Tampilkan postingan dengan label tarbiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tarbiyah. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Januari 2014

Tarbiyah Dalam Satu juz Setiap Hari

��������������������
Sharing Pagi

Kutipan nasehat
Ust. Abdul Azis Abdur Rauf, alhafidz.

"Tarbiyah dalam Satu Juz Setiap Hari"

Jika hari ini kita belum bisa beribadah dengan satu juz, kita tidak boleh putus asa, karena proses tarbiyah memang panjang.

Namun dibalik panjangnya, sesungguhnya kita juga dapat menyingkat dgn kesungguhan dan kerja keras. Kita harus sadar, dan mengatakan pada diri kita, "Sampai kapan saya tidak bisa ?" "Sampai kapan saya belum merasakan pentingnya ?"

"Dan sampai kapan saya tidak merasakan suatu kerugian besar jika hari ini tidak beribadah satu juz? "

Inilah nuansa tarbiyah yang harus kita bangun dalam diri kita, bukan nuansa pemakluman yang tiada batas.

Ingatlah bahwa tarbiyah bermakna upaya memproses diri menuju lebih baik, dan kebaikan itu ada dalam ibadah satu juz tiap hari.

Jika kita menyerah dengan kondisi kita, berarti kita sudah menghentikan proses tarbiyah dalam diri kita.

Krena itu mutarabbi (org yg trus brusaha mmperbaiki diri) yg sejati adlh mreka yg tdk prnah mnyerah dgn kondisi yg blm mmuaskan hari ini.

Jgn brlindung dari ksibukan, anak, pkerjaan, bisnis, bnyak acara dsb.Krena sjatinya smua ksibukan kta tdk akn prnah trhenti kcuali kta mati.

Lalu, apa jdinya jika smpai mati pun kita blm melakukan ibadah ini, karena halangan & kesibukan yang memang tidak akan pernah terhenti.

��������������������

Kamis, 05 Desember 2013

Kepedulian dan Calon Dokter

Namaku Riri, aku saat ini sedang kuliah semester akhir di sebuah universitas negeri. Aku kuliah disebuah jurusan yang cukup favorit, yaitu jurusan Kedokteran. Sebuah jurusan – yang aku yakini – dapat membuat hidupku lebih baik di masa mendatang.

Bukan kehidupan yang hanya untukku, tetapi juga buat keluargaku yang telah susah payah mengumpulkan uang – agar aku dapat meneruskan dan meluluskan kuliahku. Kakakku juga rela untuk tidak menikah tahun ini, karena ia harus menyisihkan sebagian gajinya untuk membiayai tugas akhir dan biaya-biaya laboratoriumku yang cukup tinggi.

Hari ini adalah hari ujian semesteranku. Mata kuliah ini diampu oleh dosen yang cukup unik, dia ingin memberikan pertanyaan-pertanyaan ujian secara lisan. “Agar aku bisa dekat dengan mahasiswa.” katanya beberapa waktu lalu.

Satu per satu pertanyaan pun dia lontarkan, kami para mahasiswa berusaha menjawab pertanyaan itu semampu mungkin dalam kertas ujian kami. Ketakutanku terjawab hari ini, 9 pertanyaan yang dilontarkannya lumayan mudah untuk dijawab. Jawaban demi jawaban pun dengan lancar aku tulis di lembar jawabku.

Tinggal pertanyaan ke-10.

“Ini pertanyaan terakhir.” kata dosen itu.

“Coba tuliskan nama ibu tua yang setia membersihkan ruangan ini, bahkan seluruh ruangan di gedung Jurusan ini !” katanya.

Seluruh ruangan pun tersenyum. Mungkin mereka menyangka ini hanya gurauan, jelas pertanyaan ini tidak ada hubungannya dengan mata kuliah yang sedang diujikan kali ini.

“Ini serius !” lanjut Pak Dosen yang sudah agak tua itu dengan tegas. “Kalau tidak tahu mending dikosongkan aja, jangan suka mengarang nama orang !”

