Senin, 20 Mei 2013

Semesta Alam Bersorak-Sorai



Semua mata terbelalak, mendengar ayat-ayat cinta-Nya yang didendangkan dengan suara merdu penuh khidmat. Embun di pagi buta masih menebarkan bau basahnya, gemiricik air mengalir dengan melodi indah nan bermakna. Sajadah panjang telah tergeletak bermaksud untuk menghadap kepada Sang Illahi, bersujud dengan khusyuk. Memuji dan memuja asma-Nya yang indah tiada terkira, tak terdiksikan oleh goresan pena.
            Pagi berganti siang, tetapi mereka tetap menyusuri jalan panjang. Siang ini matahari begitu menyengat, menyayat tubuh. Mereka ibu dan anak yang bekerja saat fajar mulai tiba sampai matahari kembali ke tempat peraduannya. Sinar matahari kali ini masih  terpancar hingga pukul setengah empat sore matahari seolah matahari tak pernah mau tergelincir.
            “Bu, ibu masih kuat? Kita istirahat sejenak, aku lelah. Ibu pasti juga lelah kan?” Gagah duduk di bawah pohon rindang, meluruskan kakinya sambil memijat ibunya.
            “Terima kasih Nak, maaf ibu tak pernah bisa membelikan sesuatu yang kau inginkan. Sejak lama ibu ingin sekali berqurban, selama ini kita hanya bisa mengantri dengan wajah memelas, berharap bisa memakan sepotong daging qurban. Sudah hampir tiga tahun kita mengumpulkan uang, ibu tahu Nak mungkin selama ini ibu terlalu egois karena memiliki hasrat untuk berqurban dua kambing.” Ibu Neneng membelai lembut rambut anak perempuannya, ia merasa sangat egois karena selama ini ambisinya sangat kuat untuk berqurban.
            “Tak apa Bu, aku bersyukur karena dengan harta kita yang sangat pas-pasan ibu masih memikirkan untuk sedekah. Meski pun mereka selalu menertawai ambisi ibu, tapi ibu tak pernah sedikit pun putus asa. Itulah yang aku syukuri, memiliki ibu yang berhati mulia.” Gagah memeluk ibunya dengan dekapan hangat.
***
            Setelah hampir tiga belas jam bekerja, alias memulung. Memunguti gelas-gelas aqua, plastik atau apapun itu yang biasa didaur ulang. Ya, mereka hanyalah seorang pemulung. Akan tetapi mereka selalu tetap bersyukur atas karunia Sang Illahi. Masih mau memikirkan orang lain dan menolong sesama. Mereka tak pernah peduli jika ada yang meremehkannya, jika ada yang menghinanya atau apapun itu.
            “Dari mana aja Bu hari gini baru pulang, nyari harta karun buat beli kambing pas nanti qurban?” Ibu Dina bermaksud untuk menyindir bu Neneng.
            “Haha, Bu Neneng nih kalo mimpi kebangetan ya. Mimpi mau berqurban, dua kambing lagi. Buat sehari-hari aja susah ini udah kayak banyak duit aja. Bangun Bu dari mimpi buruknya!” Ibu Eci menghina bu Neneng. Ini bukan pertama kalinya mereka menyindir atau menghina bu Neneng. Tetapi bu Neneng hanya senyum saja tidak mempedulikan mereka.
            “Saya memang hanya seorang pemulung, tapi saya yakin Allah akan memberikan jalan menuju impian itu. Dan kalian hanya mampu melihat dengan wajah terheran.” Dalam benak bu Neneng.
***
            Setelah tiga tahun bu Neneng dan Gagah anaknya berhasil mengumpulkan uang sebesar lima juta, begitulah kuasa-Nya, begitulah kebesaran-Nya, Dia takkan pernah membiarkan hamba-Nya kecewa selagi hamba-Nya terus berusaha dan menjalankan perintah-Nya. Semua tetangga bu Neneng tercengang, sungguh sangat tidak percaya. Namun itulah kenyataannya, ketika mereka hanya bisa mencemooh dan menghina, tanpa melihat seberapa besar usaha yang mereka lakukan. Sampai peluh yang selalu membasahi tubuhnya, bahkan air mata pun mengalir deras di setiap untaian doanya.
            Hari ini langit begitu biru bagai laut biru penuh pesona dengan segala arus ombaknya. Awan pun cerah membentuk lukisan abstrak namun penuh makna. Sawah hijau membentang indah bak permadani taman surga. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, membelai kalbu. Gema takbir menggema di alam raya, menyambut hari raya Idul Adha. Langit menjadi saksi perjuangan dan perngorbanan seorang perempuan berhati mulia. Daun-daun melambai indah, seolah ingin menyapa dan mengucapkan selamat. Burung-burung gereja menari-nari indah dengan formasi penuh makna seolah menyambut kebahagiaan hakiki. Bunga-bunga merekah indah penuh warna seolah berada dalam taman cinta penuh dengan warna-warninya kehidupan yang memberi warna. Semua menyambut dengan tulus dan penuh kasih saying. Semua yang ada di langit dan di bumi menjadi saksi atas perjuangan seorang perempuan yang tak pernah mengeluh, yang memiliki hati yang begitu murni bagai cinta dan kasih sayang-Nya. Seluruh semesta alam bersorak-sorai penuh khidmat, bersorak-sorai bahagia, bersorak-sorai sujud syukur.

