Minggu, 17 Juni 2012

C.I.N.T.A: Cerita Indah Namun Tiada Arti, Really?



Bila kamu sedang putus cinta (dari sang pacar tentunya), maka dunia yang tadinya seindah dalam lukisan akan menjadi abu-abu tak berwarna. Cinta yang sebelumnya sangat diagungkan akan sekejap mata akan berubah menjadi objek cacian.
Dan bertebaranlah playboy-playboy cap kadal yang suka mengatakan cinta kepada wanita. Ia tahu wanita adalah makhluk yang senang dipuji dan diperhatikan (sepertinya tidak semua, semoga).
Tidak akan lagi aku mengenal cinta. Tidak akan lagi aku mau berhubungan dengan pria. Semua pria sama. Sama-sama tidak punya perasaan, selalu mempermainkan wanita.
Wuihh dahsyat sekali kata-katanya. Seakan-akan ada wonder woman baru yang bermunculan dan merasa tidak membutuhkan pria sama sekali.  Padahal di lain pihak, masih banyak wanita yang sedang menanti pangeran impiannya hadir. Padahal sejatinya wanita membutuhkan tempat bersandar. Ya, sehebat apapun wanita secara fisik.
Jadi siapa yang patut disalahkan dengan fenomena seperti itu?
Kemudian menyebarlah kepanjangan dari kata cinta yaitu cerita indah namun tiada arti. Hmmm, really?
Jika cinta itu berwujud, ia pasti akan marah besar. Menjadi kambing hitam akan kebobrokan zaman. Menjadi alasan demi terciptanya musibah besar. Menjadi pembenaran untuk sebuah kemaksiatan. Saat senang ia diingat dan diagungkan. Ketika sedih, ia menjadi korban oleh pelaku yang merasa dianiaya oleh cinta.
Padahal cinta adalah indah, selalu indah. Cinta itu suci selalu suci dan hanya hadir pada saat yang suci. Penciptanya saja Maha Indah, Maha Suci. Lalu mengapa kemudian ciptaanNya menjadi tidak suci dan tidak indah hanya karena perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab??
Kalau melihat contoh yang “gagal”, bisa saja mengatakan seperti itu. Bisa saja saya, dia, kalian atau mereka adalah contoh yang gagal. Gagal yang berarti pernah merasakan cinta yang salah. Pernah menikmati gula-gula masa pacaran yang sejatinya gula-gula itu hanya semu. Tapi lebih baik gagal untuk menuju keberhasilan dibanding gagal dengan terus menerus dan merasa bahwa apa yang dijalani itu benar (meskipun sebenarnya tidak).
Cukup merasakan setitik pahitnya empedu dan berganti manisnya madu. Berarti kita memiliki lidah yang berfungsi secara normal. Namun jika empedu itu tetap terasa nikmat di lidah meskipun berkali-kali kita meludah namun tetap saja mengecapnya, Maka siapa yang perlu disalahkan? Apakah sebuah lidah yang hanya anggota tubuh ataukah kita yang menjadi panglimanya?
Lidah ibarat sebuah cinta. Maka bukan cinta itu yang salah tapi seseorang (entah siapa). Yang pasti jika ada cerita Romeo dan Juliet yang kisah cintanya berakhir tragis atau kisah cinta seorang cerdas yang bernama Qais kepada Laila hingga ia dijuluki Majnun (tidak waras), bukanlah cinta yang patut dipersalahkan. Sekali lagi bukan. Dan selamanya bukan.
Jika menilik keindahan cerita Rasulullah Muhammad dengan ibunda Khadijah, mungkin bisa kita jadikan tauladan. Cinta yang suci (karena Allah semata). Bukan cinta berdasarkan harta. Bukan cinta yang menyebabkan seseorang berubah dari raja menjadi budak. Bukan cinta yang melenakan hingga melalaikan hati. Cinta yang diawali dengan niat hanya karena Allah. Dan selanjutnya menjadi ibadah-ibadah yang tiada ternilai oleh dunia. Meskipun kisahnya terkadang tertutupi oleh kisah cinta imaji mengenai putri salju, Cinderella dan semacamnya yang sudah bisa merasakan “cinta” tanpa ada ikatan sebelumnya. Yakinlah itu hanya cerita fiktif dan kita hidup di dunia nyata.
Dalih cinta yang begitu beragam. Cerita cinta yang bertebaran. Jika tidak benar-benar menelaah, maka akan lebih banyak pembenaran pada cinta yang salah.
Oh cinta. Kau tak berwujud namun kau adalah impian setiap insan. Karena dengan cinta semua indah (cinta tanpa nafsu). Dengan cinta semua bermakna. Dunia damai dengan cinta. Cinta mampu mengubah keterpurukan menjadi timbunan semangat. Cinta mampu membuat kelemahan menjadi kekuatan.
Jangan melelahkan diri mencari cinta. Dekati saja dulu Sang Pembuat Cinta, Sang Pemilik Cinta. Biarkan Dia menghadiahkan kita cinta yang indah. Insya Allah.
Allahua’lam.
–
Tak bosannya membahas tentang cinta



