thalhah kemudian aku mendengar suara gesekan benda-benda kering di hadapanku dan ternyata itu adalah (suara langkah) Bilal." (HR. Jabir bin Abdullah Ra.).

9. Ja'far bin Abu Thalib bergembira ketika Rasulullah bersabda, "Aku melihat Ja'far di Surga punya sepasang sayap yang berlumuran darah." (Asma' binti Abu Bakar).

10. Abdullah bin Rawahah bergembira ketika Raulullah Saw bersabda, "Sebaik-baik orang ialah Abdullah bi Rawahah."

11. Amr bin Al Jamuh bergembira tatkala Rasululla bersabda "Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku melihat kaki pincang Amr bin Al Jamuh melangkah ke Surga dengan tertatih."

12. Hanzhalah yang sangat bahagia dengan adanya sabda Rasululla Saw, "Dia dimandikan oleh para malaikat Dzat Yang Maha Pengasih."

13. Fathimah Az-Zahra adalah wanita pertama yang akan memasuki Surga. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

14. Khadijah binti Khuwalid atas sabda Rasulullah, Rasulullah Saw pernah menyampaikan kabar gembira kepada Khadijah binti Khuwalid tentang sebuah rumah di Surga. (HR. Aisyah Ra.).

15. Keluarga Yasir, yang begembira atas sabda Rasulullah, "Bergembiralah kalian, hai keluarga Yasir. Sesungguhnya tempat kalian adalah Surga."

Tetapkan satu tujuan dalam hidup ini, hingga kita berusaha dan berjuang hanya untuk mencapai tujuan itu. Berikan motivasi pada diri agar dapat mengejar tujuan kita dengan semangat yang tidak hanya lahir dari diri sendiri, tapi juga muncul dari lingkungan di sepanjang perjalanan kita.
Saudaraku....
Dengan menetapkan keputusanmu untuk selalu menapaki jalan ini, maka kita juga harus mempersiapkan bekal selama perjalanan yang bisa dibilang tiada akhir ini.
Maka bekal kita dalam perjalanan cahaya ini adalah keimanan yang tajam dan telah menghujam dalam di hati masing-masing.
Sebaik-baik manusia adalah yang dapat menyebarkan kebaikan, dan dapat ditiru oleh orang lain sesudahnya. Saling berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan, hingga kita tahu arah tujuan kita sebelum mengerjakan kebaikan itu hanyalah untuk Allah semata. Apa-apa saja rambu-rambu hingga kelak terjawablah pertanyaan yang sering muncul dibenak kita, "Mengapa perjuangan itu pahit?" ("Karena sesungguhnya Surga itu manis").

(Tak Berhenti pada Sebuah ALIF - Rofi' Maryam)