***
The End 

by: Ika Nurmawati 

Rabu, 15 Mei 2013

Ma'rifatullah - Kultwit @APAI_58



Assalamu 'alaykum warohmatullahi wabarokatuh.

Gimana kabarnya hari ini sobat? Kali ini admin ngepost tentang Ma'rifatullah yang di dikumpulkan dari akun @APAI_58 yang baru saja kultwit. Selamat membaca, semoga bermanfaat... :)

  1. Adakah yang tahu apa itu #Marifatullah?
  2. #Marifatullahyaitu mengenal Allah lewat tanda-tanda kebesaran-Nya ayat-ayat cinta-Nya (al-qur'an)
  3. Seseorang yang mengenal Allah pasti akan tahu tujuan hidupnya, mengapa ia diciptakan (QS. 51: 56). #Marifatullah
  4. "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS. 51: 56) #Marifatullah
  5. Sementara orang yang tidak mengenal Allah akan menjalani hidupnya untuk dunia saja. #Marifatullah
  6. "..Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang.Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka" (QS 47 : 12). #Marifatullah
  7. Saudara, sahabat sesama muslim. #Marifatullah ilmu yang tertinggi yang harus dipahami manusia..
  8. "Dan apakah orang yang sudah mati[502] kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu ... #Ma'rifatullah
  9. ..dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita.. #Ma'rifatullah
  10. ..yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu.. #Marifatullah
  11. ..memandang baik apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al Anam : 122) #Marifatullah
  12. Siapa yang mau tau hal-hal apa saja yang dapat menghalangi #Marifatullah ? *Retweet*
  13. Pertama yaitu, KESOMBONGAN. org yg sombong tdk mau mengenal sesamanya, bgtu pula terhadap Rabbnya ,yang enggan berhubungan dengan-Nya. #Marifatullah
  14. ZALIM. menyebabkan Allah mengunci hati manusia, pdhl lwt hati inilah Allah mmberikan hidayah-Nya. sdgkn awal hidayah Allah mgnl hakikatNya. #Marifatullah
  15. "Maka mereka ditimpa oleh akibat buruk dari apa yang mereka usahakan. Dan orang-orang yang zalim di antara mereka akan.. #Marifatullah
  16. .. ditimpa akibat buruk dari usahanya dan mereka tidak dapat melepaskan diri." QS 39: 51. #Marifatullah
  17. DUSTA. Org dusta, yg tdk sm antara hati, ucapan,perbuatan'a. bgtu jg manusia yg berdusta kpd Allah. hati'a mgkui Allah tp hw nafsu mgjk dosa". #Marifatullah
  18. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia.. #Marifatullah
  19. ..dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu.. #Marifatullah
  20. ..membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka.. #Marifatullah
  21. ... ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. " QS 7:176. #Marifatullah
  22. LALAI. orang yg slalu lalai dengan segala perintah-Nya. jika ia mendengar seruan-Nya maka ia tidak langsung memenuhi panggilan-Nya. #Marifatullah
  23. QS Al Anbiya : 1. #Marifatullah
  24. Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya). #Marifatullah
  25. "Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Quran pun yang baru (di-turunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya.. #Marifatullah
  26. ..sedang mereka bermain-main,.." QS Al Anbiya : 2. #Marifatullah
  27. "(lagi) hati mereka dalam keadaan lalai. Dan mereka yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka... #Marifatullah
  28. .."Orang ini tidak lain hanyalah seorang manusia (jua) seperti kamu, maka apakah kamu menerima sihir itu padahal kamu menyaksikannya?" .. #Marifatullah
  29. QS Al Anbiya : 3. #Marifatullah
  30. Ragu-ragu-> bibit bibit kekafiran kpd Allah yg harus dibersihkan dr hati. sbb kekafiran mybbkn Allah mengunci hati, menutup mata dan telinga. #Marifatullah
  31. Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. #Marifatullah
  32. "Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka[20], dan penglihatan mereka ditutup"QS Al baqarah : 6-7 #Marifatullah
  33. naah setelah mengenal Allah kita akan merasakan sesuatu yang sangat dahsyat. Apa itu? #Marifatullah
  34. Peningkatan iman dan takwa, merasakan ketenangan, berkah hidup kita, kehidupan jauh lbh baik, ridho Allah dan syurga.. Insya Allah. #Marifatullah
  35. " Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan.. #Marifatullah
  36. ..kepadanya kehidupan yang baik[839] dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan.. #Marifatullah
  37. .. pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." QS An Nahl : 97 #Marifatullah
  38. Wallahu a'lam bishowab. Semoga kultweet malam ini bermanfaat bagi kita semua. #Marifatullah