Mengupas Rahasia Halaqah



Halaqah, atau yang biasa disebut pengajian, usrah, liqa, or something like that, merupakan kebutuhan kader dakwah dalam memenuhi kebutuhan tarbiyahnya. Karena bagaimanapun, tarbiyah dan dakwah sudah seperti dua sisi mata uang yang saling berkelindan. Tarbiyah tanpa dakwah, sama halnya melihat tapi lumpuh. Kuat kepemahamannya, tapi lemah kebermanfaatannya. Sebaliknya, dakwah tanpa tarbiyah sama seperti berjalan namun buta. Makanya, kalau ada kader dakwah yang eksis tapi malas liqa, pasti gerak dakwahnya banyak yang ‘nabrak-nabrak’.

Untuk mencapai kesuksesan dalam tarbiyah, seorang kader dakwah mesti memahami mengapa dirinya penting mengikuti agenda pekanannya tersebut. Karena kesalahan dalam memahami liqa akan berdampak pada hasil tarbiyah yang ia raih.

Beberapa Keistimewaan Halaqah
Sebelumnya, seorang kader dakwah perlu memahami bahwa liqa bukanlah satu-satunya sarana tarbiyah. Ia hanya salah satu dari sekian banyak penopang tarbiyah, seperti mabit, mukhayyam, daurah, tatsqif, dan lainnya. Akan tetapi liqa tidak dapat disamakan dengan penunjang tarbiyah yang lain. Dalam pelaksanaannya saja sudah sepekan sekali, lebih rutin. Sementara penunjang lainnya merupakan agenda-agenda tambahan yang dilaksanakan kondisional, sesuai kebutuhan. Artinya, sudah tentu yang rutin ini mendapat prioritas dan perhatian lebih ketimbang sarana tarbiyah lainnya.

Analoginya seperti bakso. Jika di mangkuk ada bakso tapi tidak ada bihun-toge-sawi, tetap saja makanan di mangkuk itu disebut bakso. Tapi lain jadinya jika di mangkuk ada bihun-toge-sawi, tapi justru tidak ada baksonya, maka makanan di mangkuk itu tidak akan pernah disebut sebagai bakso. Karena keberadaan bihun-toge-sawi hanyalah sebagai pelengkap yang menunjang inti dari semangkuk bakso. Kalau baksonya tidak ada, rasanya keberadaan bihun-toge-sawi akan menjadi sia-sia adanya. Seperti itulah kaitan liqa yang sebagai agenda inti dengan penunjang tarbiyah lainnya.

Mungkin sebagian orang ada yang bertanya, “Mengapa harus liqa? Mengapa bukan dengan sarana yang lain saja?” Untuk mendapatkan jawaban tersebut, sekarang mari menelaah apa saja kelebihan liqa yang tidak dimiliki oleh sarana lainnya. Sudah pasti penelaahan ini dilihat dari keefektifan daya ubah yang dihasilkan dan dirasakan oleh para mad’u itu sendiri.