Rabu, 11 September 2013

Antara Hijab, Jilbab dan Khimar

Assalamu'alaikum cantik, hari ini mimin mau share tentang hijab, jilbab dan khimar niiih. Yuuuk simaak #HijabMuslimah Bismillahirrahmaanirrohiim. Sebenarnya ada yg tau gak sih apa makna antara hijab dan jilbab? Hayo yg tau bisa dijawab, jangan pelit ilmu ntar kuburannya sempit #HijabJilbabKhimar #HijabMuslimah
Yuuk kita ramaikan kultweet dengan #HijabDanMuslimah . agar semakin banyak perempuan muslimah yg lebih cantik dgn jilbab syar'inya :) Terakadang kita sebagai perempuan suka terkecoh apa makna jilbab, hijab dan khimar yang sesungguhnya. Untuk itu hari ini kita akan ngebahas #JilbabHijabKhimar #HijabMuslimah #Hijab menurut Al Quran artinya penutup secara umum, Allah SWT. dalam surat Al Ahzab ayat 59 memerintah kepada para shahabat Nabi Saw Ada waktu mereka meminta suatu brg pd istri Nabi Saw utk memintanya dari balik hijab. Jadi, #Hijab berarti umum, bisa berupa tirai pembatas. #Hijab biasa juga digunakan sebagai pembatas interaksi saat sedang syuro. Pernah lihat ada yg rapat dgn menggunakan #Hijab? ^_^ #Hijab berasal dari kata hajaban yang artinya menutupi, dengan kata lain al-Hijab adalah benda yang menutupi sesuatu. ^_^ Tentunya yang dimaksud dengan ‘penghalang’ adalah menghalangi pandangan dari yang tidak seharusnya dilihat (baca: aurat). #Hijab Nah ada lagi nih tentang --> #Jilbab #Jilbab. Hal ini tertuang dlm perintah Allah > Al-Ahzab ayat 59 "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke sluruh tubuh mereka..." #Jilbab berarti selendang, atau pakaian lebar yang dipakai wanita untuk menutupi kepala, dada dan bagian belakang tubuhnya." Dapat kita ambil kesimpulan bahwa #jilbab pada umumnya adalah pakaian yang lebar, longgar dan menutupi seluruh bagian tubuh :)) sebagaimana disimpulkan oleh Al Qurthuby: "Jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh." Kecuali Wajah dan telapak tangan. #Jilbab :) Adapun #jilbab dlm surat Al-Ahzab (33) : 59, sebenarnya adalah baju longgar yang menutupi seluruh tubuh perempuan dari atas sampai bawah:) Sudah terlihat jelas Shalihat, perbedaan antara #Hijab dan #Jilbab? Maka kembalikan pada kata asalnya dlm Al-Ahzab : 59. Berjilbablah^^ Kemudian #Khimar, ini yg biasa disebut dgn #Kerudung. Perintah Khimar terdapat dalam QS An-Nur ayat 31. Dicek dan baca yuk ;)) #Khimar atau kerudung adalah apa yang dapat menutupi kepala, leher dan dada tanpa menutupi muka (Al-Baghdadiy, 1991) Berkata Ibnu Katsir rahimahullahu: "Khimar, nama lainnya adalah Al-Maqani', yaitu kain yang memiliki ujung-ujung yang dijulurkan ke dada wanita, untuk menutupi dadanya, hal ini dilakukan untuk menyelisihi syi'ar wanita jahiliyyah karena mereka tidak melakukan yang demikian, bahkan wanita jahiliyyah dahulu melewati para lelaki dalam keadaan terbuka dadanya, tidak tertutupi sesuatu, terkadang memperlihatkan lehernya dan ikatan-ikatan rambutnya, dan anting-anting yang ada di telinganya dan khumur adalah jama' dari khimar, artinya apa-apa yang digunakan untuk menutupi, maksudnya disini adalah yang digunakan untuk menutupi kepala, yang manusia menyebutnya Al-Maqani' (Tafsir Ibnu Katsir 10/218, cet. Muassah Qurthubah) Lihat keterangan yang semakna di kitab-kitab tafsir seperti Tafsir Al-Baghawy, Tafsir Al-Alusy, Fathul Qadir dll, ketika menafsirkan surat An-Nur ayat 31. intinya bahwa pengertian khimar di dalam surat An-Nur ayat 31 adalah kain kerudung yang digunakan wanita untuk menutup kepala sehingga tertutup rambut, leher, anting-anting dan dada mereka. " Katakanlah kepada wanita yang beriman:"Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.Dan hendaklah mereka menutupkan khimar ke juyub (celah-celah pakaian) mereka" (QS. 24:31) " Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin agar hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 33:59). So udah tau kan apa makna jilbab, khimar dan hijab? Jadi kalau kamu ingin terlihat cantik tidak perlu berdandan dengan berlebihan apalagi sampai membuka auratmu, menampakkan perhiasanmu. Karena kau begitu mahal. Cukup cantik dipandangan Allah, dan semoga aku, kau, kita semua bisa menjadi bidadari dunia dan syurga. Sama-sama perbaiki diri yah :) Wahai engkau yang lembut hatinya, engkau bagai bunga yg sedang merekah indah. Berwarna-warni, jilbabmu yg kan menghiasi kecantikanmu:) Wallahu a'lam bishawab. Semoga kita bisa menjadi muslimah yang mampu menjaga aurat. #HijabMuslimah