Senin, 13 Mei 2013

SEPULUH SEBAB PENGHAPUS DOSA


Nash-nash al-Qur`an dan Sunnah telah menunjukkan bahwa hukuman dosa (siksa) dapat dihapuskan dari seorang hamba dengan sepuluh sebab berikut ini:

1. Taubat Nasuha
.

Yaitu taubat yang sebenar-benarnya taubat, maka ia (taubat nasuha) dapat meleburkan dosa sebelumnya. Dan Allah Subhanahu Wata'ala Maha menerima taubat hamba-hambaNya yang mau bertaubat kepadaNya.

Dan orang yang bertaubat dari segala dosa bagaikan orang yang tidak memiliki dosa. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman, artinya, “Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. asy-Syura: 25).

Allah Subhanahu Wata'ala juga berfirman, artinya, “Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu, sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-A’raf: 153).

2. Beristighfar.

Yaitu memohon ampunan kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Sesungguhnya Allah akan mengampuni hamba-hambaNya yang meminta ampunan (beristighfar) kepadaNya. Allah Subhanahu Wata'alaberfirman, artinya, “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. an-Nisa`: 110).

Allah Subhanahu Wata'ala juga berfirman, artinya, “Dan Tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS. al-Anfal: 33).

Begitu juga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda tentang apa yang beliau riwayatkan dari Rabbnya, artinya, “Wahai anak cucu Adam (manusia) seandainya dosa-dosamu setinggi awan di langit, lalu kamu meminta ampun kepadaKu, niscaya Aku akan mengampuni dosa-dosamu.” (HR. at-Tirmidzi, dan dia berkata, “Hadits hasan shahih.”

Allah Subhanahu Wata'ala juga berfirman dalam hadits qudsi, artinya, “Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian melakukan kesalahan (dosa) di waktu malam dan siang hari, sedangkan Aku lah yang dapat mengampuni semua dosa, maka mohon ampunlah kalian kepadaKu niscaya Aku akan mengampuni dosa kalian.” (HR. Muslim).

3. Kebaikan-kebaikan menghapuskan dosa-dosa.

Seperti shalat, shadaqah, puasa, haji, membaca al-Qur`an, berdzikir kepada Allah, berdo’a, beristighfar, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silatur rahim, dan lain-lain. AllahSubhanahu Wata'ala berfirman, artinya, “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Huud: 114).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Shalat-shalat yang lima waktu, jum’at ke jum’at, ramadhan ke ramadhan dapat meleburkan dosa diantara keduanya apabila dosa-dosa besar dijauhkan.” (HR. Muslim).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda, “Dan ikutilah perbuatan buruk/ kejahatan dengan perbuatan yang baik, niscaya dia menghapuskannya.” (HR. at-Tirmidzi dan dia menghasankannya).

Sesungguhnya satu kebaikan dilipat gandakan balasannya sampai sepuluh kali lipat, adapun keburukan akan dibalas yang serupa dengannya. Maka celakalah bagi orang yang berguguran (kalah) satu persatu dari sepuluh sebab tersebut.

4. Doa orang-orang yang beriman.

Maksudnya mereka memohon ampunan (kepada Allah, pen.) untuk orang yang beriman (lainnya) baik ketika hidup maupun setelah mati dan khususnya pada saat ketidak beradaannya (tanpa sepengetahuan orang yang didoakan, pen.) dan begitu juga doanya atas saudara-saudaranya yang telah meninggal dunia. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang tidak hadir (tanpa sepengetahuannya, pen.) adalah mustajab, di samping kepalanya terdapat malaikat, setiap dia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, malaikat yang diutus berkata, ‘Amin, dan bagimu sepertinya (seperti orang yang didoakan, pen.).” (HR. Muslim).

5. Perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan/ diniatkan untuk si mayyit .

Seperti shadaqah; puasa; haji; membebaskan budak; dan yang lainnya. Para ulama berpendapat, “Amal shalih apa pun (yang dapat mendekatkan diri kepada Allah) yang dia kerjakan dan dia peruntukkan pahalanya untuk seorang muslim baik yang masih hidup ataupun yang telah meninggal, maka hal itu bermanfaat baginya.” Dan yang lebih utama adalah mencukupkan dalam hal tersebut pada apa yang dijelaskan/ ditetapkan oleh nash-nash (al-Qur`an dan Sunnah).