Aku tahu ibu tua itu, dia mungkin juga satu-satunya cleaning service di gedung jurusan kedokteran ini. Aku tahu dia, orangnya agak pendek, rambut putih yang selalu digelung, dan ia selalu ramah serta amat sopan dengan mahasiswa-mahasiswa di sini. Ia selalu menundukkan kepalanya saat melewati kerumunan mahasiswa yang sedang nongkrong.

Tapi satu hal yang membuatku konyol.. aku tidak tahu namanya ! dan dengan terpaksa aku memberi jawaban ‘kosong’ pada pertanyaan ke-10 ini.

Ujian pun berakhir, satu per satu lembar jawaban pun dikumpulkan ke tangan dosen itu. Sambil menyodorkan kertas jawaban, aku memberanikan bertanya kepadanya kenapa ia memberi ‘pertanyaan aneh’ itu, serta seberapa pentingkah pertanyaan itu dalam ujian kali ini.

“Justru ini adalah pertanyaan terpenting dalam ujian kali ini” katanya. Beberapa mahasiswa pun ikut memperhatikan ketika dosen itu berbicara.

“Pertanyaan ini memiliki bobot tertinggi dari pada 9 pertanyaan yang lainnya, jika anda tidak mampu menjawabnya, sudah pasti nilai anda hanya C atau D !”

Semua berdecak, aku bertanya kepadanya lagi, “Kenapa Pak ?”

Kata dosen itu sambil tersenyum, “Hanya yang peduli pada orang-orang sekitarnya saja yang pantas jadi dokter.” Ia lalu pergi membawa tumpukan kertas-kertas jawaban ujian itu.

Dicintakan dengan Qur'an Sejak Bayi, Terinspirasi Imam Syafi'i, Luthfi Hafal Qur'an 30 Juz di Usia 10 Tahun


Namanya Muhammad Luthfi. Asalnya dari Pasar Rebo Jakarta Timur. Ia adalah salah satu santri di Pesantren Qur'an Nurul Hikmah. Di usianya yang sangat belia (10 tahun), ia telah berhasil mengkhatamkan hafalan Al-Qur'an 30 juz. Sungguh suatu pencapaian langka yang luar biasa bagi anak kota di tengah derasnya arus negatif globalisasi.

Luthfi memulai hafalan Qur'annya saat ia kelas 1 SD, dibawah bimbingan umminya. Suatu ketika, SDIT tempat Luthfi bersekolah mengadakan lomba hafalan Qur'an juz 30. Luthfi pun diikutsertakan dalam lomba itu dan berhasil menyabet gelar juara pertama. Melihat hal tersebut, orangtua Luthfi berpikir bahwa mungkin Luthfi memiliki bakat yang besar di bidang hafalan Al-Qur'an. Kemudian mereka mengarahkan Luthfi untuk melanjutkan sekolah di Pesantren Qur'an. Tanpa paksaan, Luthfi kecil langsung tertarik dengan tawaran orangtuanya.

Pesantren Kudus di Jawa Tengah menjadi pilihan awal. Disana Luthfi memulai hafalannya dari surat Al Baqoroh. Saat menghafal halaman pertama surat ini, Luthfi mengaku merasa sangat kesulitan. Pada mulanya, untuk menghafal setengah halaman yang berisi tiga baris ayat saja ia bisa menghabiskan waktu selama dua hari. Namun berkat kesabarannya meski menemui kesulitan di awal, Allah karuniakan keberkahan dalam proses menghafal Luthfi. Di hari-hari berikutnya ia bisa menghafal 1 halaman dengan sangat cepat dan mudah. 9 juz Al-Qur'an mampu dihafalnya di tahun pertama, kemudian 9 juz pula di tahun kedua, dan 4 juz di tahun ketiga. Di tahun keempat, dengan berbagai pertimbangan, orangtua Luthfi memindahkannya ke Pesantren Nurul Hikmah. Kurang dari setahun di Nurul Hikmah, Luthfi mengulang kesuksesannya menghafal di tahun pertama. 8 juz terakhir mampu ia selesaikan dengan gemilang. Maka di tahun keempat dari proses menghafalnya, saat usianya genap 10 tahun, Luthfi telah menyelesaikan setoran hafalan 30 juz.