Sabtu, 06 Juli 2013

Lukisan Bintang Senja


Malam ini langit begitu gelap nan pekat, tak ada satu pun cahaya yang mampu membuatku diam terpesona. Ribuan bintang yang biasanya menemani malam dengan segala keindahannya, dengan segala bentuknya yang memiliki makna tersirat, kini tak menampakkan wajahnya. Udara malam berhembus cepat, menyapa rambutku yang ikal. Aku menatap hamparan langit nan luas dengan tatapan kosong.
Namaku Dewa, aku memiliki saudara kembar yang bernama Dewo. Kami sangat berbeda. Mengapa begitu? Karena sejak lahir aku terlahir cacat. Lebih tepatnya lagi cacat mental. Entahlah, mengapa hanya aku yang terlahir cacat sedangkan saudara kembarku sama sekali tidak cacat. Akan tetapi aku bahagia memiliki saudara kembar seperti Dewo, dia begitu menyayangiku dengan tulus. Ia tak pernah malu memiliki saudara kembar sepertiku.
            “Dewa, kamu ngapain di sini sendirian?” Dewo menyapaku sambil mengelus rambut ikalku.
            Percuma, aku ingin menjawab pasti Dewo tidak akan mengerti apa yang aku katakan. Walaupun aku tahu kak Dewo dan ibu adalah orang yang paling mengerti dan memahamiku.
            “Kau tahu Dewa? Aku sangat bahagia dan bangga memiliki saudara kembar sepertimu. Aku tahu kau anak yang hebat, meski mereka menilaimu sebelah mata. Aku tahu kau telah memiliki puluhan karya lukisanmu. Dewa, maafkan aku yang terkadang tidak memahami sinyal yang kau tujukan untukku.” Dewa menatapku dengan tatapan penuh kasih sayang, ia mendekapku erat.
***
            Usiaku kini sudah lima belas tahun, namun aku masih seperti anak SD. Meskipun aku tahu aku tidaklah seperti Dewo yang tumbuh sebagai remaja yang sangat gagah dan tampan, kecerdasannya yang mampu membuat semua orang yang berada di dekatnya merasa bangga padanya. Aku bangga memiliki saudara kembar seperti dia. Dia yang dengan sabar mengajariku menulis dan membaca. Kini aku pun sudah bisa membaca dan menulis dengan baik, walau tidak sempurna, tapi aku bersyukur.
            Hari ini adalah hari yang dinantikan Dewo. Ia mengikuti lomba Sains, lebih tepatnya mengikuti lomba Biologi. Ketika Dewo mulai berbicara dan menjelaskan ilmu Biologi itu, semua orang terpana melihatnya. Bukan karena ketampanannya, akan tetapi karena dia yang begitu lihai menjelaskan serta memperagakan apa yang ada di depannya. Ia pun juara satu.
            “Wah Dewo, kamu hebat! Selamat ya, aku salut sama kamu.” Sheina memuji Dewo, perempuan itu sejak SMP memang suka dengan Dewo.
            “Selamat ya Dewo, anakmu hebat sekali Rosa. Dia memang anak yang cerdas, tapi tidak seperti Dewa yang hanya seperti patung.” Ibu Desi memuji Dewo sekaligus menjatuhkanku.
            “Tutup mulut Anda! Dia jauh lebih hebat dari saya, jangan pernah Anda berkata seperti itu.” Dewo membentak bu Desi, salah satu orang tua murid temannya Dewo.
            “Sudah Dewo, kamu tidak perlu emosi. Biarkan orang lain menghina atau memandang Dewa sebelah mata, tapi aku yakin suatu hari nanti Dewa akan menjadi orang hebat. Sama sepertimu.” Ibu menasihatiku.
            “Halah, anak kayak gitu aja diharapin banget. Anak bodoh, cacat, nggak berguna lagi, hidup lagi! Autis.” Kak Selvi berkata kasar di dekat telingaku.