Pertama, liqa itu memiliki jadwal yang rutin. Pelaksanaan liqa idealnya sepekan sekali. Itu merupakan jadwal yang proporsional. Karena ketika terlalu jarang, tentu tidak baik. Jadwal yang jarang dan sering bolong tidak akan memberikan dampak perubahan yang signifikan lantaran tidak memunculkan chemistry-chemistry di antara Murabbi-Mutarabbi ataupun Mutarabbi-Mutarabbi.

Pesan dakwah yang disampaikan seorang ustadz akan sulit diterima jika tidak ada usaha untuk membangun kedekatan dengan para mad’u-nya. Untuk itu, intensitas pertemuan sepekan sekali tersebut diharapkan dapat memangkas jarak-jarak yang sebelumnya ada. Seperti kata pepatah jawa, Witing tresno jalaran soko kulino, cinta ada karena terbiasa.

Kemudian sebaliknya, kalau jadwalnya terlalu sering, misalnya dalam sepekan ada pertemuan lebih dari sekali, ini juga kurang baik. Karena dikhawatirkan munculnya kejenuhan pada diri Mutarabbi ataupun Murabbi. Bagaimanapun, mereka tetaplah manusia biasa yang tak luput dari rasa bosan. Waspadalah, karena kejenuhan itu bisa mengurangi kualitas keikhlasan pada diri seseorang! Justru adanya pertemuan sepekan sekali itu dapat melatih para anggota liqa untuk bersabar. Selain itu, waktu sepekan sekali mampu menghadirkan rasa penasaran dan rindu untuk selalu bertemu.

Kedua, liqa itu merupakan wujud “jama’ah kecil” yang bisa menjaga seseorang dari kekufuran. Seringkali ada pertanyaan, “Bagaimana caranya agar kita istiqamah?” Sebenarnya jawabannya sederhana. Selain faktor internal, yaitu menjaga kualitas keimanan pribadi, ada pula faktor eksternal yang berasal dari lingkungan. Karena bagaimanapun kondisi lingkungan sedikit banyak akan memengaruhi kondisi seseorang di dalamnya. Dan ini pun terjadi bagi aktivis dakwah yang mengisi hari-harinya dengan dakwah. Saat itu tentu dirinya sering bersinggungan dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Maka ada saja dampaknya, baik kecil ataupun besar. Bisa jadi mula-mulanya muncul rasa malas. Lalu mulai kendur semangat dakwahnya. Kemudian kalau sudah parah, bisa-bisa kemungkinan terburuk pun terjadi.

Mungkin kekhawatiran ini berlebihan, tapi biarlah. Daripada bersikap permisif yang akhirnya berakhir fatal. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati? Bukankah penyakit-penyakit mematikan juga biasanya diawali dengan gejala-gejala yang sering dianggap sepele?

Maka dari itu, keberadaan jama’ah sangatlah penting bagi seorang aktivis dakwah. Karena ketika dirinya berada pada sebuah jama’ah, maka dirinya akan diingatkan di saat ia lupa. Ia pun dikuatkan ketika ia lemah. Kala itu, keberadaan jama’ah ibarat oase di padang pasir. Ia pun layaknya pom bensin pemulih bahan bakar keimanan yang membuat langkah-langkah para aktivis dakwah semakin lesat lajunya.

Ada pula pertanyaan, “Sebetulnya faktor besar perubahan ada pada pembinaan diri sendiri. Ini kita kenal dengan istilah tarbiyah dzatiyah. Lalu buat apa liqa kalau sudah melakukan tarbiyah dzatiyah?” Ini sangat menarik. Mengingatkan konsep dasar bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa berdiri sendiri. Begitu pula dalam tarbiyah. Jika liqa, sebagai wujud tarbiyah jam’iyah, tidak diiringi dengan tarbiyah dzatiyah, maka yang terjadi adalah seperti mobil mogok yang didorong orang banyak. Sulit bergerak karena dari mobilnya sendiri tidak ada bahan bakar (baca: motivasi kesadaran) untuk bergerak. Pun demikian, mobil itu akan tetap bergerak, meski progresnya sedikit dan menghabiskan banyak tenaga tentunya.