Salah satu sumber semangat Luthfi untuk menghafal hingga khattam ternyata diinspirasi oleh kekagumannya kepada Imam Syafi'i yang telah hafal Qur'an sejak usia 7 tahun, dan telah menjadi seorang guru dan hafal kitab Al Muwatho di usia 10 tahun. Luthfi sendiri, memiliki cita-cita menjadi seorang ahli fiqh. Sungguh cita-cita Luthfi yang visioner ini begitu langka terucap dari lisan anak kecil pada umumnya yang biasa kita temui. Bahkan sejak sebelia ini, Luthfi sudah memiliki target di negara mana ia akan berkuliah nanti."Madinah", ujarnya mantap. Kini Luthfi mulai merenda impiannya berkuliah di Madinah dengan berbekal sanad hafalan Qur'annya. Dengan tekun ia menyetorkan hafalannya dan ujian secara intensif kepada Ustadz Muzammil. Satu hal lagi yang membuat kita berdecak kagum dengan visionernya hafidzh cilik nan dewasa ini, ia bercita-cita memiliki pesantren Al-Qur'an saat dewasa kelak. Allahu akbar!

sebenarnya, apa yang membuat sosok belia ini begitu dewasa dan visioner dalam menjalani masa kecilnya?
Tak lain adalah karena sejak kecil Luthfi sudah dibiasakan dengan lingkungan Al-Qur'an. Oleh umminya, Luthfi dan ketiga saudaranya selalu dididik dengan Al-Qur'an sejak dalam kandungan (tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan ummi Hilyah.red). Bahkan sejak mereka belum ada, ummi telah memantaskan diri menjadi ummi yang berkenan Allah anugerahkan qurrota a'yun penghafal Qur'an yang kelak di surga memakaikannya mahkota dari cahaya paling cantik yang Allah punya.

Ummi yang sering dan gemar mengkhatamkan Qur'an ini giat menanamkan teladan-teladan agar anak-anaknya bisa cinta dan hafal Al-Qur'an. Dengan ditambah dukungan Abi di rumah, terciptalah suasana keluarga pecinta Al-Qur'an di rumah mereka. Kakak pertama Luthfi (VII SMP) dalam satu tahun mampu menghafal sebanyak 8 juz, adik perempuannya (IV SD) sudah hafal 5 juz, dan adik terakhirnya (II SD) juga telah menghafal surat-surat pendek di juz 30. Fenomena anak-anak penghafal Qur'an ini diawali oleh umminya sendiri yang telah menyelesaikan 8 juz Al-Qur'an sebelum menikah, di era 90an, saat LTQ dan program-program menghafa[truncated by WhatsApp]

Yang Terpuji, Yang Teruji


oleh Salim A. Fillah dalam Sirah. 27/09/2013

    “Aku ingin agar dia dipuji, di langit dan di bumi.”

Begitu ‘Abdul Muthalib berkata sembari menimang sang bayi yang berwajah cahaya. Senyumnya bangga, rautnya gembira, air mukanya renjana. Dengan teguh dijawabnya para tetua Quraisy yang tadi menggugat, “Mengapa kauberi nama dia Muhammad; nama yang tak pernah digunakan oleh para leluhur kita yang hebat?”

Dan Muhammad senantiasa terpuji, hingga para pembencinya tak mampu mencaci. Ibn Ishaq meriwayatkan dalam Sirah-nya; bahwa setelah turun Surah Al Lahab yang menyebut Ummu Jamil sebagai ‘wanita pembawa kayu bakar, yang di lehernya ada tali dari sabut’, perempuan itupun mencari-cari Kanjeng Nabi.