6. Syafa’at Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan selainnya.

Maksudnya adalah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan selain beliau akan memberikan syafa’at kepada orang-orang yang berbuat dosa pada hari Kiamat dengan izin Allah Subhanahu Wata'alasebagaimana hal tersebut ditetapkan di dalam hadits-hadits shahih.

7. Musibah-musibah.

Dengannya lah Allah Subhanahu Wata'ala menghapuskan dosa-dosa atau kesalahan-kesalahan (yang dilakukan oleh hamba-hambaNya, pent.) di dunia sebagaimana yang telah dijelaskan dalam ash-Shahihain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam;bersabda, “Tidaklah orang yang beriman ditimpa penyakit yang terus menerus dan tidak pula rasa cemas, rasa sedih, rasa susah dan rasa sakit, sampai-sampai duri yang menusuk kecuali Allah menghapuskan dengannya dari dosa-dosa/ kesalahan-kesalahannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

8. Apa yang didapatkan oleh seorang hamba ketika di dalam kubur.

Yakni berupa fitnah, himpitan liang kubur, kengerian, maka ini semua di antara yang dapat menghapuskan dosa-dosa.

9. Rasa takut, kesusahan serta kengerian terhadap kedahsyatan hari kiamat.

10. Rahmat Allah Subhanahu Wata'ala

Sesungguhnya karena rahmat Allah Subhanahu Wata'ala, semua hamba mendapatkan maaf dan ampunanNya tanpa sebab, maka Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, sebagaimana Dia berfirman, artinya, “Dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu.” (QS. an-Nisa`: 48 dan 116).

Dan Dia lah yang Maha Penyayang kepada hamba-hambaNya melebihi sayangnya seorang ibu kepada anak-anaknya dan sungguh rahmat Allah Subhanahu Wata'ala meliputi segala sesuatu.(Abu Nabiel).

Sumber: Diterjemahkan dari kitab, “An-Nuqath al-’Asyru adz-Dzahabiyah”, karya: Syaikh Abdur Rahman bin Ali ad-Dausary.Diposting oleh : Abdurrahman Al-Maluky

http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatannur&id=599

Minggu, 17 Juni 2012

C.I.N.T.A: Cerita Indah Namun Tiada Arti, Really?