Lalu apa yang terjadi saat menjalankan tarbiyah dzatiyah tanpa dibarengi tarbiyah jam’iyah? Seperti panah yang melesat tanpa arah lantaran memang tidak ada yang mengarahkan. Hasilnya adalah meleset dari tujuan yang seharusnya. Bagaimanapun tidak ada orang yang mampu menilai dan mengevaluasi dirinya sendiri. Seorang murid di sekolah pun memerlukan seorang guru untuk menilai kemampuannya. Seorang presiden pun memerlukan rakyat sebagai penilai kesuksesan pemerintahannya. Inilah bukti bahwa setiap itu memerlukan orang lain.

Kalaupun ada orang yang bisa menilai dirinya sendiri, rasanya terlalu naif dan sangat subjektif. Apakah dirinya dapat menjamin kemurnian dari penilaian itu? Ataukah penilaian itu lebih sekadar corak kesombongan dan keegoisan belaka? Perlu diketahui, bahwa output tarbiyah tidaklah melahirkan kesombongan maupun keegoisan. Manakala dua sifat itu muncul pada diri seseorang, maka bisa dikatakan ada yang tidak beres dengan proses tarbiyahnya. Maka dari itu, dalam pelaksanaan tarbiyah, seorang kader dakwah perlu ada seseorang (Murabbi) sebagai pendamping yang nantinya akan mengevaluasi dan melakukan proses pengarahan sesuai dengan marhalah (tingkatan) tarbiyah dirinya.

Ketiga, liqa merupakan proses dakwah-tarbiyah yang menerapkan sistem komunikasi antar pibadi. Inilah yang menjadi indikator mengapa liqa lebih menghasilkan perubahan positif yang signifikan, terukur, dan terarah daripada taklim-taklim pada umumnya. Jika pada taklim seorang ustadz harus berhadapan dengan puluhan, atau bahkan ratusan orang, maka yang terjadi saat itu adalah komunikasi yang bersifat satu arah. Para mad’u tidak leluasa bertanya dan ustadz pun tidak mungkin menjawab seluruh pertanyaan atau memenuhi seluruh kebutuhan para mad’u-nya, apalagi memantau perubahan mereka atas hasil ceramah dirinya.

Sementara itu, liqa terdiri dari beberapa orang (umumnya maksimal 10) saja yang membentuk sebuah kelompok kecil. Dalam kelompok tersebut, seorang ustadz lebih memiliki kesempatan untuk melakukan komunikasi dua arah kepada para mad’u. Hal ini terlihat dari adanya feedback dari mereka, seperti berupa pertanyaan, sanggahan, ataupun cerita-cerita lainnya. Jelas ini berdampak positif. Sang ustadz akan mudah membangun kedekatan dengan mereka. Lalu sang ustadz pun akan lebih mudah memahami karakter mad’u-nya satu persatu, hingga kemudian dirinya mampu menentukan cara yang tepat untuk mendakwahi mereka. Selain itu, kecilnya jumlah mad’u memudahkan ustadz untuk memantau keberhasilan mereka dalam memahami dan menjalankan pesan-pesan yang telah disampaikannya.

Keempat, liqa memiliki sistem kurikulum madah (materi) yang runut dan sistematis. Berbeda halnya dengan sarana lainnya yang lebih bersifat general. Liqa sudah seperti sekolah yang menyediakan asupan-asupan “gizi” sesuai dengan tingkatan kepemahaman para mad’u. Tidak mungkin jika anak SD dikasih soal anak SMP. Karena pasti anak itu bingung. Begitu pula anak SMP, tidak mungkin diberi soal anak SD. Karena itu tidak memberi perkembangan apa-apa kepadanya.

Adanya kurikulum materi yang runut dan sistematis memberikan pengertian bahwa dakwah-tarbiyah ini memiliki tujuan dan arah yang jelas. Bayangkan, apa jadinya jika dakwah ini dilakukan asal-asalan dan tidak terstruktur dengan baik? Sudah tentu produk yang dihasilkan juga tidak baik. Materi dalam liqa dibuat sedemikian rupa agar dapat dipahami dengan baik oleh para mad’u, sehingga mereka memahami Islam ini sebagai kesatuan sistem utuh dan menyeluruh.