Di salah satu sudut Masjidil Haram, diapun berjumpa Abu Bakr Ash Shiddiq. Maka segera dia menghardik, “Di mana sahabatmu itu hai putra Abu Quhafah? Dia pikir hanya dia yang sanggup bersyair hah? Sungguh akupun pandai menyusun sajak tuk membuatnya susah!” Lalu diapun mulai mendaras gubahannya.

    Mudzammam ‘si tercela’ kami abaikan
    Agamanya kami benci bersangatan
    Perintahnya kami tentang sekalian

Bakdanya, wanita keji yang hobi menabur duri di laluan Baginda Nabi ini bersungut-sungut pergi. Maka Ash Shiddiq pun menoleh dengan wajah pias-pias terkesima pada sosok yang ada di sebelahnya. “Apakah dia tak melihat engkau Ya RasulaLlah? Dia datang dan menanyakanmu, lalu mencaci maki seakan kau tak di sini; padahal di sisiku paduka berdiri?”
Senyum tersungging di bibir mulia, lalu lisan Al Mushthafa memekarkan sabda, “Allah mentabiri pandangannya  dari diriku duhai Aba Bakr.” Abu Bakr mengangguk, iman di dadanya kian berduduk, jiwa dan raganya sempurna tunduk.

“Tidakkah kau perhatikan bagaimana Allah menjaga diri dan namaku hai Aba Bakr?”, ujar Sang Nabi dengan renyah, “Mereka menghina dan menista Mudzammam, padahal aku adalah Muhammad.”

Betapa dahsyat nama Muhammad. Hingga yang hendak menjelekkannya pun tak bisa tidak harus memuji jika menyebut asmanya. Atau jika membalik namanya dari Muhammad ‘si terpuji’ pada Mudzammam ‘si tercela’, menjadi salah-sasaranlah cercaannya.
Tetapi orang terpuji tidaklah terlepas dari uji. Maka Al Amin, yang tepercaya, yang menjunjung kejujuran sebagai permata hidupnya akan terhenyak ketika pada suatu hari dia digrambyang, “Dusta kau hai Muhammad!”

Mari bayangkan 40 tahun hidup yang bersih tanpa cacat; semua orang berkata padanya, “Benarlah kau duhai Muhammad! Janjimu tepat! Kau tunaikan amanat!” Lalu ketika kebenaran samawi bahwa tiada Ilah selain Rabb mereka dipikulkan ke pundaknya, tiba-tiba semua berkata, “Engkau dusta!”

Semua kan diuji atas hal yang paling dijunjung tinggi hati. Ibrahim pada cintanya hingga penyembelihan putra, Maryam pada kesuciannya hingga hamil tanpa sentuhan pria, Muhammad pada kejujurannya hingga dituduh berdusta. Shalawat bagi mereka yang telah lulus sempurna. Bagaimana dengan kita?

Berbaik Sangka

Nabi NUH belum tahu banjir akan datang ketika ia membuat kapal & ditertawai kaumnya.

Nabi IBRAHIM belum tahu akan tersedia domba ketika pisau nyaris memenggal buah hatinya.

Nabi MUSA belum tahu laut akan terbelah saat dia diperintah memukulkan tongkatnya.

Nabi MUHAMMAD SAW pun belum Tahu kalau Madinah adalah Kota Tersebarnya Ajaran yang dibawanya saat beliau diperintahkan berhijrah.

Yang Mereka Tahu adalah bahwa Mereka harus Patuh pada perintah Allah dan tanpa berhenti Berharap yang Terbaik. Ternyata dibalik keTIDAKTAHUan kita, Allah telah menyiapkan SURPRISE saat kita menunaikan perintahNYA.

Pertolongan Allah
datang di detik2 Terakhir
dari Usaha Hamba-Nya. Kalaupun Hasil Yang kita
Usahakan masih Jauh dari Harapan , Usah kita berkecil hati. Tetap HUZNUDZON apapun yg terjadi..