            “Tutup mulut kamu Selvi!” ibu menampar Selvi.
            “Justru kakak yang jauh lebih bodoh dari Dewa! Selama ini memang kakak sudah melakukan apa untuk ibu, untuk keluarga kita? Bukankah selama ini kakak hanya bisa menghamburkan uang untuk kepuasan dan nafsu kakak? Sadar kak, kakak tuh jauh lebih hina daripada Dewa!” bentak Dewo.
            “Cukup! Kalian tidak perlu bertengkar di sini!” ibu membentak Dewo dan kak Selvi. Suasana menjadi hening.
            Aku mengerti apa yang mereka bicarakan. Aku bisa merasakan, walau mungkin mereka berfikir aku sama sekali tidak mengerti. Aku ingin berlari secepat mungkin tapi aku tak bisa, seolah ada yang menahan kakiku untuk melangkahkan kaki dan berlari cepat. Aku ingin menangis, tapi untuk apa aku menangis? Aku ingin menjerit, tapi di tenggorakkanku seperti ada yang mengganjal.
***
            Sesampai di rumah ternyata ayah sudah menunggu kami. Lebih tepatnya lagi menunggu Dewo, menunggu berita yang menggembirakan. Lalu apa yang bisa aku banggakan? Entahlah, mungkin Allah sedang mempersiapkan rencana yang jauh lebih indah.
            “Gimana Dewo, kamu berhasil Nak?” tanya ayah penasaran.
            “Alhamdulillah Yah, juara satu.” Dewo tersenyum hangat.
            “Wah, selamat ya. Ayah yakin kamu pasti menag.” Ayah menepuk bahu Dewo.
            “Hai, Dewa! Apa yang bisa kamu berikan untuk Ayah? Kamu ini sama sekali tidak berguna di rumah ini, hanya bisa menyusahkan orang lain.” Ayah menatapku tajam..
            “Kenapa Ayah dan kak Selvi nggak pernah bisa nerima Dewa dengan baik? Kenapa kalian selalu saja menghina dan memandang sebelah mata? Akan aku buktikan kepada kalian, bahwa Dewa adalah anak yang hebat. Siapa pun yang menyakiti Dewa, maka aku yang akan melindunginya. Sekalipun itu keluargaku sendiri yang melakukan. Camkan itu!” Dewo membanting buku yang sedari tadi ia pegang, lantas bergegas menuju kamarnya.
            Aku melangkahkan kaki ke taman belakang. Aku rebahkan tubuhku di atas rerumputan yang lembut. Menyaksikan burung-burung camar yang mengepakkan sayapnya sambil menari indah. Menyaksikan warna jingga yang melukiskan senja. Aku bahagia setiap aku melihat ke luar sana. Menyaksikan senja serta menatap hamparan langit yang indah penuh pesona. Itulah caraku untuk melepaskan semua rasa sesak yang aku rasakan, juga untuk tetap bersyukur dengan yang Maha mencintai.
            “Dewo, ibu boleh masuk Nak?” ibu mengetuk pintu kamar Dewo.
            “Kenapa Bu?” tanya Dewo.
            Ibu langsung menghampiri Dewo dan menggenggam erat tangan Dewo.
            “Nak, ibu percaya apa yang tadi kamu ucapkan. Suatu hari nanti pasti Dewa bisa menjadi orang hebat. Kau tahu? Beberapa minggu yang lalu ibu menemukan lukisan yang sangat indah sekali, walau ibu tidak tahu apa maknanya.” Ibu menatap Dewo dengan tatapan mata yang bercahaya.
            “Aku sudah sering melihat lukisan Dewa, Bu. Sejak aku masih SD dia memang sangat suka melukis.” Dewo tersenyum manis.