Layaknya membangun rumah yang kokoh, tentu diawali dengan membuat pondasi, dinding, dan atapnya. Oleh sebab itu, dalam dakwah-tarbiyah pertama kali yang perlu dibangun adalah kekokohan aqidah. Karena aqidah adalah pondasi bagi setiap muslim. Baru setelahnya membangun sisi-sisi yang lain. Contoh, tidaklah mungkin seorang mad’u diberi materi keutamaan sedekah jika sebelumnya tidak dijelaskan tentang materi sabar dan syukur. Tidak pula mereka dikasih materi yang besar jika tidak diawali dengan materi yang kecil dan pokok. Lihat saja kasus-kasus terorisme yang pernah ada. Mereka mengamalkan jihad, tetapi tidak didasari oleh pemikiran yang sebagaimana mestinya. Alhasil, banyak hal yang disayangkan selepas peristiwa teror itu terjadi. Niat dan semangat mereka bagus, hanya saja pelaksanaannya yang kurang tepat.

Ruhiyah, Inti Sel Halaqah
Sekali lagi ada pertanyaan menarik, “Apa sebenarnya yang membuat liqa ini berkesan, sehingga banyak kader dakwah yang menekuninya hingga sekarang?”

Spirit liqa bukanlah terletak pada apa yang terdapat pada baramij-nya (susunan acara), seperti tilawah, tadabur ayat al-Qur’an, kultum, muraja’ah hapalan, materi, diskusi, qadhayah, dan do’a. Semua itu memang dibutuhkan kader dakwah guna menunjang perkembangan dirinya. Namun sekali lagi, keberadaan baramij itu sendiri sebetulnya adalah kondisional, bukan suatu hal yang saklek atau tidak dapat diubah. Semua itu disusun sesuai kebutuhan.

Terlebih, poin-poin pada baramij liqa itu sebetulnya masih bisa didapatkan di luar liqa setiap harinya! Do’a, tilawah, tadabur, dan muraja’ah al-Qur’an, adalah kegiatan yang tidak sepatutnya ditinggalkan kader dakwah setiap harinya. Diskusi, materi, maupun kultum masih bisa didapatkan dengan cara banyak membaca buku atau menghadiri forum-forum diskusi. Qodoyah pun bisa ditanggulangi dengan cara lain, seperti menulis unek-unek atau curhat pada teman.

Itu sebabnya semangat liqa bukanlah terletak pada baramij, melainkan pada kesadaran untuk TRANSFER RUHIYAH yang ada pada diri setiap anggota liqa. Di sinilah terjadi pertukaran dan penyulutan semangat antara satu anggota dengan anggota lain dalam liqa.

Di kala ada seorang anggota yang turun semangatnya, ketika datang liqa, dirinya bertemu dengan Murabbi dan para sahabat yang menerimanya dengan tulus dan penuh energi. Entah energi apa itu. Yang jelas energi itu dapat kembali mengisi pundi-pundi hati yang semula kosong atau tidak penuh menjadi full terisi. Ada ‘sesuatu’ yang bisa didapatkan. Rasanya nikmat dan menghantarkan semangat untuk menjalani hari-hari sepekan ke depan.

Terkadang energi itu dapat dirasakan lewat senyuman, sentuhan, jabatan tangan, pelukan, atau bahkan teduhnya wajah dan tatapan mereka. Energi misterius itulah yang membuat setiap pertemuan liqa selalu memberikan kesan tersendiri, meskipun baramij di setiap pekannya sama saja. Karena sebanyak apa pun baramij tersebut, ketika tidak berusaha menghadirkan energi ruhiyah, maka liqa yang berjalan pun akan terasa hambar, tidak membekas, dan melelahkan.

Mari dedah lebih dalam. Dakwah-tarbiyah ini merupakan permainan hati. Kalau begitu, sudah pasti keberhasilannya ditentukan oleh yang Maha Menguasai Hati, bukan? Untuk dapat memenangkan permainan hati ini, sudah tentu para pelakunya perlu menyertakan hati seutuhnya untuk yang Maha Menguasai Hati. Karena hanya yang Maha Menguasai Hatilah yang mampu memenangkan hati setiap orang.