Selamat berbaik sangka pada Allah hari ini.

Tentang Sandal -Ust Nandang Burhanudin

Tentang Sandal!! (Nandang Burhanudin)

Sekitar pukul 14 Ahad (30/11/13), saya dan beberapa sahabat mengunjungi RS Al-Islam. Rencananya membesuk salah seorang siswa SDIT Insan Teladan yang dirawat di HCU. Karena bukan waktu besuk, security RS hanya memperbolehkan tamu 1 orang saja. Itupun atas izin Allah, tanpa sengaja saya dipertemukan dengan ayah dari murid SDIT Insan Teladan juga, yang adiknya dirawat di RS yang sama.

Singkat cerita, saya pun naik ke lantai 3. Selepas mendoakan pasien anak tadi. Saya beberapa kali mengengok ruang HCU. Saya lihat Syamil itu tengah diopeni 2 wanita. Kemungkinan besar adalah ibu dan tantenya. Saya tak sempat masuk. Karena tak ada ayah dan juga tak ada pria di ruangan itu. Sempat menunggu beberapa saat. Saya kembali lagi. Kondisinya sudah rapih. Saya dengar sayup-sayup Syamil mengigau. Saya tahu apa yang ia igaukan. "Ya ... hafalan An-Naba. Lalu loncat ke An-Nazi'aat. Tak utuh memang. Tapi saya sempat merinding sembari berguman, "SubhanaLlah ...!"

Karena tak ada ayahnya, saya pun turun. Mengajak kedua ustadz untuk kembali pulang. Allah menakdirkan lain. Pas di pintu keluar, ayahnya Syamil baru pulang dari kantin. Sembari menggendong anaknya yang ke-3, saya lihat aura optimisme di wajahnya. Kami turut mendoakan agar Syamil sembuh sedia kala.

Namun, usai adzan Isya, telpon saya berdering. Ada firasat untuk mengangkat langsung, tanpa tahu siapa yang diujung telepon. Nomornya tak tercatat! Asing memang! Sambil loncat mengambil sarung siap-siap ke masjid dekat rumah, saya dikejutkan berita diujung telepon, "Ustadz. Syamil meninggal pas waktu adzan Isya tadi! Tolong diumumkan di masjid dan minta dipersiapkan pemakaman!" Saya termangu. "Siaap!" tegas saya. Tak lama lari ke masjid. Jamaah sudah iqomat. Usai shalat saya berdiri dan mengumumkan berita duka.

Jenazah pun datang sekira jam 22.10 malam harinya. Usai dimakamkan, saya dan beberapa ustadz mendekati sang ayah. Saya berusaha menenangkan. Namun sambil menahan tangis, sang ayah berujar, "Ustadz ... sebelum wafat, tadi anak saya menanyakan sandal!"

Semua yang hadir tersenyum. Rasanya biasa. Namanya juga anak-anak. Namun sang ayah melanjutkan, "Ia menanyakan sandal yang suka digunakan berjamaah ke masjid!"

Hati saya bergetar. Terasa air mata meleleh. Sang ayah menambahkan, "SYamil setiap mengigau, selalu melantunkan hapalan surat-surat juz 30! Saya gak kuaat pak ustadz!"

Saya pun memeluknya. Air mata pun tak kuasa saya tahan. "Subhanallah!", ujar Ustaz Ja'far Al-Hafizh. "Semoga ini jadi 'ibroh untuk kita semua! Anak kecil, 7 tahun, kelas 1 SD saja mengigaunya hapalan Al-Qur'an! Mau wafatnya saja yang ditanyakan sandal yang suka dipake ke masjid! SubhanaLlah!", pungkas ustadz Ja'far.

Ustadz Agus pun menimpali, "Ini adalah investasi terbaik antum! Allah lebih sayang pada Syamil! Tapi jangan putus asa. Allah pun akan menggantikan yang lebih baik! Aaamiiin"