            “Iya ibu percaya Nak. Di mana Dewa sekarang? Dia nggak ada di kamarnya, ibu kira dia ada di sini.” Ibu menanyakan keberadaan Dewa.
            “Aku juga tidak tahu Bu, coba kita cari keluar. Siapa tahu dia ada di taman belakang, dia sangat suka tiduran di sana Bu.” Dewo mengajak ibu ke taman belakang.
            Sebelum ibu dan Dewo ke taman belakang ia menuju kamarku. Melihat semua lukisan yang kubuat juga tiga puisi yang kubuat. Aku sudah banyak melukiskan tentang sesuatu dan salah satu lukisan yang paling aku sukai ialah lukisan bintang senja, aku juga membuat puisi yang berjudul lukisan bintang senja. Lalu ibu membacakan puisiku yang berjudul lukisan bintang senja.
            Aku melihat warna jingga yang meghamburkan warnanya dengan segala keindahannya, jingga yang menggambarkan lembayung senja penuh kehangatan. Aku menatap hamparan langit luas penuh pesona, menyaksikan ribuan bintang bersinar terang menemani sang malam. Jika aku bisa mengambil bintang itu untuk menemani senja, maka akan kuambil bintang itu dengan tanganku sendiri. Bintang yang menemani senja dengan kehangatannya, sehingga mampu membuat yang memandangya penuh pesona, menatap penuh takjub dan bahagia. Dengan bintang senja semua akan terdiam, semua luka dan duka yang tersimpan dalam lubuk hati akan terhapus tanpa sisa.
            “De.. Dewo baca ini baik-baik.” Ibu memberikan kertas itu kepada Dewo.
            Mereka menangis setelah membaca puisi dan lukisan yang kubuat. Lalu segera menemuiku.
            “Dewo, ternyata kamu di sini.” Ibu dan Dewo mendekapku penuh kehangatan dan kasih sayang.
            “Sayang, kamu hebat. Semua lukisanmu sangatlah indah. Terutama lukisan ini.” Ibu menyodorkan lukisan yang kubuat.
            “Puisimu juga bagus Dewa, sungguh pandai kau dalam bermain kata.” Dewo memelukku erat.
***
            Keesokan harinya ibu dan Dewo mengirimkan lukisan dan puisi yang kubuat melalui media. Semua lukisanku diperlihatkan, dipajang dengan rapi. Semua mata memandang penuh takjub. Dan sehari setelah berlalu, media pun ramai. Bukan ramai karena berita selebritis, tapi karena lukisan yang kubuat. Mereka yang melihat memuji karyaku, dan ada turis yang melihat lukisan bintang senja. Ia tertarik dan ingin membelinya dengan harga yang sangat dahsyat. Juga dengan puisiku, mereka terharu membaca puisiku. Semua saluran televisi menayangkan berita itu. Dunia seolah menjadi milikku. Tapi dunia menjadi milikku seutuhnya ketika aku masih bisa berada di dekat ibu dan Dewo.
            “Kalian lihat kan Yah, Kak. Dewo itu hebat, dan hari ini aku bisa buktikan itu!” Dewa tersenyum bahagia.
            Begitulah kuasa-Nya. Aku tersenyum manis pada lembayung senja yang melukis sore. Aku tersenyum bahagia melihat dedaunan yang melambai-lambai. Aku menatap penuh pesona ketika sang malam ditemani ribuan bintang yang melambangkan senyum kepadaku. Aku merasakan hembusan udara yang begitu lembut dan segar lagi. Aku menyaksikan bunga-bunga indah merekah indah penuh warna lagi wangi semerbak. Aku melihat lukisan bintang senja di langit sana, di temani dengan burung-burung yang mengepakkan sayapnya dengan indah dan begitu lihainya.
***
The End