Bila kamu sedang putus cinta (dari sang pacar tentunya), maka dunia yang tadinya seindah dalam lukisan akan menjadi abu-abu tak berwarna. Cinta yang sebelumnya sangat diagungkan akan sekejap mata akan berubah menjadi objek cacian.
Dan bertebaranlah playboy-playboy cap kadal yang suka mengatakan cinta kepada wanita. Ia tahu wanita adalah makhluk yang senang dipuji dan diperhatikan (sepertinya tidak semua, semoga).
Tidak akan lagi aku mengenal cinta. Tidak akan lagi aku mau berhubungan dengan pria. Semua pria sama. Sama-sama tidak punya perasaan, selalu mempermainkan wanita.
Wuihh dahsyat sekali kata-katanya. Seakan-akan ada wonder woman baru yang bermunculan dan merasa tidak membutuhkan pria sama sekali.  Padahal di lain pihak, masih banyak wanita yang sedang menanti pangeran impiannya hadir. Padahal sejatinya wanita membutuhkan tempat bersandar. Ya, sehebat apapun wanita secara fisik.
Jadi siapa yang patut disalahkan dengan fenomena seperti itu?
Kemudian menyebarlah kepanjangan dari kata cinta yaitu cerita indah namun tiada arti. Hmmm, really?
Jika cinta itu berwujud, ia pasti akan marah besar. Menjadi kambing hitam akan kebobrokan zaman. Menjadi alasan demi terciptanya musibah besar. Menjadi pembenaran untuk sebuah kemaksiatan. Saat senang ia diingat dan diagungkan. Ketika sedih, ia menjadi korban oleh pelaku yang merasa dianiaya oleh cinta.
Padahal cinta adalah indah, selalu indah. Cinta itu suci selalu suci dan hanya hadir pada saat yang suci. Penciptanya saja Maha Indah, Maha Suci. Lalu mengapa kemudian ciptaanNya menjadi tidak suci dan tidak indah hanya karena perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab??
Kalau melihat contoh yang “gagal”, bisa saja mengatakan seperti itu. Bisa saja saya, dia, kalian atau mereka adalah contoh yang gagal. Gagal yang berarti pernah merasakan cinta yang salah. Pernah menikmati gula-gula masa pacaran yang sejatinya gula-gula itu hanya semu. Tapi lebih baik gagal untuk menuju keberhasilan dibanding gagal dengan terus menerus dan merasa bahwa apa yang dijalani itu benar (meskipun sebenarnya tidak).
Cukup merasakan setitik pahitnya empedu dan berganti manisnya madu. Berarti kita memiliki lidah yang berfungsi secara normal. Namun jika empedu itu tetap terasa nikmat di lidah meskipun berkali-kali kita meludah namun tetap saja mengecapnya, Maka siapa yang perlu disalahkan? Apakah sebuah lidah yang hanya anggota tubuh ataukah kita yang menjadi panglimanya?
Lidah ibarat sebuah cinta. Maka bukan cinta itu yang salah tapi seseorang (entah siapa). Yang pasti jika ada cerita Romeo dan Juliet yang kisah cintanya berakhir tragis atau kisah cinta seorang cerdas yang bernama Qais kepada Laila hingga ia dijuluki Majnun (tidak waras), bukanlah cinta yang patut dipersalahkan. Sekali lagi bukan. Dan selamanya bukan.
Jika menilik keindahan cerita Rasulullah Muhammad dengan ibunda Khadijah, mungkin bisa kita jadikan tauladan. Cinta yang suci (karena Allah semata). Bukan cinta berdasarkan harta. Bukan cinta yang menyebabkan seseorang berubah dari raja menjadi budak. Bukan cinta yang melenakan hingga melalaikan hati. Cinta yang diawali dengan niat hanya karena Allah. Dan selanjutnya menjadi ibadah-ibadah yang tiada ternilai oleh dunia. Meskipun kisahnya terkadang tertutupi oleh kisah cinta imaji mengenai putri salju, Cinderella dan semacamnya yang sudah bisa merasakan “cinta” tanpa ada ikatan sebelumnya. Yakinlah itu hanya cerita fiktif dan kita hidup di dunia nyata.
Dalih cinta yang begitu beragam. Cerita cinta yang bertebaran. Jika tidak benar-benar menelaah, maka akan lebih banyak pembenaran pada cinta yang salah.
Oh cinta. Kau tak berwujud namun kau adalah impian setiap insan. Karena dengan cinta semua indah (cinta tanpa nafsu). Dengan cinta semua bermakna. Dunia damai dengan cinta. Cinta mampu mengubah keterpurukan menjadi timbunan semangat. Cinta mampu membuat kelemahan menjadi kekuatan.
Jangan melelahkan diri mencari cinta. Dekati saja dulu Sang Pembuat Cinta, Sang Pemilik Cinta. Biarkan Dia menghadiahkan kita cinta yang indah. Insya Allah.
Allahua’lam.
Tak bosannya membahas tentang cinta



Mengupas Rahasia Halaqah



Halaqah, atau yang biasa disebut pengajian, usrah, liqa, or something like that, merupakan kebutuhan kader dakwah dalam memenuhi kebutuhan tarbiyahnya. Karena bagaimanapun, tarbiyah dan dakwah sudah seperti dua sisi mata uang yang saling berkelindan. Tarbiyah tanpa dakwah, sama halnya melihat tapi lumpuh. Kuat kepemahamannya, tapi lemah kebermanfaatannya. Sebaliknya, dakwah tanpa tarbiyah sama seperti berjalan namun buta. Makanya, kalau ada kader dakwah yang eksis tapi malas liqa, pasti gerak dakwahnya banyak yang ‘nabrak-nabrak’.

Untuk mencapai kesuksesan dalam tarbiyah, seorang kader dakwah mesti memahami mengapa dirinya penting mengikuti agenda pekanannya tersebut. Karena kesalahan dalam memahami liqa akan berdampak pada hasil tarbiyah yang ia raih.

Beberapa Keistimewaan Halaqah
Sebelumnya, seorang kader dakwah perlu memahami bahwa liqa bukanlah satu-satunya sarana tarbiyah. Ia hanya salah satu dari sekian banyak penopang tarbiyah, seperti mabit, mukhayyam, daurah, tatsqif, dan lainnya. Akan tetapi liqa tidak dapat disamakan dengan penunjang tarbiyah yang lain. Dalam pelaksanaannya saja sudah sepekan sekali, lebih rutin. Sementara penunjang lainnya merupakan agenda-agenda tambahan yang dilaksanakan kondisional, sesuai kebutuhan. Artinya, sudah tentu yang rutin ini mendapat prioritas dan perhatian lebih ketimbang sarana tarbiyah lainnya.