Untuk itu, agar liqa menjadi berkah, perlu kiranya setiap anggota di dalamnya (khususnya Murabbi) menjaga kondisi ruhiyahnya. Seorang Murabbi ibarat nahkoda kapal yang semestinya meyakinkan dan menguatkan para awaknya kala menghadapi badai-badai kehidupan. Jika nahkodanya sudah panik atau goyah, lantas bagaimana kapal itu akan tetap selamat berlayar? Pun begitu, para Mutarabbi pun perlu menjaga kondisi ruhiyah mereka. Karena untuk menjalankan kapal tersebut, kelihaian seorang nahkoda tak cukup berarti jika para awaknya pesakitan dan lemah semangatnya.

Allahu a’lam…


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/04/19779/mengupas-rahasia-halaqah/#ixzz1y28yI1Qt

Sabtu, 02 Juni 2012

“Memulai Hari Tanpa GALAU !”


Assalamualaikum Wr Wb. Sahabat, ada yang pernah mendengar kata “galau”? Pastinya kita udah sering mendengar kata galau di lingkungan kita, coba sahabat ingat-ingat. Atau sahabat sekarang bisa buka FB, kemungkinan kata galau akan muncul menghiasi beranda FB kita. Nah kali ini ROHIS 58 akan memberi tau bagaimana caranya supaya gak galau lagi. Yuk dibaca baik-baik..

Pagi begitu indah untuk dilewati begitu saja, semangat memulai hari akan menjadi ukuran seberapa manfaatnya hari ini bagi kita. Memulai dengan hal-hal yang positif tentunya akan selalu dan berakhir dengan hasil yang positif pula. Asy Syahid Hasan Al-Banna pernah berkata “Malammu begitu berharga, maka jangan kamu murahkan dia dengan kelalaian”. Tentu dengan menghidupkan malam-malam kita dengan mendekati diri kepada Allah.

Kicauan burung mengajari kita cara memulai hari, dengan kicauan merdunya pertanda mereka memulai hari dengan syukur dan memuji kebesaran Allah swt. Antara kita dan Burung, tapi bukan masalah mana yang lebih hebat untuk terbang, ini juga bukan urusan tentang siapa yang lebih pintar, juga bukan siapa yang lebih sempurna. Tetapi, siapa yang lebih bersyukur atas nikmat yang diberikan Sang Pencipta kepada dua makhluk ini.

“Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan” (QS. Annur: 41)

Bersyukur dan bersyukur, memulai hari dengan memuji kebesaran Allah, insya Allah hari-hari kita akan dipenuhi kebahagiaan dan ketenangan. Jauh dari yang namanya kegalauan. Galau itu hadir tatkala kita sudah lupa cara berterima kasih atas apa yang kita terima saat ini. Kita lupa ada yang Maha di atas segalanya, sehingga dengan mudah terbawa suasana dan sangat disayangkan kalau sampai ada yang menyalahkan suasana, menggerutu dan timbul keputusasaan.

“Karena Semua yang dimulai dengan rasa marah, akan berakhir dengan rasa malu.” (Benjamin Franklin)

Sehingga sedikit kali waktu bahagia yang kita miliki, selalu melihat kebahagiaan itu berada di atas kepala orang lain. Secara tidak sadar bahwa kebahagiaan juga berhak kita miliki dan itu ada, tapi belum terlihat oleh kita. Ayo mulai hari kita dengan:

1. Shalat subuh
Cara kita memulai hari dengan bersyukur, menyembah dan meminta kepada pemilik alam semesta, yang menggerakkan seluruh hati manusia. Sehingga kemudharatan tidak akan menimpa kita kecuali dengan izinNya, dan kesuksesan tidak akan kita raih kecuali dengan izinNya. Apapun kemauan kita, ayo kita minta sama pemilik Alam ini dan barengi usaha dan tawakal kita. Insya Allah tidak akan sia-sia. Selamat mencoba.

