Sabtu, 26 April 2014

DIKALA MASALAH MENGHIMPIT DADA


Mereka yang berorientasikan selain Allah, bertujuan selain Allah, mengutamakan dunia daripada akhirat, bertuhankan selain Allah, maka hatinya bertumpuk banyak ambisi kepentingan, ia pasti sangat bingung dan serba salah. Bandingkan dengan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang majikan saja. Hidupnya pasti lebih mudah, karena ia hanya melayani satu tuan, tidak dibingungkan oleh perintah aneka majikan yang seringkali saling bertentangan.

Seberapa lapang hati seseorang berhubungan erat dengan seberapa kuat, sempurna, dan pertambahan
keyakinan tauhidnya. Allah berfirman,

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (Qs. Al-An'am: 125)

Menuju Allah dan sempurna didalam Agama Islam yang mengatur seluruh asppek kehidupan yang merupakan Aturan-Nya hanya dapat dicapai dengan ilmu, Tepatnya, ilmu yang diwarisi dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bukan sembarang ilmu.

Dengannya, hati terasa sangat lapang bahkan lebih lapang dari dunia ini. Warisan kenabianlah yang membuatnya memiliki kesabaran berlipat, akhlak termulia, serta kehidupan paling tenteram. Ulama besar terdahulu Al-Hasan al-Bashri berkata :

Dulu, bila seseorang telah mencari ilmu, maka tidak lama kemudian akan terlihat pengaruhnya pada tatapan matanya, kekhusyuannya, lisannya, tangannya, shalatnya, dan kezuhudannya. Beliau juga berkata, Jika seseorang telah memperoleh satu bab dari ilmu, lalu ia mengamalkannya, maka jadilah ilmu itu lebih baik baginya dibanding dunia seisinya, andai ia memiliki dunia itu lalu ia menjadikannya untuk kepentingan akhirat. (Riwayat Darimi, keduanya dengan sanad shahih)

Dengan akhirat kehidupan dunia terasa lapang, hal ini berbeda bagi yang menginginkan dunia sebagai tujuan, merasakannya sebagai syurga, jelas tidak pada tempatnya, hatinya dilanda kekikiran, takut miskin, ayat-ayat Allah tidak akan digubrisnya karena dianggap tidak mendatangkan kebahagiaan kesenangan dunia.

Sifat duniawi yang kadang hidup diatas lalu suatu akan berganti masa saat ia berada dibawah, pergantian suasana dimana manusia kadang susah, kadang senang tidak difahaminya sama sekali, jadilah ia orang stress, depresi, salah arah dalam niatan hati maka akhirnya ia akan sangat mudah menganggap buruk segala ketentuan Allah SWT.


sumber: https://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

0 Komen:

Posting Komentar

Gunakan kata-kata yang sopan ya...