Analoginya seperti bakso. Jika di mangkuk ada bakso tapi tidak ada bihun-toge-sawi, tetap saja makanan di mangkuk itu disebut bakso. Tapi lain jadinya jika di mangkuk ada bihun-toge-sawi, tapi justru tidak ada baksonya, maka makanan di mangkuk itu tidak akan pernah disebut sebagai bakso. Karena keberadaan bihun-toge-sawi hanyalah sebagai pelengkap yang menunjang inti dari semangkuk bakso. Kalau baksonya tidak ada, rasanya keberadaan bihun-toge-sawi akan menjadi sia-sia adanya. Seperti itulah kaitan liqa yang sebagai agenda inti dengan penunjang tarbiyah lainnya.

Mungkin sebagian orang ada yang bertanya, “Mengapa harus liqa? Mengapa bukan dengan sarana yang lain saja?” Untuk mendapatkan jawaban tersebut, sekarang mari menelaah apa saja kelebihan liqa yang tidak dimiliki oleh sarana lainnya. Sudah pasti penelaahan ini dilihat dari keefektifan daya ubah yang dihasilkan dan dirasakan oleh para mad’u itu sendiri.

Pertama, liqa itu memiliki jadwal yang rutin. Pelaksanaan liqa idealnya sepekan sekali. Itu merupakan jadwal yang proporsional. Karena ketika terlalu jarang, tentu tidak baik. Jadwal yang jarang dan sering bolong tidak akan memberikan dampak perubahan yang signifikan lantaran tidak memunculkan chemistry-chemistry di antara Murabbi-Mutarabbi ataupun Mutarabbi-Mutarabbi.

Pesan dakwah yang disampaikan seorang ustadz akan sulit diterima jika tidak ada usaha untuk membangun kedekatan dengan para mad’u-nya. Untuk itu, intensitas pertemuan sepekan sekali tersebut diharapkan dapat memangkas jarak-jarak yang sebelumnya ada. Seperti kata pepatah jawa, Witing tresno jalaran soko kulino, cinta ada karena terbiasa.

Kemudian sebaliknya, kalau jadwalnya terlalu sering, misalnya dalam sepekan ada pertemuan lebih dari sekali, ini juga kurang baik. Karena dikhawatirkan munculnya kejenuhan pada diri Mutarabbi ataupun Murabbi. Bagaimanapun, mereka tetaplah manusia biasa yang tak luput dari rasa bosan. Waspadalah, karena kejenuhan itu bisa mengurangi kualitas keikhlasan pada diri seseorang! Justru adanya pertemuan sepekan sekali itu dapat melatih para anggota liqa untuk bersabar. Selain itu, waktu sepekan sekali mampu menghadirkan rasa penasaran dan rindu untuk selalu bertemu.

Kedua, liqa itu merupakan wujud “jama’ah kecil” yang bisa menjaga seseorang dari kekufuran. Seringkali ada pertanyaan, “Bagaimana caranya agar kita istiqamah?” Sebenarnya jawabannya sederhana. Selain faktor internal, yaitu menjaga kualitas keimanan pribadi, ada pula faktor eksternal yang berasal dari lingkungan. Karena bagaimanapun kondisi lingkungan sedikit banyak akan memengaruhi kondisi seseorang di dalamnya. Dan ini pun terjadi bagi aktivis dakwah yang mengisi hari-harinya dengan dakwah. Saat itu tentu dirinya sering bersinggungan dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Maka ada saja dampaknya, baik kecil ataupun besar. Bisa jadi mula-mulanya muncul rasa malas. Lalu mulai kendur semangat dakwahnya. Kemudian kalau sudah parah, bisa-bisa kemungkinan terburuk pun terjadi.

Mungkin kekhawatiran ini berlebihan, tapi biarlah. Daripada bersikap permisif yang akhirnya berakhir fatal. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati? Bukankah penyakit-penyakit mematikan juga biasanya diawali dengan gejala-gejala yang sering dianggap sepele?

Maka dari itu, keberadaan jama’ah sangatlah penting bagi seorang aktivis dakwah. Karena ketika dirinya berada pada sebuah jama’ah, maka dirinya akan diingatkan di saat ia lupa. Ia pun dikuatkan ketika ia lemah. Kala itu, keberadaan jama’ah ibarat oase di padang pasir. Ia pun layaknya pom bensin pemulih bahan bakar keimanan yang membuat langkah-langkah para aktivis dakwah semakin lesat lajunya.

Ada pula pertanyaan, “Sebetulnya faktor besar perubahan ada pada pembinaan diri sendiri. Ini kita kenal dengan istilah tarbiyah dzatiyah. Lalu buat apa liqa kalau sudah melakukan tarbiyah dzatiyah?” Ini sangat menarik. Mengingatkan konsep dasar bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa berdiri sendiri. Begitu pula dalam tarbiyah. Jika liqa, sebagai wujud tarbiyah jam’iyah, tidak diiringi dengan tarbiyah dzatiyah, maka yang terjadi adalah seperti mobil mogok yang didorong orang banyak. Sulit bergerak karena dari mobilnya sendiri tidak ada bahan bakar (baca: motivasi kesadaran) untuk bergerak. Pun demikian, mobil itu akan tetap bergerak, meski progresnya sedikit dan menghabiskan banyak tenaga tentunya.