2. Dzikir subuh
Mensyukuri waktu subuh kita, karena di subuh ini masih diberi kesempatan oleh Allah untuk menikmati sisa-sia hidup kita. Alangkah baik nya kalau kita memiliki buku panduan dzikir subuh, dan bisa dibeli di toko buku terdekat yaitu Alma’tsurat Dzikir pagi dan sore. Selamat mencoba.

3. Tilawah Al-Qur’an
Lantunan Kalamullah akan membuat ketenangan tersendiri bagi Batin kita, selain lipatan pahala dari huruf demi huruf yang kita baca. Selamat mencoba.

4. Ceria dan Senyum
Setelah ketiga hal di atas terpenuhi, maka keceriaan dan kebahagiaan akan sendirinya hadir menemani hari-hari kita.
Maka dengan empat hal di atas kita akan selalu siap menghadapi panas dinginnya hari ini, desas-desus, lika-liku kehidupan, dengan kata lain kegalauan akan minder dengan sendirinya dan akan meninggalkan kita dari Galau-Galau tak menentu. Selamat mencoba dan dijamin Berhasil, seandainya belum terbukti mengusir kegalauan hari-hari Anda maka cek kembali niat Anda.

“Penderitaan jiwa mengarahkan keburukan. Putus asa adalah sumber kesesatan; dan kegelapan hati, pangkal penderitaan jiwa.” (Bediuzzaman Said Nursi)

Nah itulah cara2 bagaimana supaya kita gak galau lagi..mudah kan caranya ? Ayo mari kita selalu mencoba ! 2012 masih GALAU apa kata dunia ???


Karena menggalau itu hanya membuang – buang waktu !


Apalagi kalo kata pemilik akun twitter si @poconggg “jika kamu galau bershowerlah” itu cuma ngabisin waktu doang buat ngegalau sambil bershower apalagi nanti malah masuk angin :p


Mari kita mulai berprinsip :
Say No To
“GALAU = GAUL”
Say Yes To
“GAK GALAU = GAUL”



Senin, 21 Mei 2012

orang yang selalu di doakan oleh malaikat


1.. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Imam Ibnu Hibban meriwayatkan
dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang
tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya.
Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa 'Ya Allah, ampunilah hambamu si
fulan karena tidur dalam keadaan suci'" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2.. Orang yang duduk menunggu shalat. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra.,
bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya 'Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'" (Shahih Muslim no.469)

3.. Orang - orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat. Imam Abu Dawud
(dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin 'Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan"
(hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi dawud I/130)

4.. Orang - orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf).
Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang - orang yang menyambung shaf - shaf" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5.. Para malaikat mengucapkan 'Amin' ketika seorang Imam selesai membaca AlFatihah.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu" (Shahih Bukhari no. 782)

6.. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, 'Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'"
(Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7.. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan 'ashar secara berjama'ah.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat 'ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat 'ashar) naik (ke langit)

sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, 'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?', mereka menjawab, 'Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'" (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8.. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud darda' ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata 'aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'" (Shahih Muslim no. 2733)

9.. Orang-orang yang berinfak.
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'"
(Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10.. Orang yang makan sahur.
Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang - orang yang makan sahur"
(hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11.. Orang yang menjenguk orang sakit.
Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh"
(Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, "Sanadnya shahih")

12.. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain"(dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)


sumber: https://www.facebook.com/note.php?note_id=10150255511048311

Jin, Syetan dan Iblis



Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarokatuh

(kok judulnya aneh?) ya,memang judul ini diambil karena memang banyak dari teman-teman kita yang masih bertanya : "eh gue bingung nih.Jin,setan sama iblis itu sama ga sih?apa mereka 3 bersaudara?"

kenapa kita harus mengetahui tentang mereka semua?karena banyak hikmah yang kita dapat setelah mengetahui mereka sebenarnya.