Lalu apa yang terjadi saat menjalankan tarbiyah dzatiyah tanpa dibarengi tarbiyah jam’iyah? Seperti panah yang melesat tanpa arah lantaran memang tidak ada yang mengarahkan. Hasilnya adalah meleset dari tujuan yang seharusnya. Bagaimanapun tidak ada orang yang mampu menilai dan mengevaluasi dirinya sendiri. Seorang murid di sekolah pun memerlukan seorang guru untuk menilai kemampuannya. Seorang presiden pun memerlukan rakyat sebagai penilai kesuksesan pemerintahannya. Inilah bukti bahwa setiap itu memerlukan orang lain.

Kalaupun ada orang yang bisa menilai dirinya sendiri, rasanya terlalu naif dan sangat subjektif. Apakah dirinya dapat menjamin kemurnian dari penilaian itu? Ataukah penilaian itu lebih sekadar corak kesombongan dan keegoisan belaka? Perlu diketahui, bahwa output tarbiyah tidaklah melahirkan kesombongan maupun keegoisan. Manakala dua sifat itu muncul pada diri seseorang, maka bisa dikatakan ada yang tidak beres dengan proses tarbiyahnya. Maka dari itu, dalam pelaksanaan tarbiyah, seorang kader dakwah perlu ada seseorang (Murabbi) sebagai pendamping yang nantinya akan mengevaluasi dan melakukan proses pengarahan sesuai dengan marhalah (tingkatan) tarbiyah dirinya.

Ketiga, liqa merupakan proses dakwah-tarbiyah yang menerapkan sistem komunikasi antar pibadi. Inilah yang menjadi indikator mengapa liqa lebih menghasilkan perubahan positif yang signifikan, terukur, dan terarah daripada taklim-taklim pada umumnya. Jika pada taklim seorang ustadz harus berhadapan dengan puluhan, atau bahkan ratusan orang, maka yang terjadi saat itu adalah komunikasi yang bersifat satu arah. Para mad’u tidak leluasa bertanya dan ustadz pun tidak mungkin menjawab seluruh pertanyaan atau memenuhi seluruh kebutuhan para mad’u-nya, apalagi memantau perubahan mereka atas hasil ceramah dirinya.

Sementara itu, liqa terdiri dari beberapa orang (umumnya maksimal 10) saja yang membentuk sebuah kelompok kecil. Dalam kelompok tersebut, seorang ustadz lebih memiliki kesempatan untuk melakukan komunikasi dua arah kepada para mad’u. Hal ini terlihat dari adanya feedback dari mereka, seperti berupa pertanyaan, sanggahan, ataupun cerita-cerita lainnya. Jelas ini berdampak positif. Sang ustadz akan mudah membangun kedekatan dengan mereka. Lalu sang ustadz pun akan lebih mudah memahami karakter mad’u-nya satu persatu, hingga kemudian dirinya mampu menentukan cara yang tepat untuk mendakwahi mereka. Selain itu, kecilnya jumlah mad’u memudahkan ustadz untuk memantau keberhasilan mereka dalam memahami dan menjalankan pesan-pesan yang telah disampaikannya.

Keempat, liqa memiliki sistem kurikulum madah (materi) yang runut dan sistematis. Berbeda halnya dengan sarana lainnya yang lebih bersifat general. Liqa sudah seperti sekolah yang menyediakan asupan-asupan “gizi” sesuai dengan tingkatan kepemahaman para mad’u. Tidak mungkin jika anak SD dikasih soal anak SMP. Karena pasti anak itu bingung. Begitu pula anak SMP, tidak mungkin diberi soal anak SD. Karena itu tidak memberi perkembangan apa-apa kepadanya.

Adanya kurikulum materi yang runut dan sistematis memberikan pengertian bahwa dakwah-tarbiyah ini memiliki tujuan dan arah yang jelas. Bayangkan, apa jadinya jika dakwah ini dilakukan asal-asalan dan tidak terstruktur dengan baik? Sudah tentu produk yang dihasilkan juga tidak baik. Materi dalam liqa dibuat sedemikian rupa agar dapat dipahami dengan baik oleh para mad’u, sehingga mereka memahami Islam ini sebagai kesatuan sistem utuh dan menyeluruh.

Layaknya membangun rumah yang kokoh, tentu diawali dengan membuat pondasi, dinding, dan atapnya. Oleh sebab itu, dalam dakwah-tarbiyah pertama kali yang perlu dibangun adalah kekokohan aqidah. Karena aqidah adalah pondasi bagi setiap muslim. Baru setelahnya membangun sisi-sisi yang lain. Contoh, tidaklah mungkin seorang mad’u diberi materi keutamaan sedekah jika sebelumnya tidak dijelaskan tentang materi sabar dan syukur. Tidak pula mereka dikasih materi yang besar jika tidak diawali dengan materi yang kecil dan pokok. Lihat saja kasus-kasus terorisme yang pernah ada. Mereka mengamalkan jihad, tetapi tidak didasari oleh pemikiran yang sebagaimana mestinya. Alhasil, banyak hal yang disayangkan selepas peristiwa teror itu terjadi. Niat dan semangat mereka bagus, hanya saja pelaksanaannya yang kurang tepat.

Ruhiyah, Inti Sel Halaqah
Sekali lagi ada pertanyaan menarik, “Apa sebenarnya yang membuat liqa ini berkesan, sehingga banyak kader dakwah yang menekuninya hingga sekarang?”

Spirit liqa bukanlah terletak pada apa yang terdapat pada baramij-nya (susunan acara), seperti tilawah, tadabur ayat al-Qur’an, kultum, muraja’ah hapalan, materi, diskusi, qadhayah, dan do’a. Semua itu memang dibutuhkan kader dakwah guna menunjang perkembangan dirinya. Namun sekali lagi, keberadaan baramij itu sendiri sebetulnya adalah kondisional, bukan suatu hal yang saklek atau tidak dapat diubah. Semua itu disusun sesuai kebutuhan.

Terlebih, poin-poin pada baramij liqa itu sebetulnya masih bisa didapatkan di luar liqa setiap harinya! Do’a, tilawah, tadabur, dan muraja’ah al-Qur’an, adalah kegiatan yang tidak sepatutnya ditinggalkan kader dakwah setiap harinya. Diskusi, materi, maupun kultum masih bisa didapatkan dengan cara banyak membaca buku atau menghadiri forum-forum diskusi. Qodoyah pun bisa ditanggulangi dengan cara lain, seperti menulis unek-unek atau curhat pada teman.

Itu sebabnya semangat liqa bukanlah terletak pada baramij, melainkan pada kesadaran untuk TRANSFER RUHIYAH yang ada pada diri setiap anggota liqa. Di sinilah terjadi pertukaran dan penyulutan semangat antara satu anggota dengan anggota lain dalam liqa.

Di kala ada seorang anggota yang turun semangatnya, ketika datang liqa, dirinya bertemu dengan Murabbi dan para sahabat yang menerimanya dengan tulus dan penuh energi. Entah energi apa itu. Yang jelas energi itu dapat kembali mengisi pundi-pundi hati yang semula kosong atau tidak penuh menjadi full terisi. Ada ‘sesuatu’ yang bisa didapatkan. Rasanya nikmat dan menghantarkan semangat untuk menjalani hari-hari sepekan ke depan.

Terkadang energi itu dapat dirasakan lewat senyuman, sentuhan, jabatan tangan, pelukan, atau bahkan teduhnya wajah dan tatapan mereka. Energi misterius itulah yang membuat setiap pertemuan liqa selalu memberikan kesan tersendiri, meskipun baramij di setiap pekannya sama saja. Karena sebanyak apa pun baramij tersebut, ketika tidak berusaha menghadirkan energi ruhiyah, maka liqa yang berjalan pun akan terasa hambar, tidak membekas, dan melelahkan.

Mari dedah lebih dalam. Dakwah-tarbiyah ini merupakan permainan hati. Kalau begitu, sudah pasti keberhasilannya ditentukan oleh yang Maha Menguasai Hati, bukan? Untuk dapat memenangkan permainan hati ini, sudah tentu para pelakunya perlu menyertakan hati seutuhnya untuk yang Maha Menguasai Hati. Karena hanya yang Maha Menguasai Hatilah yang mampu memenangkan hati setiap orang.

Untuk itu, agar liqa menjadi berkah, perlu kiranya setiap anggota di dalamnya (khususnya Murabbi) menjaga kondisi ruhiyahnya. Seorang Murabbi ibarat nahkoda kapal yang semestinya meyakinkan dan menguatkan para awaknya kala menghadapi badai-badai kehidupan. Jika nahkodanya sudah panik atau goyah, lantas bagaimana kapal itu akan tetap selamat berlayar? Pun begitu, para Mutarabbi pun perlu menjaga kondisi ruhiyah mereka. Karena untuk menjalankan kapal tersebut, kelihaian seorang nahkoda tak cukup berarti jika para awaknya pesakitan dan lemah semangatnya.

Allahu a’lam…


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/04/19779/mengupas-rahasia-halaqah/#ixzz1y28yI1Qt