(asal jangan ada yang tersinggung ya kalo merasa disebut di notes ini,hehehe)

Jin
Di dalam Al-Quran Al-Kariem, Allah SWT menyebut beberapa kali kata jin. Bahkan ada satu surat yang secara khusus membahas tentang jin dan dinamakan dengan surat Al-Jin. Bila disimpulkan secara sekilas, maka ada hal-hal yang bisa ketahui dari Al-Quran Al-Kariem tentang siapakah sosok jin itu.

a. Jin diciptakan oleh Allah SWT dari api.
Allah SWT menyebutkan bahwa jin itu diciptakan dari api yang sangat panas, juga disebutkan terbuat dari nyala api.
Dan Kami telah menciptakan jin sebelum dari api yang sangat panas.(QS.Al-Hijr: 27)
Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.(QS.Ar-Rahman: 15 )

b. Jin ada yang muslim dan ada yang tidak

Sebagaimana firman Allah SWT berikut ini
Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (QS Al-Jin:11 )

Contoh jin muslim adalah jin yang menjadi tentara nabi Sulaiman as. Sebagaimana diterangkan di dalam Al-Quran:
Dan Kami telah menciptakan jin sebelum dari api yang sangat panas. (QS An-Naml: 17 )

Dan Kami angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. (QS Saba': 12 )

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang seperti kolam dan periuk yang tetap. Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur. Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. (QS Saba': 13)


Setan
Sedangkan Syaitan itu menurut Al-Quran Al-Kariem adalah makhluq yang kerjanya mengajak kepada perbuatan jahat dan keji serta berbohong.


a. Mengajak kepada Perbuatan Keji
Perhatikan firman Allah SWT berikut ini:
Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS. Al-Baqarah: 169)

b. Syetan adalah Musuh Manusia Allah SWT telah menegaskan bahwa syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS Al-Baqarah: 208)

c. Memberi Janji dan Angan-angan Kosong
Syaitan itu kerjanya memberi janji dan angan-angan kosong kepada manusia
Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (QS An-Nisa: 120 )

d. Manusia pun ada yang Syaitan Juga
Namun Syaitan itu tidak terbatas pada jenis makhluk halus/jin saja, melainkan manusia pun bisa dikategorikan sebagai syaitan. Dan Al-Quran Al-Kariem pun juga menyebut-nyebut tentang manusia yang menjadi syaitan itu.

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS Al-Anam: 112)

Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia. (QS An-Naas: 1-6 )


Iblis
Sedangkan Iblis adalah makhluq durhaka yang jeisnya adalah jin, bukan jenis manusia. Al-Quran Al-Kariem secara tegas menyebutkan bahwa Iblis itu adalah dari jenis jin.

Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti bagi orang-orang yang zalim. (QS Al-Kahfi: 50)

Jadi bisa disebutkan bahwa Iblis itu adalah seorang oknum yang berjenis jin. Dialah dahulu jin yang paling dekat dengan Allah SWT, lalu berubah menjadi ingkar lantaran tidak mau diperintahkan untuk bersujud kepada Adam, manusia pertama.

Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS Al-Baqarah: 34)
Motivasi yang menghalangi si Iblis itu untuk sujud kepada Adam tidak lain adalah rasa kesombongan dan tinggi hati. Dia merasa dirinya jauh lebih baik dari Adam. Allah berfirman:

"Apakah yang menghalangimu untuk bersujud di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis, "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah." (QS Al-Araf: 12 )

Ciri yang paling utama dari Iblis adalah dia tidak mati-mati sampai hari kiamat. Dan penangguhan usianya itu memang telah diberikan oleh Allah SWT

Iblis menjawab, "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan." Allah berfirman, "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh." (QS Al-Araf: 14-15 )

Iblis berkata, "Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan." Allah berfirman, "Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya." (QS Shaad: 79-81 )

Jadi iblis adalah nama seorang jin yang hidup di masa penciptaan Adam as. dan tidak mati-mati sampai hari ini. Iblis adalah kakek moyang syetan yang juga punya keturunan, namun keturunannya itu tidak mendapatkan jaminan untuk hidup sampai kiamat. Dan sebagai bangsa jin, ada di antara keturunannya itu yang mati. Meski barangkali usianya berbeda dengan rata-rata manusia. Tetapi tetap akan mati juga. Kecuali kakek moyang mereka yaitu Iblis.

sumber: https://www.facebook.com/note.php?note_id=10150283448973311